PENENTUAN PETA KURVA RESIDU SISTEM TERNER ETANOL-AIR-HCl DENGAN DISTILASI BATCH

PENENTUAN PETA KURVA RESIDU

SISTEM TERNER ETANOL-AIR-HCl DENGAN

DISTILASI BATCH

 

          Ni Ketut Sari

Program Studi Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri, UPN”Veteran” Jawa Timur,

 Jalan Raya Rungkut Madya Gunung Anyar Surabaya, Telpon 031-8782179, Fax 031-8782257

Email: sari_ketut@yahoo.co.id

 

ABSTRAK

Peta kurva residu dipergunakan untuk memperkirakan daerah komposisi produk yang dapat dihasilkan dari proses distilasi untuk campuran sistem multikomponen. Dengan mengetahui peta kurva residu, maka dapat diketahui apakah campuran tersebut akan terbentuk campuran zeotropik atau azeotropik.

Untuk pemisahan sistem terner Etanol-Air-HCl dilakukan penelitian secara simulasi sebelum dilakukan penelitian secara eksperimen, supaya dalam penentuan variabel penelitian bisa lebih terarah dan biaya penelitian lebih murah. Simulasi sistem terner Etanol-Air-HCl secara distilasi batch menggunakan metoda rigorous, model DAEs dan bahasa Matlab. Hasil dari simulasi sistem terner Etanol-Air-HCl kemudian divalidasi dengan metode topologi dan dikomparasi menggunakan sistem terner Metanol-Etanol-Air yang membentuk campuran azeotropik. Penggunaan sistem terner Metanol-Etanol-Air  dalam komparasi sistem terner Etanol-Air-HCl, karena diprediksi campuran sistem terner Etanol-Air-HCl membentuk campuran azeotropik. Hasil simulasi berupa profil temperatur, profil komposisi liquida dan profil komposisi uap fungsi dimensionless waktu baik di bottom maupun di distilat.

Hasil menunjukkan bahwa simulasi sistem terner Etanol-Air-HCl  menunjukkan campuran azeotropik,  validasi secara topologi dan komparasi dengan sistem terner Etanol-Air-HCl mendekati hasil yang sama.

Kata kunci : azeotropik, dimensionless waktu , distilasi batch, peta kurva residu, zeotropik.


 


1. Pendahuluan

Dalam industri kimia, proses fermentasi adalah salah satu cara untuk mendapatkan senyawa kimia dengan bantuan mikroorganisme, selanjutnya produk fermentasi masuk pada tahap pemisahan. Pada tahap ini sangat penting untuk menghasilkan produk dengan kemurnian tertentu, salah satu peralatan yang umum digunakan pada proses pemisahan adalah kolom distilasi batch.  Proses pemisahan dalam industri umumnya pemisahan multikomponen dan jarang pemisahan biner, oleh karena itu sangat penting untuk meninjau distilasi batch multikomponen. Desain distilasi batch multi komponen umumnya diperoleh dengan melakukan simulasi, agar diperoleh hasil simulasi yang mendekati dengan keadaan sebenarnya maka dibutuhkan data thermodinamika yang akurat.

Dalam proses pemisahan, data thermodinamika yang paling dominan berpengaruh pada kinerja proses adalah kesetimbangan fase. Salah satu korelasi thermodinamika moderen dalam mempersentasikan kelakuan campuran tidak ideal adalah persamaan UNIQUAC, perkiraan kesetimbangan sistem terner dan kuarterner dapat dilakukan hanya berdasarkan data percobaan sistem biner. Model-model aktifitas koefisien dengan  persamaan UNIQUAC dikembangkan dari campuran biner, dan mempunyai keuntungan untuk aplikasi pada campuran sistem multi komponen karena hanya membutuhkan parameter biner (tidak membutuhkan parameter tambahan). Tetapi kerugian model tersebut tidak selalu berhasil dalam memperkirakan kesetimbangan sistem multi komponen yang menunjukkan campuran yang sangat tidak ideal lebih-lebih untuk campuran yang mempunyai pasangan dengan kelarutan terbatas seperti butanol-air. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan pengukuran data kesetimbangan sistem biner secara akurat dan model estimasi parameter-parameter dari model koefisien aktifitas sehingga parameter-parameter tersebut dapat digunakan untuk memperkirakan kesetimbangan uap-cair sistem multi komponen secara akurat.

Dari hasil simulasi sistem terner yang diperoleh, untuk melihat profil pergerakan komposisi liquida di bottom maka digambar dalam bentuk peta kurva residu. Dari peta kurva di residu sistem terner tersebut bisa diketahui apakah suatu campuran terner tersebut membentuk campuran zeotropik atau azeotropik. Dari campuran azeotropik dibedakan menjadi campuran azeotropik homogen dan campuran azeotropik heterogen. Untuk campuran azeotropik homogen setelah dilakukan pemisahan maka hasil yang diperoleh membentuk satu phase dan titik azeotropnya tidak terletak pada Liquid-Liquid-Equilibrium (LLE), sedangkan untuk campuran azeotropik heterogen setelah dilakukan pemisahan hasil yang diperoleh membentuk lebih dari satu phase dan titik azeotropnya berada pada LLE. Kemudian dikembangkan lebih jauh  untuk  sistem multi komponen, yaitu dalam bentuk peta kurva residu campuran azeotropik homogen dan heterogen, profil pergerakan komposisi liquida di residu apakah membentuk campuran zeotropik atau azeotropik.            Sistem terner seperti isopropanol-air-benzene membentuk campuran azeotropik pseudo-homogen sudah diteliti oleh Pham dan Doherty (1990). Sistem terner seperti  chloroform-benzene-aseton (Fidkowski dkk. 1993), aseton-heptane-benzene (Henley dan Seader 1998), aseton-air-metyl ethyl keton (Villiers dkk. 2002) dan isopropanol-methyl cyclohexane-toluene (Egbewatt dan Fletcher 2003) membentuk campuran azeotropik homogen. Sistem terner lainnya yang membentuk campuran azeotropik heterogen seperti etanol-air-benzene (Henley dan Seader 1998), etanol-air toluene (Henley dan Seader 1998). Sistem terner lainya seperti nitrogen-argon-oksigen membentuk campuran tanpa azeotropik atau zeotropik, octane-2 ethoxy etanol-ethyl benzene membentuk sistem biner azeotropik, aseton-chloroform-methanol membentuk sistem biner dan terner azeotropik (Widagdo dan Seider 1996). Dari hasil penelitian terdahulu, belum ada yang membuat peta kurva residu bagi campuran terner ABE.

Dari peta kurva residu yang diperoleh kemudian dilakukan validasi, yaitu validasi secara hubungan topologi. Untuk validasi secara hubungan topologi menggunakan persamaan yang sudah ada pada literatur (Henley dan Seader 1998). Untuk mengetahui apakah listing program simulasi sistem terner sudah berlaku secara umum, maka dilakukan validasi berdasarkan data dari literatur. Banyak sistem terner yang sudah ada pada literatur atau jurnal yang bisa dipakai untuk validasi sistem terner Ehtanol-Air-HCl, salah satu sistem terner yang digunakan adalah sistem terner yang membentuk campuran azeotropik yaitu Metanol-Etanol-Air.

 

1. Tinjauan Pustaka

Pada tekanan rendah, fase uap mendekati gas ideal sehingga kesetimbangan uap liquid tekanan rendah menjadi :

(1)

Persamaan (1) ini dikenal juga sebagai persamaan Raoult yang dimodifikasi.

Konstanta kesetimbangan antara fase uap dan fase liquid didefinisikan sebagai berikut :

(2)

Prosedur iterasi untuk mencari temperatur bubble yaitu mencari harga temperatur jenuh dari komponen murni Tisat pada P (Prausnitz  dkk., 2001).

(3)

dimana A, B, C adalah konstanta Antoine untuk spesies i, untuk semua estimasi awal.

(4)

Untuk i =1, 2, 3.

Harga T sebagai harga awal akan digunakan untuk mengetahui tekanan uap jenuh suatu zat yang akan diestimasi dengan persamaan Antoine.Sedangkan harga T baru dicari menurut persamaan :

(5)

Kemudian mencari kesalahan antara T baru dengan T awal dengan Persamaan (6)

(6)

Koefisien aktifitas γi diperoleh dari :

ln gi = ln giC + ln giR                                                (7)

ln giC=    (8)  

                                   ln giR = qi          (9)

(10)

dimana nomor koordinasi z diset sama dengan 10.

(11)

(12)

Parameter r, q  adalah konstanta struktur molekul komponen murni berdasarkan ukuran molekul dan luasan permukaan luar.

Untuk tiap kombinasi biner dalam campuran multi komponen, ada dua parameter yang bisa disesuaikan yaitu r, q :

(13)

tjj = tii = 1

Model Differential-Algebraic-Equations (DAEs) untuk distilasi batch sistem terner, dengan asumsi tidak membentuk dua phase liquida oleh Doherty dan Perkins (1978) sebagai berikut:

(14)

(15)

Dengan forward-finite-difference, Persamaan (15) menjadi :

xi,j+1 = xi,j + (yi,j – xi,j) Dx        (16)

Dimana komposisi liquida mula-mula di bottom (xi,j) dan Dx ditentukan, sedangkan  komposisi uap (yi,j) dihitung menggunakan Persamaan BUBL T (Prausnitz, 2001).

Untuk pembuktian hasil simulasi sistem terner ABE secara topologi yang telah digambar dalam bentuk peta kurva residu menggunakan persamaan sebagai berikut :

                                                                     N1 + S1 = 3            (17)

                                                                   N2 + S2 = B £ 3         (18)

                                                                N3 + S3 = 1 atau 0          (19)

Menurut Doherty dan Perkins (1979) dikembangkan hubungan secara topologi antara N dan S sebagai berikut :

2N3 – 2S3 + 2N2 – B + N1 = 2       (20)

Dimana, N1 merupakan jumlah noda stabil atau noda tidak stabil pada peta kurva residu, S1 merupakan jumlah sadel pada peta kurva residu, untuk menentukan jumlah noda dan sadel pada peta kurva residu digunakan pola aliran yang ada pada pustaka Henley dan Seader (1998) halaman 595. S2 merupakan jumlah sadel biner azeotropik pada peta kurva residu, N2 merupakan jumlah noda biner azeotropik pada peta kurva residu. S3 merupakan jumlah sadel terner azeotropik pada peta kurva residu,  N3 merupakan jumlah noda terner azeotropik pada peta kurva residu. B merupakan biner azeotropik pada peta kurva residu, apabila persamaan (17) sampai (20) terpenuhi, maka simulasi bisa diterima.

 

3. Metodologi

Untuk menghitung tekanan uap jenuh digunakan persamaan Antoine, data parameter Antoine seperti Tabel 3.2. (Prausnitz, 2001), dimana suhu (T) dalam  satuan K dan tekanan uap jenuh (Psat) dalam satuan  Bar.  Untuk menghitung koefisien aktivitas (γ) menggunakan  persamaan UNIQUAC, dimana harga parameter interaksi biner UNIQUAC (uij), data volume molekuler (r) dan luas permukaan molekuler (q) Tabel 3.3, asumsi harga z= 10.

Tabel 3.1  Komposisi umpan Ethanol-Air-HCl

Tabel 3.2 Parameter Antoine Ethanol-Air-HCl

 

Parameter Antoine

Komponen

A

B

C

Ethanol

4.2184

4.6493

5.3365

Air

197.01

1395.14

1648.22

HCl

228.06

182.739

230.918

Sumber: Prausnitz, 2001

 

Tabel 3.3 Parameter UNIQUAC sistem terner Ethanol-Air-HCl

Komponen

r

q

Ethanol

2.5735

2.3359

Air

3.4542

3.0520

HCl

2.1054

1.9720

Sumber: Prausnitz, 2001

 

Dimana : Ethanol (1), Air (2), HCl (3)

u11 = 0                 ; u12 = -198,659  ;  u13 = 98,75291

u21 = 453,669      ; u22 = 0               ;  u23 = -32,707

u31 = 94,242        ; u32 = 75,355      ;  u33 = 0

Validasi Hasil Simulasi dengan Sistem Terner Metanol-Etanol-Air

Tabel 3.4  Komposisi umpan Metanol-Etanol-Air

Sumber: Henley dan Seader, 1998

Untuk menghitung tekanan uap jenuh digunakan Persamaan Antoine

 

Tabel 3.5  Parameter Antoine Metanol-Etanol-Air

 

Parameter Antoine

 Komponen

A

B

C

Metanol

5.20277

1580.08

239.500

Etanol

228.06

182.739

230.918

Air

4.99991

1512.94

205.807

Sumber: Prausnitz, 2001

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1 Algoritma distilasi batch

 

4. Hasil dan Pembahasan

Profil temperatur di bottom menunjukkan hasil yang mendekati dengan temperatur di distilat, karena proses distilasi batch sederhana beroperasi dalam kondisi total refluks. Oleh karena itu profil temperatur hasil simulasi seperti Gambar 4.1 merupakan jumlah temperatur komponen-i setelah dilakukan normalisasi dikalikan komposisi liquida di bottom komponen-i.

 

Gambar 4.1 Profil temperatur sistem terner Etanol-Air-HCl untuk Run-1 sampai Run-7

 

Dari Gambar 4.1 menunjukkan profil temperatur etanol-air-HCl untuk Run-1 sampai Run-6 secara keseluruhan naik terhadap dimensionless waktu. Hal ini disebabkan karena komponen yang diuapkan dengan porsi yang lebih besar adalah komponen etanol, sehingga dibutuhkan temperatur yang lebih besar untuk menguapkan komponen air yang belum diuapkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 4.2 Profil koefisien aktifitas sistem terner etanol-air-HCl

 

Untuk daerah 1 koefisien aktifitas air menunjukkan profil menurun dan koefisien aktifitas etanol naik sehingga tidak berpengaruh terhadap profil temperatur. Gambar 4.2 menunjukkan bahwa semakin besar komposisi air pada umpan masuk maka pengaruh koefisien aktifitas etanol maksimum pada saat dimensionless waktu menunjukkan 1,75 ; setelah itu profil menurun pada akhirnya konstan. Semakin besar komposisi air pada umpan masuk menunjukkan slope penurunan temperatur lebih curam, karena komposisi air pada umpan masuk sangat mempengaruhi temperatur campuran etanol-air-HCl, makin besar komposisi air pada umpan masuk temperatur campuran makin tinggi.

Untuk daerah 2 profil temperatur naik untuk semua run, semakin besar komposisi etanol pada umpan masuk menunjukkan slope kenaikan temperatur yang lebih landai. Hal ini disebabkan karena komposisi etanol pada umpan masuk sangat mempengaruhi temperatur campuran etanol-air-HCl, makin besar komposisi etanol pada umpan masuk temperatur campuran makin kecil.

Untuk daerah 3 profil temperatur naik dan sebagian  konstan, untuk profil temperatur naik berarti dalam pemisahan campuran etanol-air-HCl masih ada etanol yang belum teruapkan, sedangkan untuk profil komposisi konstan berarti sudah semua etanol teruapkan. Makin besar komposisi air pada umpan masuk maka temperatur campuran makin besar dan profil temperatur lebih cepat konstan. Untuk daerah dimensionless waktu 3,5 profil temperatur belum konstan, sehingga dibutuhkan dimensionless waktu yang lebih besar untuk memperoleh profil temperatur yang konstan. Jika distilasi batch sederhana diteruskan sampai dimensionless waktu yang sangat besar, maka akan diperoleh nilai komposisi masing-masing campuran negatif, hal seperti ini tidak dikehendaki.

Dari Gambar 4.2 menunjukkan profil komposisi liquida di bottom, komposisi etanol menunjukkan profil komposisi menurun dari komposisi awal dan komposisi air menunjukkan profil naik dari komposisi awal. Karena komponen etanol merupakan komponen volatile sedangkan komponen air merupakan komponen non-volatile, pada saat proses distilasi batch sederhana komponen etanol dalam porsi yang lebih besar diuapkan dan sisanya adalah komponen air. Komponen air belum mendekati murni dengan dimensionless waktu 3,5 ; salah satu cara untuk memperoleh komponen air lebih murni dari komposisi awal yaitu dengan memperbesar komposisi air pada umpan masuk.

HCl

Air

Etanol

Gambar 4.2. Profil komposisi liquida di bottom sistem terner Etanol-Air-HCl.

Dari Gambar 4.4 menunjukkan profil komposisi uap di bottom, pada keadaan total refluk untuk menghitung komposisi etanol dan komposisi air di bottom maka temperatur awal ditentukan sama dengan 25 0C dan komposisi etanol dan komposisi air pada saat awal ditentukan, kemudian dihitung berdasarkan BUBL T. Pada saat total refluks komposisi etanol dan komposisi air di distilat tidak sama dengan komposisi etanol dan komposisi air saat awal. Untuk komposisi etanol di bottom lebih besar dari komposisi etanol awal, karena komponen etanol merupakan komponen volatile sehingga lebih banyak menguap. Untuk komposisi air di bottom lebih kecil dari komposisi etanol awal, karena komponen etanol merupakan komponen nonvolatile sehingga lebih sedikit menguap.

Profil komposisi uap di bottom setelah total refluk untuk komposisi etanol terus menurun, sedangkan komposisi air terus naik. Hal ini disebakan karena komponen volatile diuapkan dalam porsi yang lebih besar dan sisanya adalah komponen non-volatile, setelah proses distilasi batch sederhana berlangsung maka komponen non-volatile yang diuapkan dalam porsi yang lebih besar. Komponen etanol belum menguap semua pada saat dimensionless waktu 3,5 ; salah satu cara untuk memperoleh komponen etanol di distilat dengan dimensionless waktu yang lebih kecil yaitu dengan memperbesar komposisi air pada umpan masuk.

Dari Gambar 4.3 menunjukkan profil komposisi uap di bottom semakin kecil komposisi etanol pada umpan masuk maka semakin besar komposisi etanol pada saat total refluks, hal ini disebabkan temperatur campuran tinggi sehingga komponen non-volatile lebih banyak menguap. Profil komposisi uap di bottom setelah total refluk untuk komposisi etanol terus menurun, sedangkan komposisi air terus naik. Hal ini disebakan karena komponen volatile diuapkan dalam porsi yang lebih besar dan sisanya adalah komponen non-volatile, setelah proses distilasi batch berlangsung maka komponen non-volatile yang diuapkan dalam porsi yang lebih besar. Komponen etanol semua teruapkan pada saat dimensionless waktu menunjukkan nilai 2,25 ; Run-7 membutuhkan dimensionless waktu yang lebih kecil untuk memperoleh komponen etanol yang lebih murni dari komponen etanol awal

HCl

Etanol

Air

Gambar 4.3. Profil komposisi uap di bottom sistem  terner Etanol-Air-HCl Run-1

Hasil verifikasi antara hasil simulasi dengan validasi distilasi batch,

Air

HCl

Etanol

Gambar 4.4.  Profil komposisi liquida di bottom sistem terner Etanol-Air-HCl untuk hasil simulasi dan validasi.

Peta kurva residu di bottom menunjukkan campuran azeotropik, antara hasil simulasi dan validasi menunjukkan profil yang mendekati sama.

5. KESIMPULAN

  1. Profil temperatur Etanol-Air-HCl secara keseluruhan naik terhadap dimensionless waktu, kecuali pada awal proses menunjukkan profil temperatur menurun, disebabkan karena sifat karakteristik campuran.

2.  Profil komposisi liquida etanol di bottom seteleh proses berlangsung menunjukkan komposisi etanol minimum, setelah proses selesai profil komposisi konstan

3. Profil komposisi uap etanol di bottom seteleh proses berlangsung menunjukkan komposisi etanol maksimum, setelah proses selesai profil komposisi konstan.

4. Peta kurva residu di bottom menunjukkan campuran azeotropik, antara hasil simulasi dan validasi menunjukkan profil yang mendekati sama

 

Ucapan Terima Kasih

Kepada Direktorat Jenderal Pedidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional (DP2M Ditjen Dikti) dalam Hibah Bersaing 2009, yang telah mendanai penelitian ini.

 

6. DAFTAR PUSTAKA

 

[1]     Fiesser dan Fisser, (1963), ”Pengantar Kimia

      Organik”, Dhiwantara, Bandung.

[2]   Judoamidjojo, Mulyono, (1992), ”Teknologi Fermentasi”, Rajawali Press Jakarta

[3]   Kirk Othmer, ”Encyclopedya of Chemical Technology”, Vol. 8, John Wileys nd Sons. Inc.

[4]     Sardjoko, (1991), “Bioteknologi”,  Gramedia, Jakarta.

[5]    Sari N. K., Kuswandi, Nonot S., Renanto Handogo, (2006), “Komparasi Peta Kurva Residu  Sistem Terner ABE Dengan   Metanol-Etanol-1-Propanol”, Jurnal REAKTOR, Jurusan Teknik Kimia UNDIP  Semarang, Vol. 13, No. 2.

[6]  Sari N. K., Kuswandi, Nonot S., Renanto Handogo, (2007), “Pemisahan Sistem Biner Etanol-Air Dan Sistem Terner ABE Dengan Distilasi Batch Sederhana”, Jurnal INDUSTRI Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi, Fakultas Teknik Industri ITS Surabaya, Vol. 6, No.5.

[7]  Handogo, R., dan G. Wibawa, (1997), “Experiments and Correlations of Vapor-Liquid Equilibria of Acetone-1-Butanol-Ethanol Ternary Mixture”, International Conference on Fluid and Thermal Energy Conversion, Yogyakarta, Indonesia, hal. 587-592.

[13]   Henley, E. J. dan J. D. Seader (1998), “Separation Process Principles”, hal. 586-712, John Wiley & Sons, Inc.,New York.

[8]     Prausnitz, J. M., (2001), “The Properties of Gases and Liquids”, ed. 5, hal. A.50 – A. 51, Mc.Graw-Hill,New York.

[9]     Rayleigh, L., (1902), Phil. Mag. [vi.], No. 4 (23), hal. 521.

[10]     Widagdo, S. dan Warren D. Seider, (1996), “Journal Review Azeotropic Distillation”, AIChE J., Vol. 42, No.1, hal. 96-130.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: