c BAB 2 MIKROBIOLOGI

BAB 2

MIKROBIOLOGI

2.1      PENDAHULUAN

Mikrobiologi berasal dari bahasa Yunani, dari kata “mikros”  yang berarti  kecil, “bios” yang berarti hidup dan “logos” yang berarti ilmu. Jadi definisi mikrobiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari kehidupan makhluk yang bersifat mikroskopik yang disebut “Mikroorganisme”  atau “Jasad renik”.

Mikroorganisme adalah makhluk yang mempunyai ukuran sel yang sangat kecil dimana setiap selnya hanya dapat dilihat dengan pertolongan mikroskop.

Apakah yang termasuk mikroorganisme itu ?

Pada umumnya kita mengambil ketentuan, bahwa semua makhluk yang berukuran beberapa mikron atau lebih kecil lagi itu kita sebut mikroorganisme. Satu mikron disingkat menjadi 1 µ  = 0,01 mm. Jadi yang termasuk mikroorganisme antara lain :

  1. Bakteri
  2. Cendawan atau jamur tingkat rendah
  3. Ragi, yang menurut sistematik masuk bangsa jamur juga.
  4. Ganggang/algae
  5. Protozoa atau hewan bersel satu
  6. Virus (Makhluk Ultra Mikroskop)

Bakteri, cendawan, ragi, ganggang/alga, protozoa mempunyai ukuran dalam satuan mikron (µ) dan  bisa diamati dengan menggunakan mikroskop biasa ; sedangkan Virus mempunyai ukuran yang sangat kecil, yaitu dalam satuan mµ (1 mµ  = 0,01 µ) sehingga virus ini dinamakan “Makhluk Ultra Mikroskop” dan untuk mengamatinya hanya bisa digunakan mikroskop elektron.

Mikrobiologi mencakup pengetahuan tentang virus (Virologi), pengetahuan tentang bakterti (Bakteriologi), pengetahuan tentang hewan bersel satu (Protozoologi), pengetahuan tentang jamur (Mikologi), terutama yang meliputi jamur-jamur rendah seperti Phycomycetes, dan juga Ascomycetes serta Deuteromycetes.

Bagaimana membedakan barang mati dengan mikroorganisme ?

Tidaklah mudah bagi seseorang untuk mengatakan dengan tegas apakah sesuatu yang sangat halus itu termasuk makhluk hidup ataukah barang mati. Kedudukan virus dalam hal ini sulit untuk dijelaskan, tetapi umumnya orang condong untuk mengatakan virus itu mikroorganisme juga.

Pada umumnya dapatlah kita berikan kriteria hidup itu sebagai berikut:

  1. Makhluk hidup mengadakan pertukaran zat atau metabolisme, yaitu mengambil zat makanan dan membuang sisa makanan.
  2. Makhluk hidup mengalami pertumbuhan, semula kecil kemudian bertambah besar.
  3. Makhluk hidup mengadakan pembiakan atau reproduksi, semula jumlahnya sedikit, kemudian jumlah itu menjadi besar.
  4. Makhluk hidup mempunyai tanggapan terhadap pengaruh dari luar, tanggapan mana berguna bagi keseluruhan hidupnya.
  5. Makhluk hidup mengadakan gerak, meskipun kadang-kadang sukar untuk diamati. Banyak mikroorganisme yang sama sekali tidak mempunyai gerak, namun mereka tetap termasuk makhluk hidup, karena memenuhi keempat kriteria lainnya.

2.2      PERANAN MIKROBIOLOGI DALAM BIDANG TEKNOLOGI    INDUSTRI

Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena di dalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, mengatur proses di dalam tubuh, perkembangbiakan dan menghasilkan energi untuk kepentingan berbagai kegiatan dalam kehidupannya.

Bahan makanan dengan komposisi demikian merupakan medium pertumbuhan mikroba. Dalam pertumbuhannya, jasad renik ini bergantung pada jenisnya, dapat membusukkan protein, memfermentasikan karbohidrat dan menjadikan lemak dan minyak berbau tengik.

Dalam bidang Teknologi Pangan, Mikrobiologi Pangan merupakan ilmu yang sangat penting, misalnya :

  1. Dalam hubungan dengan kerusakan atau kebusukan makanan sehingga dapat diketahui tindakan pencegahan atau pengawetan yang paling tepat untuk menghindari terjadinya kerusakan tersebut.
  2. Dalam fermentasi makanan, sanitasi, pengawasan mutu pangan dan sebagainya.

Populasi mikroorganisme dalam setiap makanan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti tersedianya nutrien, air, suhu, pH, oksigen, potensial oksidasi reduksi dan adanya zat penghambat. Bila jasad renik populasinya meningkat, dapat menimbulkan berbagai masalah antara lain:

1. Dapat menentukan taraf mutu makanan.

2. Mengakibatkan kerusakan pangan.

3. Beberapa diantaranya dapat digunakan untuk membuat produk-produk pangan khusus.

4. Merupakan sarana penularan beberapa penyakit perut menular.

5. Keracunan makanan, yang tidak jarang menimbulkan kematian.

Dengan demikian keberadaan mikroorganisme yang ada pada umumnya mikroorganisme pencemar, dapat menimbulkan kerugian tapi dapat pula menguntungkan.

Dalam bidang Teknologi Pangan, mikroorganisme dapat bersifat :

1.  Mendatangkan keuntungan

a.  Berperan di dalam proses pembuatan pangan khusus.

Berbagai jenis makanan dan minuman hasil fermentasi, seperti tempe, kecap, taoco, bekacem, sosis, keju, bier, brem, tuak, anggur dan sebagainya selah sejak lama dikenal melengkapi menu makanan dan minuman sehari-hari. Makanan dan minuman tersebut diolah secara fermentasi dengan menggunakan kemampuan mikroba.  Dalam  fermentasi makanan dan minuman, pertumbuhan mikroorganisme justru dirangsang untuk mengubah komponen-komponen di dalam bahan pangan menjadi produk-produk yang diinginkan.

b. Berperan di dalam peningkatan nilai gizi/nutrisi makanan

                        Ini terjadi seperti di dalam pembuatan tempe dari kedelai ataupun pembuatan bahan makanan lain seperti oncom, tauco, terasi, bekacem dan sebagainya, yang disamping akan menghasilkan nilai gizi/nutrisi yang jauh lebih baik dan lengkap, juga nilai organoleptik makanan hasilnya akan lebih baik dan meningkat.

c.  Berperan di dalam ”pengadaan” bau dan rasa

                   Bau dan rasa kacang kedelai yang langsung direbus, rata-rata kurang menarik kalau dibandingkan dengan kacang kedelai yang telah diproses melalui proses fermentasi. Juga bau dan rasa susu segar, misalnya banyak yang tidak menyukai kalau dibandingkan dengan susu tersebut telah diproses secara fermentasi menjadi yoghurt misalnya.

d.  Berperan di dalam ”perubahan” warna

Warna, seperti juga bau ndan rasa, mempunyai arti yang sangat penting untuk bahan makanan. Warna makanan yang menarik, akan lebih banyak mendatangkan peminat kalau dibandingkan makanan tersebut tidak mempunyai warna tertentu.

Penggunaan warna pada bahan makanan yang akhir-akhir ini banyak ditentang karena berbentuk warna buatan secara kimia (bahkan ada pula yang menggunakan warna untuk bahan celup tekstil), yang dari beberapa hasil penelitian ada batas tertentu dapat bersifat karsinogenik (menyebabkan terjadinya kanker, terutama pada hati), mulai beralih pada warna yang dihasilkan mikroba. Warna hasil proses mikroba disamping sesuai untuk tubuh, stabil juga aman (tidak ada kecenderungan bersifat karsinogenik)

2. Mendatangkan Kerugian

Dimaksud dengan mendatangkan kerugian, kalau kehadiran mikroba tersebut di dalam bahan makanan, justru akan :

a. Mengubah bau, rasa dan warna yang tidak dikehendaki

b. Menurunkan berat atau volume

c. Menurunkan nilai gizi/nutrisi

d. Mengubah bentuk dan susunan senyawa.

e. Menghasilkan toksin (senyawa racun) yang membahayakan.

f. Menyebabkan penyakit.

Kelompok mikroba seperti bakteri, jamur dan ragi (yang masih termasuk jamur) merupakan penyebab terjadinya kerugian pada bahan makanan seperti diatas. Karenanya terhadap bahan makanan, sejak bahan baku, selama proses, selama pengolahan dan penyimpanan selalu diusahakan untuk tidak dikenai dan ditumbuhi mikroba tersebut. Keberadaan mikroorganisme ini di dalam makanan tidak diinginkan.

Bakteri patogen dapat memproduksi racun atau toksin yang menyebabkan suatu penyakit pada manusia. Berdasarkan toksin yang dihasilkan bakteri, sesuai dengan sifat kimianya dapat dibagi dua golongan yaitu endotoksin dan eksotoksin.

Kerusakan yang paling umum terjadi pada bahan makanan adalah pembusukan, dan ini dapat disebabkan oleh bakteri ataupun jamur. Pada umumnya bahan makanan seperti telur, daging, sayuran dan buah-buahan akan sangat cepat membusuk kalau dibiarkan/disimpan tanpa aturan sehingga tidak mungkin dikonsumsi. Di lain pihak seringkali makanan yang mengandung enterotoksin dalam jumlah cukup banyak untuk dapat menimbulkan penyakit, biasanya mempunyai penampilan, bau dan rasa yang normal, sehingga masih dikonsumsi dan menimbulkan keracunan bagi konsumen. Cara pencegahan yang terbaik ialah menyimpan semua bahan makanan yang mudah busuk dalam lemari es (suhu 6 sampai       7 C), dimana enterotoksin tidak terbentuk jika makanan disimpan pada temperatur tersebut. Makanan yang sudah dipanasi kembali tidak boleh dibiarkan berjam-jam pada suhu kamar sebelum disajikan.

2.3      SEJARAH MIKROBIOLOGI

 

1.  Antonie Van Leeuwenhoek (1632 – 1723)

Sejarah mikrobiologi dimulai tahun 1674 ketika Antonie Van Leeuwenhoek  menemukan adanya kehidupan di dalam setetes air danau yang diamati menggunakan lensa gelas. Benda-benda yang disebut “Animalcules” tersebut terlihat dalam berbagai bentuk, ukuran dan warna. Sebelum penemuan tersebut, berlaku teori ”Generatio Spontanea” (makhluk hidup dapat terbentuk secara spontan dari benda-benda mati/bahan organik yang telah mengalami pembusukan. Antonie Van Leeuwenhoek kemudian mengamati adanya makhluk hidup pada berbagai bahan lainnya menggunakan mikroskop sederhana hasil ciptaannya. Dia menyimpulkan bahwa sel-sel hidup selalu berasal dari benih (germ).

2. Francesco Redi (1626 – 1697)                    

Francesco Redi menentang teori  ”Generatio Spontanea” dan melakukan percobaan dengan menutup sepotong daging dengan kasa halus untuk mencegah hinggapnya lalat yang dapat bertelur diatasnya. Setelah  didiamkan dalam waktu tertentu, ternyata pada daging yang tidak ditutupi banyak ditumbuhi ulat yang berasal dari telur lalat,  sedangkan pada daging yang ditutupi tidak terlihat adanya ulat.

3. Lazzaro Spallanzani (1729 – 1799)    

Lazzaro Spallanzani  menentang teori  ”Generatio Spontanea” dan melakukan percobaan dengan membuat suatu suspensi bahan organik di dalam tabung gelas, kemudian mendidihkannya. Ternyata cairan tersebut tidak rusak atau busuk dan tidak mengandung sel-sel hidup.  Sel-sel hanya tumbuh jika tabung dibuka sehingga cairan mengalami kontak dengan udara luar yang merupakan sumber kontaminasi jasad renik.

 

4.  Nicholas Appert (1810)

            Nicholas Appert pada tahun 1810 memenangkan hadiah 12.000 franc karena untuk pertama kalinya berhasil mengawetkan berbagai bahan pangan yang mudah rusak menggunakan proses pemanasan di dalam tabung gelas atau botol. Sejak saat itu proses pemanasan dilakukan sebagai salah satu cara untuk mengawetkan makanan.

5. Louis Pasteur (1822 – 1895)

Louis Pasteur sangat menentang teori  ”Generatio Spontanea”.dan mengemukaan teorinya “Omne vivum ex ovo, omne ovum ex vivo” , yang artinya kehidupan hanya dapat  terjadi karena ada kehidupan sebelumnya.Dalam tahun 1860, Pasteur melakukan percobaan menggunakan labu gelas berbentuk bulat yang diisi ekstrak bahan organik atau larutan gula, dimana pada ujung lehernya kemudian dipanaskan dan ditiup sehingga membentuk pipa agak panjang berbentuk huruf U. Setelah labu dipanaskan, ternyata di dalam labu Pasteur tersebut setelah beberapa waktu tidak pernah terlihat adanya pertumbuhan jasad renik. Tetapi jika leher labu dipatahkan dan dibiarkan terbuka dan terkontaminasi oleh udara, dalam satu hari atau lebih akan terlihat adanya pertumbuhan di dalam tabung tersebut sehingga cairan didalamnya menjadi busuk. Ternyata bentuk U dari pipa pada leher labu dapat menahan masuknya jasad renik dari udara ke dalam labu.

Louis Pasteur juga dikenal karena teori yang dikemukakannya dalam fermentasi . Pada tahun 1857 dan 1862, ia menemukan bahwa sel khamir dapat menyebabkan terjadinya fermentasi  pada anggur dan bir dan menemukan bahwa proses pemanasan dapat membunuh khamir yang dapat menyebabkan kerusakan pada minuman tersebut. Dari penemuan ini, kemudian dikenal proses pasteurisasi yang diterapkan pada anggur, bir dan produk=produk susu. Pada tahun 1879 – 1880, Pasteur membuktikan bahwa hewan (dalam percobaannya digunakan kambing) dapat diimunisasi terhadap penyakit Anthraks dan pada tahun 1885 memperkenalkan cara pencegahan penyakit Rabies.

6. John Tyndall

John Tyndall seorang Inggris, pada tahun 1876, menemukan bahwa pemanasan yang dilakukan oleh Louis Pasteur tidak cukup untuk membunuh semua jasad renik di dalam suatu bahan karena beberapa jasad renik diantaranya bersifat sangat tahan panas.Ia menyimpulkan bahwa beberapa bakteri mungkin terdapat dalam salah satu dari dua bentuk yaitu :

1. Bentuk Vegetatif  yang tidak tahan panas dan mudah dibunuh dengan mendidihkan

2. Bentuk Endospora yang tahan panas dan tidak mati dengan perebusan.

John Tyndall kemudian mengembangkan suatu cara untuk membunuh endospora yang sangat tahan panas. Caranya adalah dengan pemanasan bahan yang mengandung endospora secara tidak sinambung. Dengan cara ini, setelah pemanasan bahan didiamkan sehingga spora bergeminasi menjadi sel vegetatif, kemudian dipanaskan lagi untuk membunuh sel vegetatif yang tidak tahan panas tersebutm didiamkan lagi, dipanaskan lagi dan seterusnya sehingga semua endospora terbunuh. Cara ini kemudian disebut proses Tindalisasi.

7.  Ferdinand Cohn

Ferdinand Cohn seorang Jerman, pada tahun 1876 menemukan adanya endospora dan membuktikan sifat ketahanan panasnya.

8. Robert Koch ( 1843 ‑ 19 10)

Robert Koch menemukan pemakaian medium padat menggunakan bahan pemadat gelatin untuk mengisolasi suatu jenis jasad renik dari suatu campuran jasad renik. Dalam perkembangannya, untuk memadatkan media pertumbuhan jasad renik kemudian digunakan bahan yang lebih baik yaitu agar-agar yang berasal dari gulma laut yang mempunyai sifat pemadat lebih baik daripada gelatin. Dari hasil penelitian Koch, dikemukakan prinsip=prinsip teori yang dikenal sebagai “Postulat Koch “, yaitu :

  1. Jasad renik dapat ditemukan sebagai penyebab suatu. gejala penyakit tertentu.
  2. Jasad renik dapat diisolasi di laboratorium sebagal kultur mumi.
  3. Kultur murni tersebut dapat menimbulkan penyakit dengan gejala spesifik bila diinokulasikan pada hewan sehat yang sensitif.
  4. Dari hewan yang dibuat sakit tersebut jasad renik tersebut. dapat diisolasi kembali .
  5. dengan sifat‑sifat seperti jasad renik semula.

Seperti halnya makhluk hidup lainnya, jasad renik memerlukan enersi untuk kelangsungan hidupnya. Enersi diperlukan oleh jasad renik untuk berbagai kegiatan, yaitu : (1) mempertahankan kehidupan sel, (2) pertum­buhan dan perkembang biakan sel, dan (3) untuk pergerakan pada jasad renik yang bersifat motil (dapat bergerak).

2.4      METABOLISME ENERGI

 

SUMBER ENERGI

Berdasarkan sumber energi yang digunakan, jasad renik dapat dibeda­kan atas dua grup, yaitu:

  1. Organisme fototrof, yaitu organisme yang menggunakan sinar mata­hari untuk menghasilkan enersi. Berdasarkan sumber karbon yang di­gunakan, organisme fototrof dibedakan lagi sebagai berikut:

Organisme

Sumber

Sumber

Contoh

a.  Fotoototrof

b.  Fotoheterotrof

Matahari

Matahari

CO2

Senyawa organik

Tanaman, ganggang

Ganggang biru-hijau

 

  1. Organisme kimotrof, yaitu organisme yang menggunakan senyawa kimia untuk menghasilkan enersi. Berdasarkan sumber karbon yang digunakan, organisme kimotrof dapat dibedakan lagi sebagai berikut:

Organisme

Sumber enersi

Sumber karbon

Contoh

a.  Kimoototrof

b.  Kimoheterotrof

Senyawa kimia

Senyawa kimia

CO2

Senyawa organik

Bakteri litotrof

Hewan, protozoa, fungi, bakteri

 

Organisme fotoheterotrof mungkin bersifat obligat atau fakultatif, tergantung pada persediaan sumber enersi. Organisme fotoheterotrof obli­gat hidupnya sangat tergantung pada sumber enersi dari sinar matahari, sedangkan yang bersifat fakultatif, jika sumber enersi dari matahari sangat berkurang, misalnya dalam keadaan gelap, organisme tersebut dapat berubah sifatnya menjadi kimoheterotrof. Demikian pula organisme kimoototrof, ada yang bersifat obligat atau fakultatif. Organisme kimoototrof obligat hidupnya sangat tergantung pada adanya sumber CO2, sedangkan yang bersifat fakultatif jika sumber CO2 sangat berkurang, organisme tersebut akan berubah sifatnya menjadi kimoheterotrof.

Semua reaksi yang menghasilkan enersi pada bakteri yang bersifat kimotrofik merupakan reaksi oksidasi-reduksi, yaitu pemindahan atom hidrogen atau elektron dari satu senyawa ke senyawa lainnya. Untuk dapat digunakan sebagai sumber enersi, harus terjadi reaksi oksidasi reduksi di­mana diperlukan persediaan suatu oksigen dan reduktan dalam jumlah ber­lebih. Oksidasl adalah pelepasan elektron dari suatu atom atau molekul yang bertindak sebagai donor hidrogen (reduktan), sedangkan reduksi ada­lah penambahan elektron pada suatu aseptor hidrogen (oksidan).

Oksidan      :         AH2                    A + 2H

Reduksi      :    B + 2H                    BH2

Hasil kedua reaksi tersebut menunjukkan oksidasi senyawa AH2 oleh senyawa B sebagai berikut :

AH2 + B                BH2 + A

Dalam hal ini AH2 adalah suatu reduktan, sedangkan sehyawa B adalah oksidan. Senyawa yang dapat berfungsi sebagai oksidan atau reduktan mungkin berupa senyawa organik atau anorganik. Berdasarkan jenis se­nyawa yang digunakan sebagai oksidan atau reduktan, maka reaksi oksidasi yang menghasilkan enersi pada jasad renik dapat dibedakan sebagai berikut :

Donor electron

Aseptor electron

Anorganik

Organik

Anorganik (litotrof)

Organik (organotrofik)

Respirasi

Respirasi

Tidak terjadi

Fermentasi

 

Organisme litotrof atau kimolitotrof, termasuk diantaranya beberapa jenis bakteri, adalah organisme yang memperoleh enersi meIaIui oksidasi suatu reduktan anorganik, misalnya sulfur atau amonia. Organisme litotrof pada umumnya bersifat ototrof, yaitu mendapatkan sumber karbon dari CO2. Organisme yang tergolong organotrof mengoksidasi donor hydrogen yang berupa senyawa organik, contohnya pada hewan, fungi dan kebanyakan bakteri. Jadi istilah litotrofik dan organotrofik menunjukkan perbedaan dalam donor elektronnya.

Reaksi respirasi dan fermentasi adalah reaksi yang menunjukkan per­bedaan dalam aseptor hidrogen (penerima elektron). Respirasi adalah reaksi oksidasi yang menggunakan senyawa anorganik sebagai oksidan (penerima elektron) sedangkan fermentasi adalah reaksi oksidasi yang menggunakan senyawa organik baik sebagai oksidan maupun sebagai reduktan (donor elektron).

Jasad renik yang sering tumbuh pada bahan pangan pada umumnya bersifat kimoorganotrof, dimana sebagai sumber enersi dan sumber karbon digunakan senyawa organik.

RESPIRASI

Berbagai organisme melakukan respirasi menggunakan senyawa anor­ganik sebagai oksidan, sedangkan sebagai reduktan dapat berupa senyawa organik maupun anorganik (Tabel 1.1). Respirasi yang menggunakan oksigen sebagai penerima elektron disebut respirasi aerobik, sedangkan yang menggunakan senyawa anorganik sebagai penerima elektron disebut respi­rasi anaerobik.

Respirasi terhadap bahan organik terjadi dalam dua tahap yaitu:

  1. Oksidasi substrat menjadi CO2 dengan cara melepaskan atom hydrogen secara bertahap. Reaksi terse but misalnya yang terjadi dalam siklus Krebs.
  1. Oksidasi atom hidrogen yang dilepaskan dalam reaksi tahap pertama oleh oksigen atau senyawa anorganik, membentuk ATP.

Skema proses respirasi terhadap bahan organik, yaitu yang dilakukan oleh organisme yang tergolong organotrof dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Tabel 2.1.  Reduktan   dan   oksidan   yang  digunakan  dalam   respirasi  oleh

                 berbagai organisme

Reduktan

Oksidan

Produk

(+ enersi)

Organisme

Organotrof :

Senyawa organik

Senyawa organik

Litotrof

NH3

Fe2+

S2-

H2

H2

O2

O2

O2

O2

O2

O2

CO2 + H2O

N2 + CO2

 + H2O

 + H2O

Fe3+

 + H2O

H2O

H2O + S2-

 

Kebanyakan bakteri, semua hewan dan tanaman

 

Bakteri denitrifikasi

Bakteri nitrifikasi (Nitrobacter)

Bakteri nitrifikasi (Nitrosomonas)

Bakteri besi (Ferrobacillus)

Bakteri sulfur (Thiobacillus)

Bakteri hydrogen

 

Desulfovibrio

Sistrom (1960)

Respirasi Aerobik

Pada respirasi aerobik, oksigen bertindak sebagai aseptor hidrogen, dan reaksi oksigen dengan hidrogen akan membentuk air. Dengan kata lain, respirasi aerobik adalah reaksi oksidasi substrat menjadi CO2 dan air, membentuk enersi dalam bentuk ATP. Transpor atom hidrogen dari substrat ke oksigen berlangsung melalui sitokroma. Pigmen-pigmen tersebut melaku­kan reaksi oksidasi-oksidasi, dimana sitokroma yang terakhir akan dioksi­dasi oleh oksigen membentuk air. Enersi yang dikeluarkan dari reaksi hidro­gen dan oksigen digunakan untuk membentuk ATP. Untuk setiap pasang atom hidrogen yang teroksidasi akan terbentuk tiga molekul ATP.

 

 

 

 

Gambar 2.1. Skema proses respiurasi pada organisme organotrof

Respirasi Anaerobik

Beberapa bakteri tidak menggunakan oksigen sebagai oksidan, tetapi menggunakan senyawa anorganik seperti sulfat dan nitrat. Proses demikian disebut respirasi anaerobic. Sebagai contoh, bakteri dari jenis Desulfovibrio melakukan oksidasi senyawa organic menggunakan sulfat () sebagai oksidan, dimana sulfat akan mengalami reduksi menjadi sulfide (S2-). Bakteri dari jenis tersebut tidak dapat menggunakan oksigen sebagai aseptor electron.

Bakteri denitrifikasi dapat menggunakan nitrat maupun oksigen dalam respirasi. Bakteri tersebut akan mereduksi nitrat () hanya jika tidak terdapat oksigen, dimana nitrat akan direduksi menjadi gas nitrogen (N2), ammonia (NH3) atau nitrogen oksida (N2O), tergantung dari jenis bakterinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: