SIMULASI SISTEM BINER (ETHANOL-AIR) PADA DISTILASI BATCH, PRODUKSI BIOETHANOL DARI RUMPUT GAJAH

SIMULASI SISTEM BINER (ETHANOL-AIR) PADA DISTILASI BATCH, PRODUKSI BIOETHANOL DARI RUMPUT GAJAH

 

Ni Ketut Sari

Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur, Jalan Raya Rungkut Madya Gunung Anyar Surabaya, Telpon 031-8782179, Fax 031-8782257


Abstrak

Kadar ethanol yang diperoleh dari kajian produksi bioethanol dari rumput gajah antara 23-28 %, untuk meningkatkan kemurnian kadar ethanol dilakukan pemisahan menggunakan distilasi batch. Hasil simulasi yang diperoleh dibandingkan dengan hasil eksperimen yang telah dilakukan, kemudian divalidasi dengan hasil yang ada di pustaka dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh kadar ethanol yang tinggi, baik secara eksperimen maupun simulasi.

Dalam penelitian simulasi sistem biner (ethanol-air) pada distilasi batch, produksi bioethanol dari rumput gajah dilakukan pada kondisi tetap : volume filtrat (hasil proses fermentasi)  500 ml, suhu proses distilasi batch dijaga 78 oC, volume bottom 1/10 volume filtrat. Untuk kondisi berubah: konsentrasi filtrat 0,2 ; 0,4 ; 0,6 ; 0,8 ; 1 (v/v). Model yang digunakan dalam proses distilasi batch adalah Differential Algebraic Equations (DAEs), untuk distilasi batch sederhana sistem biner dengan asumsi larutan tidak membentuk dua phase liquida dan tercampur secara sempurna. Kesetimbangan uap-cair dihitung menggunakan pendekatan UNIQUAC. Bahasa pemrograman yang digunakan dalam simulasi adalah bahasa Matlab versi 6.1 dan verifikasi menggunakan hasil eksperimen menggunakan kolom distilasi batch.

Dari penelitian simulasi sistem biner (ethanol-air) pada distilasi batch, produksi bioethanol dari rumput gajah diperoleh hasil berupa profil suhu, profil komposisi uap dan profil komposisi liquida fungsi waktu antara hasil simulasi dan eksperimen. Dari hasil simulasi dan eksperimen yang diperoleh yaitu kadar ethanol (90–96)%, rumput gajah dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif pembuatan bioethanol. Namun untuk standar bioethanol yaitu kadar ethanol diatas 98%, perlu dilakukan proses lebih lanjut untuk memenuhi standar bioethanol. 

Kata kunci: bioethanol, simulasi, sistem biner, rumput gajah.

 

I. PENDAHULUAN

Indonesia mempunyai iklim yang mempermudah tumbuhnya rumput gajah, sehingga ketersediaan rumput gajah dapat secara kontinyu melimpah. Rumput gajah merupakan salah satu tanaman yang kurang dimanfaatkan. Dewasa ini rumput hanya digunakan sebagai makanan ternak, terkadang rumput gajah juga dianggap sebagai tanaman pengganggu. Tetapi rumput gajah mempunyai kadar selulosa yang dapat digunakan sebagai salah satu bahan penghasil ethanol.

Ethanol atau ethyl alcohol kadang disebut juga ethanol spiritus. Ethanol digunakan dalam beragam industri seperti campuran untuk minuman keras seperti sake atau gin, bahan baku farmasi dan kosmetika, dan campuran bahan bakar kendaraan, peningkat oktan, bensin ethanol (gasohol) dan sebagai sumber oksigen untuk pembakaran yang lebih bersih pengganti (methyl tertiary-butyl ether/MTBE). Karena ethanol mengandung 35 persen oksigen, dapat  meningkatkan efisiensi pembakaran. Ethanol juga ramah lingkungan karena emisi gas buangnya rendah kadar karbon monoksidanya, nitrogen oksida, dan gas-gas rumah kaca yang menjadi polutan serta mudah terurai dan aman karena tidak mencemari lingkungan. Sampai saat ini konsumsi ethanol dunia sekitar 63 persen untuk bahan bakar, terutama di Brazil, Amerika Utara, Kanada, Uni Eropa, dan Australia. Di Asia, Jepang dan Korea Selatan adalah konsumsi terbesar ethanol adalah untuk minuman keras. Rumput gajah selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dan dapat mengganggu lingkungan apabila dibiarkan begitu saja. Indonesia memiliki beberapa tempat penghasil rumput gajah seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat dan Jawa Timur serta akan dikembangkannya dibeberapa daerah lainnya, dengan potensi tersebut dipastikan sumber bahan baku pembuatan ethanol akan tersedia dalam jumlah yang cukup besar.

Pada awalnya distilasi batch digunakan untuk memisahkan campuran biner yaitu campuran HCl-H2O, H2SO4-H2O, NH3-H2O. Adapun asumsi yang digunakan adalah liquida tercampur sempurna pada still-pot, kondensasi menggunakan total kondensor dan relative volatility (α) dianggap konstan, diteliti oleh Rayleigh (1902) dan kemudian ditulis dalam buku panduan  Prinsip Proses Pemisahan oleh  Henley dan Seader (1998). Dalam industri kimia, proses fermentasi adalah salah satu cara untuk mendapatkan senyawa kimia dengan bantuan mikroorganisme, selanjutnya produk fermentasi masuk pada tahap pemisahan. Pada tahap ini sangat penting untuk menghasilkan produk dengan kemurnian tertentu, salah satu peralatan yang umum digunakan pada proses pemisahan adalah kolom distilasi batch.  Proses pemisahan dalam industri umumnya pemisahan multikomponen dan jarang pemisahan biner, oleh karena itu sangat penting untuk meninjau distilasi batch multikomponen. Desain distilasi batch multi komponen umumnya diperoleh dengan melakukan simulasi, agar diperoleh hasil simulasi yang mendekati dengan keadaan sebenarnya maka dibutuhkan data thermodinamika yang akurat (Sari, 2007). Dalam skala laboratorium dikembangkan distilasi batch untuk sistem biner, dari kajian produksi bioethanol dari rumput gajah diperoleh kadar ethanol antara 23-28 %, yang diperoleh dari tahapan proses hidrolisis asam dan proses fermentasi (Sari, 2009).

Dalam proses pemisahan, data thermodinamika yang paling dominan berpengaruh pada kinerja proses adalah kesetimbangan fase. Salah satu korelasi thermodinamika moderen dalam mempersentasikan kelakuan campuran tidak ideal adalah persamaan UNIQUAC, perkiraan kesetimbangan sistem terner dan kuarterner dapat dilakukan hanya berdasarkan data percobaan sistem biner. Model-model aktifitas koefisien dengan  persamaan UNIQUAC dikembangkan dari campuran biner, dan mempunyai keuntungan untuk aplikasi pada campuran sistem multi komponen karena hanya membutuhkan parameter biner (tidak membutuhkan parameter tambahan). Tetapi kerugian model tersebut tidak selalu berhasil dalam memperkirakan kesetimbangan sistem multi komponen yang menunjukkan campuran yang sangat tidak ideal lebih-lebih untuk campuran yang mempunyai pasangan dengan kelarutan terbatas seperti butanol-air. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pengukuran data kesetimbangan sistem biner secara akurat dan model estimasi parameter-parameter dari model koefisien aktifitas sehingga parameter-parameter tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kesetimbangan uap-cair sistem multi komponen secara akurat (Renanto,1997).

Dari peneliti terdahulu yang telah melakukan penelitian tentang eksperimental dan simulasi distilasi batch, maka dalam penelitian ini akan dilakukan eksperimental dan simulasi distilasi batch langsung dari produk bioethanol dari rumput gajah, dimana kadar ethanol yang diperoleh antara 23-28 %, untuk meningkatkan kemurnian kadar ethanol dilakukan pemisahan menggunakan eksperimental dan simulasi distilasi batch.

 

II. TEORI DASAR

a. Kualitas Rumput Gajah

Rumput gajah dikenal dengan nama ilmiah : Pennisetum Purpureum Schumach. Nama daerahnya : Elephant grass, napier grass (Inggris), Herbe d’elephant, fausse canne a sucre (Prancis), Rumput Gajah (Indonesia, Malaysia), Buntot-pusa (Tagalog, Filipina), Handalawi (Bokil), Lagoli (Bagobo), Ya-nepia (Thailand), Co’ duoi voi (Vietnam), Pasto Elefante (Spanyol). Rumput gajah berasal dari Afrika tropika, kemudian menyebar dan diperkenalkan ke daerah-daerah tropika didunia. Dikembangkan terus-menerus dengan berbagai silangan sehingga menghasilkan banyak kultivar, terutama di Amerika, Philipina dan India. Rumput gajah merupakan keluarga rumput-rumputan (graminae) yang telah dikenal manfaatnya sebagai pakan ternak pemamah biak (ruminansia) yang alamiah di Asia Tenggara.

Rumput gajah secara umum merupakan tanaman tahunan yang berdiri tegak, berakar dalam, tinggi rimpang yang pendek.Tinggi batang dapat mencapai 2-4 meter (bahkan mencapai 6-7 meter), dengan diameter batang dapat mencapai lebih dari 3 cm dan terdiri sampai 20 ruas/buku. Tumbuh membentuk rumpun dengan lebar rumpun hingga 1 meter. Pelepah daun gundul hingga berbulu pendek, helai daun bergaris dengan dasar yang lebar, ujungnya runcing.

Kandungan nutrien setiap ton bahan kering adalah : N : 10-30 kg  ;  P : 2-3 kg  ;  K : 30  kg;  Ca : 3-6 kg  ;  Mg dan S : 2-3 kg. Kandungan lain dari rumput gajah adalah : protein kasar 5,2 % dan serat kasar 40,85%

Selulosa adalah polimer β-glukosa dengan ikatan β-1, 4 diantara satuan glukosanya. Selulosa berfungsi sebagai bahan struktur dalam jaringan tumbuhan dalam bentuk campuran polimer homolog dan biasanya disertai polosakarida lain dan lignin dalam jumlah yang beragam. Molekul selulosa memanjang dan kaku, meskipun dalam larutan. Gugus hidroksil yang menonjol dari rantai dapat membentuk ikatan hidrogen dengan mudah, mengakibatkan kekristalan dalam batas tertentu. Derajat kekristalan yang tinggi menyebabkan modulus kekenyalan sangat meningkat dan daya regang serat selulosa menjadi lebih besar dan mengakibatkan makanan yang mengangung selulosa lebih liat (John,1997).

Selulosa yang merupakan polisakarida terbanyak di bumi dapat diubah menjadi glukosa dengan cara hidrolisis asam (Groggins,1985).

 

Gambar 2.1. Rumus Bangun Selulosa

 

b. Tinjauan Thermodinamika

Kesetimbangan uap-cair berhubungan dengan sistem dimana phase cair berada dalam kesetimbangan dengan phase uapnya. Untuk menentukan derajat kebebasan digunakan persamaan kaidah (Smith dkk., 1996). Pada tekanan rendah, fase uap mendekati gas ideal, sehingga harga φi = φisat = 1, sehingga faktor poynting dapat pula dianggap sama dengan satu, pengambilan asumsi bahwa φi  sama dengan 1 menimbulkan kesalahan yang kecil untuk kesetimbangan uap liquid tekanan rendah,

Menurut Rayleigh (1902), distilasi diferensial biasanya dilakukan secara batch dalam bejana distilasi, uap yang terbentuk segera diembunkan dan distilat yang terjadi dipisahkan dari liquida yang tertinggal dalam bejana (residu). Karena uap akan lebih banyak mengandung komponen yang lebih volatile maka kadar residu yang lebih volatile makin lama makin kecil, dapat persamaan sebagai berikut :

Vm  =  –  d/dt  (W . xW)

Vm  =  –  W . dxW /dt  – xW . dW/dt

Vm    =   D . yD

Pengurangan  kecepatan aliran dalam still-pot  =  kecepatan aliran keluar

W . dxW /dt  +  xW . dW/dt   =  –  D . yD

Dalam pemisahan sistem terner, diasumsikan bahwa liquida bercampur sempurna dimana xw = xi  dan  yD = yi, maka (Henley dan Seader, 1998):

Dengan kondisi awal : x = x0 dan W = W0, kemudian diintegralkan menjadi:

 

Didefinisikan dimensionless waktu (x) adalah sebagai berikut:

Dimana,  x = bilangan tak berdimensi yang tergantung pada waktu, disubstitusi sehingga diperoleh Persamaan:

(1)

Persamaan (1) merupakan Model Differential-Algebraic-Equations (DAEs) untuk distilasi batch sederhana sistem terner, dengan asumsi tidak membentuk dua phase liquida.

Persamaan (1) telah ditulis oleh Doherty dan Perkins (1978) sebagai berikut:

Dengan forward-finite-difference, dari Persamaan (1) akan diperoleh komposisi liquida di bottom (xi,j+1) sebagai fungsi Dx, sehingga didapat Persamaan (2) sebagai berikut :

dxi = (yi – xi) dx

Dxi = (yi – xi) Dx                                                         (2)

xi,j+1 = xi,j + (yi,j – xi,j) Dx

Dimana komposisi liquida mula-mula di bottom (xi,j) dan Dx ditentukan, sedangkan  komposisi uap (yi,j) dihitung menggunakan Persamaan BUBL T (Prausnitz, 2001).

 

III. METHODE

Simulasi sistem biner yang diteliti menggunakan metoda rigorous dengan model DAEs, dimana penyelesaian modelnya menggunakan persamaan numerik yaitu metoda Euler dengan menggunakan bahasa MatLab versi 6.1, adapun beberapa hal yang berbeda adalah sebagai berikut: komposisi umpan, parameter Antoine, parameter UNIQUAC.

Profil simulasi sistem biner yang diteliti dalam penelitian adalah :

  1. Profil temperatur terhadap dimensionless waktu
  2. Profil komposisi liquida di bottom terhadap dimensionless waktu
  3. Profil komposisi uap di bottom terhadap dimensionless waktu

Untuk menghitung koefisien aktivitas (γ) menggunakan  persamaan UNIQUAC, dimana harga parameter interaksi biner UNIQUAC (uij), data volume molekuler (r) dan luas permukaan molekuler (q) seperti Tabel 3.3, diasumsi harga z = 10.

 

 

 

Tabel 3.1  Parameter UNIQUAC sistem biner etanol-air

Komponen

r

q

Etanol

2,1054

1,972

Air

0,92

1,4

Sumber: Prausnitz, 2001

Dimana : Etanol (1) dan Air (2)

u11 = 0   ;  u12 = 50,8846   ;  u21 = 232,0091  ;  u22 = 0

Untuk menghitung tekanan uap jenuh digunakan persamaan Antoine, data parameter Antoine seperti Tabel 3.2, dimana suhu (T) dalam satuan K dan tekanan uap jenuh (Psat) dalam satuan  Bar.

Tabel 3.2  Parameter Antoine sistem biner etanol-air

 

Parameter Antoine

Komponen

A

B

C

Etanol

228,06

182,739

230,918

Air

5,11564

1687,537

230,17

Sumber: Prausnitz, 2001

Gambar 3.2. Flow chart distilasi batch sederhana dengan Metoda Euler

Komposisi umpan yang digunakan dipilih beberapa data untuk memperoleh profil yang diteliti,

Tabel 3.3  Komposisi umpan sistem biner etanol-air

  Komposisi Umpan (fraksi mol)

Run

Etanol

Air

1

1,0

0,0

2

0,8

0,2

3

0,6

0,4

4

0,4

0,6

5

0,2

0,8

6

0,0

1,0

IV. HASIL PENELITIAN

Profil temperatur di bottom menunjukkan hasil yang mendekati dengan temperatur di distilat, karena proses distilasi batch sederhana beroperasi dalam kondisi total refluks. Oleh karena itu profil temperatur hasil simulasi seperti Gambar 4.1 merupakan jumlah temperatur komponen-i setelah dilakukan normalisasi dikalikan komposisi liquida di bottom komponen-i. Dari Gambar 4.1 menunjukkan profil temperatur etanol-air untuk Run-1 sampai Run-6 secara keseluruhan naik terhadap dimensionless waktu. Hal ini disebabkan karena komponen yang diuapkan dengan porsi yang lebih besar adalah komponen etanol, sehingga dibutuhkan temperatur yang lebih besar untuk menguapkan komponen air yang belum diuapkan.

 

Gambar 4.1 Profil temperatur sistem biner etanol-air untuk Run-1 sampai Run-6

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.2 Profil koefisien aktifitas sistem biner etanol-air

 

Untuk daerah 1 koefisien aktifitas air menunjukkan profil menurun dan koefisien aktifitas etanol naik sehingga tidak berpengaruh terhadap profil temperatur. Gambar 4.2 menunjukkan bahwa semakin besar komposisi air pada umpan masuk maka pengaruh koefisien aktifitas etanol maksimum pada saat dimensionless waktu menunjukkan 1,75 ; setelah itu profil menurun pada akhirnya konstan. Semakin besar komposisi air pada umpan masuk menunjukkan slope penurunan temperatur lebih curam, karena komposisi air pada umpan masuk sangat mempengaruhi temperatur campuran etanol-air, makin besar komposisi air pada umpan masuk temperatur campuran makin tinggi.

Untuk daerah 2 profil temperatur naik untuk semua run, semakin besar komposisi etanol pada umpan masuk menunjukkan slope kenaikan temperatur yang lebih landai. Hal ini disebabkan karena komposisi etanol pada umpan masuk sangat mempengaruhi temperatur campuran etanol-air, makin besar komposisi etanol pada umpan masuk temperatur campuran makin kecil.

Untuk daerah 3 profil temperatur naik dan sebagian  konstan, untuk profil temperatur naik berarti dalam pemisahan campuran etanol-air masih ada etanol yang belum teruapkan, sedangkan untuk profil komposisi konstan berarti sudah semua etanol teruapkan. Makin besar komposisi air pada umpan masuk maka temperatur campuran makin besar dan profil temperatur lebih cepat konstan. Untuk daerah dimensionless waktu 3,5 profil temperatur belum konstan, sehingga dibutuhkan dimensionless waktu yang lebih besar untuk memperoleh profil temperatur yang konstan. Jika distilasi batch sederhana diteruskan sampai dimensionless waktu yang sangat besar, maka akan diperoleh nilai komposisi masing-masing campuran negatif, hal seperti ini tidak dikehendaki.

Profil Komposisi Liquida di Bottom Sistem Biner Etanol-Air

Dari Gambar 4.3 menunjukkan profil komposisi liquida di bottom, komposisi etanol menunjukkan profil komposisi menurun dari komposisi awal dan komposisi air menunjukkan profil naik dari komposisi awal. Karena komponen etanol merupakan komponen volatile sedangkan komponen air merupakan komponen non-volatile, pada saat proses distilasi batch sederhana komponen etanol dalam porsi yang lebih besar diuapkan dan sisanya adalah komponen air. Komponen air belum mendekati murni dengan dimensionless waktu 3,5 ; salah satu cara untuk memperoleh komponen air lebih murni dari komposisi awal yaitu dengan memperbesar komposisi air pada umpan masuk.

 

Gambar 4.3. Profil komposisi liquida di bottom sistem biner etanol-air .

Dari Gambar 4.4 menunjukkan profil komposisi uap di bottom, pada keadaan total refluk untuk menghitung komposisi etanol dan komposisi air di bottom maka temperatur awal ditentukan sama dengan 25 0C dan komposisi etanol dan komposisi air pada saat awal ditentukan, kemudian dihitung berdasarkan BUBL T. Pada saat total refluks komposisi etanol dan komposisi air di distilat tidak sama dengan komposisi etanol dan komposisi air saat awal. Untuk komposisi etanol di bottom lebih besar dari komposisi etanol awal, karena komponen etanol merupakan komponen volatile sehingga lebih banyak menguap. Untuk komposisi air di bottom lebih kecil dari komposisi etanol awal, karena komponen etanol merupakan komponen nonvolatile sehingga lebih sedikit menguap.

Profil komposisi uap di bottom setelah total refluk untuk komposisi etanol terus menurun, sedangkan komposisi air terus naik. Hal ini disebakan karena komponen volatile diuapkan dalam porsi yang lebih besar dan sisanya adalah komponen non-volatile, setelah proses distilasi batch sederhana berlangsung maka komponen non-volatile yang diuapkan dalam porsi yang lebih besar. Komponen etanol belum menguap semua pada saat dimensionless waktu 3,5 ; salah satu cara untuk memperoleh komponen etanol di distilat dengan dimensionless waktu yang lebih kecil yaitu dengan memperbesar komposisi air pada umpan masuk.

Dari Gambar 4.4 menunjukkan profil komposisi uap di bottom semakin kecil komposisi etanol pada umpan masuk maka semakin besar komposisi etanol pada saat total refluks, hal ini disebabkan temperatur campuran tinggi sehingga komponen non-volatile lebih banyak menguap. Profil komposisi uap di bottom setelah total refluk untuk komposisi etanol terus menurun, sedangkan komposisi air terus naik. Hal ini disebakan karena komponen volatile diuapkan dalam porsi yang lebih besar dan sisanya adalah komponen non-volatile, setelah proses distilasi batch berlangsung maka komponen non-volatile yang diuapkan dalam porsi yang lebih besar. Komponen etanol semua teruapkan pada saat dimensionless waktu menunjukkan nilai 2,25 ; Run-7 membutuhkan dimensionless waktu yang lebih kecil untuk memperoleh komponen etanol yang lebih murni dari komponen etanol awal

 

Gambar 4.4. Profil komposisi uap di bottom sistem  biner etanol-air Run-1

Hasil verifikasi antara hasil simulasi dengan hasil eksperimen distilasi batch,

 

Gambar 4.5.  Profil komposisi liquida di bottom sistem biner etanol-air untuk hasil eksperimen dan simulasi.

Dilihat dari profil komposisi liquida di bottom menunjukkan antara hasil eksperimen dan simulasi menunjukkan profil yang mendekati sama.

V. KESIMPULAN

  1. Profil temperatur ABE secara keseluruhan naik terhadap dimensionless waktu, kecuali pada awal proses menunjukkan profil temperatur menurun, disebabkan karena sifat karakteristik campuran.

2. Profil komposisi liquida etanol di bottom seteleh proses berlangsung menunjukkan komposisi etanol minimum, setelah proses selesai profil komposisi konstan

3.  Profil komposisi uap etanol di bottom seteleh proses berlangsung menunjukkan komposisi etanol maksimum, setelah proses selesai profil komposisi konstan.

4.  Profil komposisi liquida di bottom menunjukkan antara hasil eksperimen dan simulasi menunjukkan profil yang mendekati sama

 

Ucapan Terima Kasih

Kepada Direktorat Jenderal Pedidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (DP2M Ditjen Dikti) dalam Hibah Bersaing 2009, yang telah mendanai penelitian ini.

 

VI. DAFTAR PUSTAKA

[1]  Buckle, KA, (1985), ”Ilmu Pangan”, Universitas

Indonesia, Jakarta.

[2]  Dwijoseputro, (1982), ”Dasar–Dasar          

       Mikrobiologi”, Djambatan, Malang.

[3]  Fenger D., (1985), ”KAYU (Kimia Ultrastruktur

       Reaksi-Reaksi)”,  UGM  Press  Yogyakarta.

[4]   Fiesser dan Fisser, (1963), ”Pengantar Kimia

      Organik”, Dhiwantara, Bandung.

[5]   Ilroy R. J., (1990), ”Pengantar Budidaya Padang Rumput Tropika”.

[6]   Judoamidjojo, Mulyono, (1992), ”Teknologi Fermentasi”, Rajawali Press Jakarta

[7]   Kirk Othmer, ”Encyclopedya of Chemical Technology”, Vol. 8, John Wileys nd Sons. Inc.

[8]   Sardjoko, (1991), “Bioteknologi”,  Gramedia, Jakarta.

[9]    Soebijanto T., (1986), “HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya”, Gramedia Jakarta.

[10]  Sari N. K., Kuswandi, Nonot S., Renanto Handogo, (2006), “Komparasi Peta Kurva Residu  Sistem Terner ABE Dengan   Metanol-Etanol-1-Propanol”, Jurnal REAKTOR, Jurusan Teknik Kimia UNDIP  Semarang, Vol. 13, No. 2.

[11]  Sari N. K., Kuswandi, Nonot S., Renanto Handogo, (2007), “Pemisahan Sistem Biner Etanol-Air Dan Sistem Terner ABE Dengan Distilasi Batch Sederhana”, Jurnal INDUSTRI Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Fakultas Teknik Industri ITS Surabaya, Vol. 6, No.5.

[12]  Handogo, R., dan G. Wibawa, (1997), “Experiments and Correlations of Vapor-Liquid Equilibria of Acetone-1-Butanol-Ethanol Ternary Mixture”, International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion, Yogyakarta, Indonesia, hal. 587-592.

[13]  Henley, E. J. dan J. D. Seader (1998), “Separation Process Principles”, hal. 586-712, John Wiley & Sons, Inc.,New York.

[14]  Prausnitz, J. M., (2001), “The Properties of Gases and Liquids”, ed. 5, hal. A.50 – A. 51, Mc.Graw-Hill,New York.

[15]  Rayleigh, L., (1902), Phil. Mag. [vi.], No. 4 (23), hal. 521.

[16]  Widagdo, S. dan Warren D. Seider, (1996), “Journal Review Azeotropic Distillation”, AIChE J., Vol. 42, No.1, hal. 96-130.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: