C BAB 4 KLASIFIKASI MIKROORGANISME


BAB 4

KLASIFIKASI MIKROORGANISME

4.1      PENDAHULUAN

Makhluk hidup dapat dibedakan atas tiga katagori yaitu : (1) Tanaman,  (2) Hewan, dan (3) Protista. Pada tanaman dan hewan, setiap sel tidak dapat berfungsi secara terpisah tetapi merupakan unit terkecil dari suatu organisme multiseluler.

PROTISTA

Semua makhluk hidup yang tidak tergolong hewan/tanaman yang dibedakan atas  dua kelompok :

1. Protista tingkat rendah (Prokariot) :

–  Bakteri

–     Rickettsia dan Chlamydia

–  Mikoplasma

–  Ganggang biru‑hijau

2. Protista tingkat tinggi (Eukariot) :

–     Fungi (kapang, khamir, jamur)

–     Ganggang

–     Protozoa

Ganggang  mempunyai sifat-sifat Iebih menyerupai tanaman, sedangkan Protozoa  mempunyai sifat-sifat lebih menyerupai hewan. Perbedaan sifat-sifat sel tanaman, hewan dan Protista dapat dilihat pada Tabel 3.1.

VIRUS

  • Tidak digolongkan ke dalam salah satu kelompok di atas karena tidak mempunyai ciri‑ciri “sel”.
  • Merupakan struktur yang berstifat statis, stabil, tidak dapat metakukan metabolisme maupun biosintesa.
  • Virus baru dapat dikatakan sebagai “Makhluk hidup” Jika terdapat di dalam sel organisme lainnya, karena sel organisme inang tersebut yang melakukan proses metabolisme yang diperlukan virus untuk memperbanyak diri. Dalam keadaan inilah  virus digolongkan dalam kelompok “Protista”

Tabel 4.1. Perbedaan ciri-ciri sel tanaman, hewan dan protista

Ciri-ciri

Tanaman

Hewan

Protista

 

Ciri Sel :

–       Jenis Sel

–       Organisasi Sel

–       Dinding Sel

–       Inti sejati

–       Klorofil

Eukatiotik

Multiseluler

+ **

      +

+

Eukariotik

Multiseluler

– **

      –

Eukariotik & Prokariotik

Uniseluler soenositik *

Miselia tanpa pembagian sel

dan tenunan

+  atau  – (mikoplasma)

+  atau  –

+  atau  –

Sifat Fisiologi:

–       Sumber energi

–              –   Senyawa cadangan

–       Cara menyerap

makanan

–       Pegerakan

Matahari

Pati

Pasif

Pasif

Senyawa Organik

Glikogen

   lemak

Aktif

Aktif

Matahari, senyawa organik

Pati, glikogen, lemak

Pasif dan aktif

Pasif dan aktif

*Soenositik : pertumbuhan sitoplasma tanpa mengalami pembelahan sel dan pembentukan septat mengandung banyak inti sel

**  + , ada  ;  –  , tidak ada

Jasad renik yang penting dalam mikrobiologi pangan adalah yang tergolong dalam bakteri, kapang dan khamir.

4.2      PERBEDAAN SEL PROKARIOT DAN EUKARIOT

Perbedaan yang penting antara sel prokariot dan eukariot adalah pada struktur inti selnya. Kata eukariot berasal dari kata Latin “eu” yang berarti sejati, dan “karyo” yaitu keseluruhan inti sel. Oleh karena itu, sel yang tergolong eukariot mempunyai inti sel (nukleus) sejati, yaitu suatu struktur yang dikelilingi oleh membran inti dimana di dalamnya terdapat kromosom yang mengandung komponen keturunan. Sebalikya, sel prokariot tidak mempunyai inti sejati, dan komponen keturunannya terdapat di dalam molekul DNA tunggal atau kromosom yang letaknya bebas di dalam sitolpasma. Perbedaan ciri-ciri antara sel prokariot dan eukariot dapat dilihat pada Tabel 3.2.

 Tabel 4.2. Perbedaan ciri-ciri antara sel prokariot dan eukariot

Ciri-ciri

Prokariot

Eukariot

Ukuran sel

Diameter

0,2 – 5 mm

2 – 100 mm

Struktur Genetik

  • Membran inti yang mengelilingi nukleoplasma
  • Jumlah kromosom
  • Nukleolus (inti sel)
  • Pembelahan inti secara mitosis
  • Protein (histon) terikat pada kromosom

– *

1

+ *

1

+

+

+

Struktur Sitoplasma

  • Retikulum endoplasma
  • Mitokondria
  • Badan Golgi
  • Lisosoma
  • Ribosoma: – sitoplasma

– membran (organel)

  • Gerakan sitoplasma
  • Membran yanhg mengandung pigmen fotosintesis
  • Dinding sel yang mengandung peptidoglikan

70 S**

Kromatofora

+***

+

+

+

+

80 S

70 S

+

       Kloroplas

*        –  tidak ada ; + ada

*        unit Svedberg

***    kecuali mikoplasma yang tidak mempunyai dinding sel

Jasad renik yang tergolong prokariot dapat dibedakan atas beberapa group dengan ciri-ciri sebagai berikut :

 

1.  Bakteri

  • Bakteri sejati   :

    –  Dinding sel tegar, uniseluler,   memperbanyak diri dengan pembelahan biner,

       beberapa dapat bergerak menggunakan flagella

    –  Memperbanyak diri dengan pembelahan biner

–  Beberapa dapat bergerak menggunakan flagela

  • Bakteri bertunas :

–  Bentuknya bervariasi

  • Bakteri Miselia      :

–      Kadang-kadang bentuknya seperti kapang

  • Bakteri berselubung :

–  Masing-masing sel terdapat di dalam selubung (sheath) yang terdiri dari  kompleks

lipoprotein-polisakarida

  • Bakteri meluncur   :

– Mempunyai dinding sel yang lemas (gliding)

  • Spirochet              :

– Sel berbentuk pilin dengan dinding sel lemas, bergerak dengan  serabut poros.

2.  Rickettsia dan Clamydia

Berukuran lebih kecil daripada bakteri (0,2 – 0,5 mm), bersifat parasit intraseluler obligat, mempunyai sifat-sifat dengan bakteri dalam beberapa hal yaitu :

  1. Mengandung DNA dan RNA
  2. Memperbanyak diri dengan pembelahan biner
  3. Mengandung asam muramat
  4. Sensitif terhadap senyawa antibakteri

3.  Mycoplasma

Bersifat pleomorfik (dapat berubah bentuk), tidak memounyai dinding sel, kebanyakan bersifat parasit, merupakan jasad renik bebas berukuran paling kecil, sitoplasma mengandung sterol disebut juga PPLO (pleuro-pneumonia-like organisme), tahan terhadap Penicillin.

4. Ganggang biru-hijau

Dinding sel lemas sehingga sel dapat meluncur, mendapatkan energi dengan cara fotosintesis, memperbanyak diri terutama dengan pembelahan biner.

Susunan sel protista tdd. beberapa struktur yang dibedakan dalam 2 kelompok :

  1. a.    Struktur tetap, yang dipunyai oleh semua sel dan penting untuk kelangsungan hidupnya, misalnya  membran sitoplasma, DNA dan ribosoma

 

  1. b.    Struktur tidak tetap, yang dipunyai oleh beberapa sel dan mungkin mempunyai fungsi tertentu, misalnya flagela, pili/silia, kapsul, lapisan lendir, beberapa organ sel, vakuola gas dan spora.

 

Jasad renik yang tergolong eukariot dapat dibedakan atas beberapa grup dengan ciri-ciri spesifik sebagai berikut  :

  1. 1.   Fungi
  • Bersifat osmotrofik (menyerap hara)
  • Tidak melakukan fotodintesis
  • Reproduksi secara seksual dan aseksual
  • Dinding sel mengandung sterol dan kitin
  • Terdiri dari : – Khamir (uniseluler)

– Kapang (soenositik / membentuk miselia)

– Jamur    (mushroom)

  1. 2.    Ganggang
  • Mengandung pigmen fotosintesis dan melakukan fotosintesis
  • Bersifat osmotropik, uniseluler sampai multiseluler
  1. 3.    Protozoa
  • Bersifat pagotropik (mengambil hara dengan cara menelan menggunakan bagian sitoplasmanya)
  • Kebanyakan tidak melakukan fotosintesis
  • Uniseluler, bergerak menggunakan silia, flagela atau pergerakan sitoplasma

4.3      MEMBRAN SITOPLASMA

 

  • Terletak : diantara sitoplasma dan dinding sel
  • Ketebalan : ± 75 Ao (0,0075 mm)
    • Susunan dasar sama antara sel prokariot dan eukariot yaitu terdiri dari. fosfolipid dan protein, sehingga membentuk membran berlapis ganda yang mengandung grup hidrofobik dan grup hidrofilik atau ionik.
    • Perbedaan antara membran sitoplasma pada sel prokariot dan eukariot adalah dalam hal jenis fosfolipid & protein yang menyusun membran. Membran eukariot   mengandung sterol, sedangkan membran prokariot tidak mengandung sterol kecuali mikoplasma.
    • Fungsi sterol pada membran sitoplasma diduga mempengaruhi stabilitas membran. Beberapa antibiotik yang dapat bereaksi dengan sterol bersifat aktif terhadap sel eukariotik, tetapi tidak terhadap sel prokariotik.
    • Pada sel prokariotik yang tidak mengandung sterol, komposisi membran kira-kira terdiri dari 60 % protein dan 40 % fosfolipid.
    • Membran sitoplasma mempunyai pori-pori yang dapat terbuka dan tertutup karena ada group asam lemak pada fosfolipid
    • Membran mempunyai mekanisme spesifik untuk keluar masuknya unsur hara dari  dan ke dalam sel.

 

Sifat – sifat membran sitoplasma :

  1. Bersifat semipermeabel yaitu mempunyai permeabilitas spesifik.

Didalam membran sitoplasma terdapat enzim permease yang menyebabkan senyawa – senyawa tertentu. dapat masuk ke dalam sel.

    Ciri-ciri enzim permease :

  1. Penyerapan zat hara mengikuti pola enzim kinetik, yaitu bila konsentrasi suatu senyawa di dalam sel telah mempunyai tingkat maksimum, senyawa tersebut tidak akan diserap lagi oleh sel.
  2. Bersifat stereospesifik, misalnya hanya dapat menyerap L asam amino tetapi tidak menyerap D asam amino
  3. Mutasi pada enzim permease          dapat    mengakibatkan sel tidak dapat menyerap senyawa tertentu.
  4. Bersifat terinduksi, misalnya jika jasad renik ditumbuhkan pada medium yang mengandung glukosa dan laktosa, akan terjadi penyerapan glukosa tetapi tidak laktosa, tetapi jika sumber glukosa telah habis, enzim permease untuk penyerapan laktosa yaitu betagalaktosida permease akan terinduksi.
  1. Berfungsi dalam mengeluarkan hasil sisa metabolisme dan dalam sintesa dinding sel.
  1. Pada sel prokariot, membran sitoplasma merupakan tempat berlangsungnya  proses respirasi karena enzim untuk respirasi terdapat di dalam membran, pada sel eukriot terdapat dalam mitokondria.
  1. Membran sitoplasma, mengandung enzim-enzim untuk degradasi makanan
  1. Pada sel prokariot, membran sitoplasma mempunyai suatu sisi tempat mengaitnya DNA dan pertumbuhan membran merupakan suatu  mekanisme untuk memisahkan DNA setelah berlangsungnya proses replikasi.
  1. Komponen – komponen asam-asam  lemak yang menyusun lipid membran :

–  Pada sel Eukariot , terdiri dari asam lemak tidak jenuh

– Pada sel Prokariot, terdiri dari asam lemak jenuh atu yang mengandung satu ikatan rangkap.

Konsentrasi solut di dalam sel jasad renik kira-kira 10 milimolar atau setara dengan 0,85 % NaCl (larutan fisiologi). Sel akan tetap stabil jika ditempatkan didalam larutan yang bersifat isotonik. Jika sel jasad renik ditempatkan didalam larutan hipertonik  (larutan garam atau gula konsentrasi tinggi), sel berkerut karena airnya terserap keluar, sehingga membran sel mungkin menjadi terpisah dari dinding sel. Hal ini digunakan sebagai prinsip pengawetan pangan dengan garam dan gula. Di dalam air murni (larutan hipotonik), sel akan menyerap air dan membengkak, dan dapat mengakibatkan sel menjadi pecah. Sifat-sifat permeabilitas membran dapat terganggu oleh beberapa antibiotik.

4.4.     DINDING SEL

1.   SEL PROKARIOT

  • Hampir semua mempunyai dinding sel kecuali mikoplasma
    • Dinding sel Prokariot terdapat lapisan peptidoglikan, yaitu suatu struktur rantai yang terdiri dari  turunan – turunan gula yaitu:

–     N-asetil glukosamin (G)

–     Asam N-asetilmuramat (M)

–     Beberapa asamamino yaitu L-alanin, D-alanin, asam D-glutamat, lisin atau asam diaminopimelat (ADP)

  • Lapisan peptidoglikan tdd. unit-unit glikan tetrapeptida yang membentuk suatu polimer yang disebut juga mukokompleks
  • Struktur peptidoglikan hanya terdapat pada sel prokariot.

Dua group bakteri prokariot telah dikenal berdasarkan susunan dinding selnya yaitu:

  1. Bakteri gram positif
  2. Bakteri gram negative

Gambar 4.1. Lapisan dinding sel pada : (a) bakteri gram positif dan

(b) bakteri gram negatif (Nester et al, 1973)

a. Bakteri Gram Positif

  • 90 % dinding selnya terdiri dari lapisan peptidoglikan
  • Lapisan tipis lainnya  adalah asam teikoat
    • Asam teikoat mengandung unit-unit gliserol atau ribitol yang terikat satu sama lain oleh ester fosfat, dan biasanya mengandung gula lain dan D- alanin. Karena asam teikoat bermuatan negatif, lapisan ini juga mempengaruhi muatan negatif pada permukaan sel.

 

b. Bakteri Gram Negatif

  • 5 – 20 % dinding selnya tdd. Lapisan peptidoglikan
  • Lapisan lain terdiri dari : protein, lipolisakarida dan lipoprotein

Perbedaan susunan dinding sel bakteri gram positif dan gram negatif mengakibatkan perbedaan sifat-sifat pewarnaannya, seperti yan dilakukan oleh Cristian Gram (1884) yang menemukan tehnik pengecatan Gram (Tabel 3.3).

Tabel 4.3.  Urutan pewarnaan  gram  serta  reaksi  yang  terjadi  dan

warna  yang terbentuk.

Urutan Pewarnaan

Reaksi dan Warna Bakteri

Gram positif

Gram negatif

1. Violet kristal (VK),  1 menit

2. Larutan iodium (I),  1 menit

3. Pencucian dengan alkohol

4. Safranin 20 detik

Sel berwarna violet biru

Terbentuk komplek VK-1,

sel berwarna violet biru

Dinding sel mengalami dehidrasi.

Pori-pori berkerut

Permeabilitas menurun

Komplek VK-1 tidak dapat keluar sel

Sel tetap berwarna violet biru

Tidak berpengaruh

Sel tetap berwarna violet biru

Sel berwarna violet biru

Terbentuk komplek VK-1.

Sel berwarna violet biru

Lemak terekstrasi dari dinding sel

Pori-pori membesar

Kompleks VK-1 tercuci keluar

Sel tidak berwarna

Sel menyerap zat warna,

berwarna merah

Keterangan :  Setiap kali setelah penambahan zat warna dilakukan pencucian dengan air  untuk  menghilangkan kelebihan zat warna.

Beberapa antibiotik (seperti Penisilin dan Sikloserin), dapat mencegah sintesis peptidoglikan pada sel yang sedang tumbuh.

Bakteri Gram Positif  :

  • o Mempunyai lapisan peptidoglikan yang tebal
  • o Lebih sensitif terhadap penisilin daripada bakteri gram negatif.
  • o Lebih sensitif terhadap enzim lisosim , yang dapat memecah ikatan antara N-asetil glukosamin dan asam N-asetilmuramat. Enzim ini ditemukan di dalam putih telur, air liur dan air mata.
  • o Percobaan dengan memberikan perlakuan lisozim untuk menghidrolisis polisakarida pada dinding sel dan memasukkan ke dalam larutan yang bersifat hipotonik atau isotonik akan memberikan hasil yang berbeda (Gambar 3.2)

                (a) Didalam lar. Hipotonik                            (b) Didalam lar. Isotonik

      Gambar 4.2. Perlakuan   sel dengan lisozim dilanjutkan perendaman

                      di dalam larutan hipotonik atau isotonik

Pada bakteri gram positif

  • Selama pertumbuhan, sintesis dinding sel baru terjadi sebelum sel melakukan pembelahan
  • Sintesis dinding sel hanya terjadi di bagian tengah septum

Dinding sel baru

Gambar 4.3. Bakteri gram  positif

 

Pada bakteri gram negatif :

  • Sintesis dinding sel baru terjadi selang-seling dengan dinding sel yang lama

Dinding sel

baru

Gambar 4.4. Bakteri gram  negatif

2. SEL EUKARIOT      

–          Dinding sel lebih tebal dibandingkan dinding sel  prokariot

–          Pada ganggang,  dinding sel terdiri dari selulosa

–            Pada diatom dan krisofita (chrysophytes) , dinding sel terdiri dari silika.

–          Pada grup kokolitofora , dinding sel tdd. lapisan tipis selulosa dan sisik –sisik yang terdiri dari kalsium karbonat

–          Frustula adalah dinding sel eukariot yang terdiri dari senyawa-senyawa anorganik seperti pada diatom dan kokolitofora

–          Dinding sel ganggang juga mengandung polisakarida lain seperti manna, silan, senyawa pektat dan protein.

–          Dinding sel fungi mengandung polimer glukosa dengan ikatan b 1,4 atau b I,3 dan kitin.

–          Dinding sel khamir mengandung kitin dalam jumlah kecil atau tidak mengandung kitin sama sekali.

–          Pada umumnya protozoa tidak mempunyai dinding sel tetapi mempunyai  lapisan permukaanyang mempengaruhi ketegaran sel yang disebut pseudoktin. Beberapa protozoa mempunyai lapisan selulosa, Ca-karbonat, silica/strontium sulfat

–            Komponen dinding sel eukariot mempengaruhi sifat pewarnaannya

–          Sel eukariot dengan pewarnaan gram, akan memperlihatkan reaksi gram positif yaitu berwarna biru ungu.

4.5      FLAGELA DAN PERGERAKAN SEL

 

a. SEL PROKARIOT

  • Beberapa bakteri bersifat motil (dapat bergerak) karena mempunyai flagela pada permukaan sel
  • Flagela mempunyai  ukuran sangat kecil (± 20 mm) sehingga sukar diamati dengan mikroskop biasa, tetapi harus dengan pewarnaan khusus. Salah satu pewarna flagel yang digunakan adalah pewarna fuksin basa menggunakan asam tanat sebagai mordan. Mordan membantu melekatkan molekul pewarna sepanjang fagela, sehingga dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Flagela dapat dilihat dengan mikroskop elektron dengan cara pembayangan atau dengan pewarnaan negatif.

Ada beberapa letak dan bentuk flagela pada sel bakteri :

1. Flagela monotrichous, mempunyai flagella pada salah  satu ujung sel (polar) bergerak   lebih cepat.

2. Flagela loptrichous,  mempunyai sekumpulan yang terdiri dari dua atau lebih  flagella pada salah satu ujung (polar) atau pada kedua ujung sel

3. Flagela ampitrichous , mempunyai sebuah flagela masing-masing pada kedua ujungnya

4. Flagela peritrichous, mempunyai banyak flagela yang menyebar pada permukaan sel (gerakan lurus dan lambat)

             Gambar 4.5. Letak dan bentuk flagela pada sel bakteri

Struktur flagela terdiri dari 3 bagian yaitu  (1) Serabut, (2) Pengait dan (3)Struktur dasar.  Flagela dapat dilepaskan dari sel secara fisik. Sel yang sudah tidak mempunyai flagela tetap hidup dan dapat mensintesis flagela baru. Pergerakan flagela memerlukan energi dari sel. Organisme yang mempunyai flagela peritrikat pada umumnya pergerakannya lurus dan lambat, sedangkan yang mempunyai flagela polar bergerak lebih cepat, berputar-putar dan berpindah-pindah arah. Beberapa organisme prokariot yang tidak mempunyai flagela akan bergerak dengan cara meluncur  (gliding), dan akan bergerak hanya jika mengalami kontak dengan suatu permukaan padat, tetapi tidak akan bergerak jika terdapat dalam bentuk suspensi di dalam cairan.

Dalam mengamati pergerakan bakteri di bawah mikroskop, harus dibedakan anatara pergerakan sejati yang disebabkan oleh flagela dengan pergerakan Brown yang terjadi pada sel yang telah mati. Pergerakan Brown adalah pergerakan yang terjadi pada semua benda kecil didalam air, disebabkan oleh pergerakan molekul air yang dipindahkan ke benda-benda kecil tersebut.

b. SEL EUKARIOT

Protozoa, ganggang dan fungi mempunyai aktivitas atau pergerakan yang dapat dibedakan atas dua macam, yaitu (1) pergerakan sitoplasma didalam sel dan (2) pergerakan sel karena flagela dan silia. Flagela pada sel eukariot mempunyai fungsi yang sama dengan flagela pada sel prokariot, tetapi mempunyai struktur lebih kompleks dibandingkan dengan flagela prokariot.

Struktur silia menyerupai flagel, hanya bentuknya klebih kecil dan lebih pendek. Silia ditemukan pada protozoa dan sel hewan tingkat tinggi lain. Silia juga berfungsi dalam pergerakan, dimana pergerakan oleh silia dapat mencapai 300 – 2500 mikro meter per detik, yaitu lebih cepat daripada pergerakan sel yang mempunyai flagela.

4.6      STRUKTUR KHAS PADA SEL PROKARIOT

Pili adalah struktur pada sel bakteri yang menyerupai flagela tetapi tidak berfungsi dalam pergerakan. Ukuran pilijauh lebih kecil dibandingkan flagela, dan jumlahnya lebih banyak. Susunan kimia pili mungkin hampir menyerupai flagela. Tidak semua jasad renik mempunyai pili. Dan pada beberapa jasad renik terdapat lebih dari satu macam pili.

Fungsi pili diduga berperan dalam penempelan (adesi) bakteri pada permukaan bahan padat, atau berperan dalam pembentukan film pada permukaan cairan.

a. Kapsul dan Lapisan Lendir

Beberapa bakteri dan ganggang biru-hijau pada permukaan selnya mengeluarkan komponen berlendir yang dapat dilihat di bawah mikroskop setelah diwarnai dengan pewarna negatif. Komponen tersebut disebut kapsul jika terdapat dalam bentuk kompak mengelilingi permukaan sel, sedangkan jika bentuknya tidak terlalu kompak dan mudah terlepas disebut lapisan lendir. Kapsul dan lapisan lendir terdiri dari polisakarida, polipeptida atau kompleks polisakarida-protein. Beberapa sel eukariot yang tergolong khamir juga mempunyai kapsul.

Kapsul bukan merupakan organ yang penting untuk kehidupan sel, dan sel yang kehilangan kemampuannya untuk memproduksi kapsul masih dapat tumbuh secara normal di dalam suatu medium. Beberapa enzim mempunyai kemampuan menghidrolisis kapsul tanpa membunuh selnya. Kapsul kadang-kadang terbentuk hanya jika bakteri ditumbuhan pada medium tertentu. Leuconostoc mesenteroides dapat membentuk kapsul dekstran hanya jika ditumbuhkan pada medium yang mengandung sukrosa, karena enzim yang memproduksi dekstran yaitu dekstran sukrase menggunakan sukrosa sebagai substrat.

Meskipun kapsul tidak berperan dalam pertumbuhan sel, tetapi mungkin berperan dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Sebagai contoh, bakteri penyebab penyakit pneumonia pada manusia yaitu Streptococus pneumoniae (pneumokokus) selalu mempunyai kapsul pada permukaan selnya, sehingga sukar bagi sel pagosit di dalam tubuh untuk menelan dan menghancurkan bakteri tersebut.

b. Endospora

Endospora adalah struktur spesifik yang ditemukan pada beberapa jenis bakteri. Karena kandungan air endospora sangat rendah bila dibandingkan dengan sel vegetatifnya maka endospora berbentuk sangat padat dan sangat refraktil bila dilihat di bawah mikroskop. Endospora sangat sukar diwarnai dengan pewarna biasa, oleh karena itu harus digunakan pewarna spesifik, dan yang biasa digujnakan adalah hijau malasit. Setiap sel bakteri hanya dapat membentuk satu spora.

Dua jenis bakteri yang dapat membentuk spora misalnya Clostridium dan Bacillus. Clostridium adalah bakteri yang bersifat anaerobik, sedangkan Bacillus pada umumnya besifat aerobik. Struktur endospora mungkin bervariasi untuk setiap jenis maupun spesies, tetapi struktur umumnya pada umumnya hampir sama seperti terlihat pada gambar 3.10. Endospora bakteri merupakan struktur yang tahan terhadap keadaan lingkungan yang ekstrem, misalnya keadaan kering, pemanasan, keadaan asam, dan sebagainya.

Gambar 4.6. Struktur endospora bakteri

Jika endospora ditempatkan di dalam suatu medium yang baik, akan terjadi germinasi, di mana spora akan mengambil air dari sekelilingnya, membengkak, kehilangan sifat refraktilnya, dan menjadi lebih mudah diwarnai. Lapisan luar spora pecah, dan spora akan tumbuh menjadi sel vegetatif, di mana dinding sel spora membentuk dinding sel vegetatif.

c. Granula Penyimpanan

Di dalam sel bakteri terdapat granula yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan energi atau senyawa pembentuk struktur sel.

Beberapa senyawa yang disimpan di dalam granula pada beberapa sel prokariot    misalnya :

  1. Asam poli-beta-hidroksibutirat (PHB)
  2. Glikogen dan pati
  3. Fosfat anorganik dalam bentuk polifosfat
  4. Energi dan karbon dalam bentuk lemak
  5. Sulfur

d. Vakuola Gas

Sel gangang biru-hijau akan tetap mengapung pada permukaan air karena adanya vakuola gas, sedangkan jika vakuola pecah, sel-sel akan mengendap dengan cepat.

4.7      STRUKTUR KHAS PADA SEL EUKARIOT

a. Vakuola

Sel eukariot mempunyai vakuola yang merupakan struktur yang dikelilingi oleh membran, dan di dalamnya mengandung larutan garam, asam amino, gula, dan senyawa lainnya. Pada beberapa ganggang, vakuola mengandung pigmen yang memberikan warna pada sel.

Pada protozoa, terdapat dua macam vakuola yaitu :

  1. Vakuola makanan, mengandung enzim pencerna makanan dan berperan dalam mencerna makanan yang masuk ke dalam sel dalam bentuk partikel.
  2. Vakuola kontraktil, membantu dalam pengaturan tekanan osmotik sel dan berperan dalam pengeluaran produk-produk buangan dan air.

b. Lisosoma

Lisosoma adalah struktur di dalam sel eukariot yang dikelilingi membran dan mengandung enzim-enzim yang dapat menghancurkan senyawa-senyawa asing yang masuk ke dalam sel. Peranan penting dalam ketahanan tubuh hewan terhadap infeksi.

c. Mikrobodi

Sel-sel eukariot mempunyai mikrobodi yang merupakan struktur sederhana dengan ukuran diameter kurang dari satu mikron, dikelilingi oleh membran, dan mengandung beberapa enzim yang berperan dalam proses respirasi.

d. Mitokondria

Pada sel eukariot, proses respirasi dan fosforilasi oksidatif yang merupakan proses untuk memperoleh energi terjadi di dalam mitokondria. Mitokondria merupakan struktur yang dikelilingi oleh dua lapis membran yaitu membran bagian dalam yang dikeliling oleh kristam, dan membran bagian luar. Mitokondria mempunyai ukuran diameter kira-kira satu mikron dengan panjang 2-3 mikron.

Mitokondria juga mengandung DNA dan komponen-komponen yang penting dalam sintesis protein seperti ribosoma dan komponen lainnya.

e. Kloroplas

Kloroplas adalah struktur sel yang berwarna hijau dan mengandung klorofil, ditemukan pada semua organisme eukariot yang melakukan fotosintesis.

f. Retikulum Endoplasma

Fungsi membran RE pada jasad renik belum banyak diketahui, tetapi pada sel-sel hewan tingkat tinggi berfungsi untuk melekatkan komponen-komponen penting dalam sintesis protein seperti ribosoma dan komponen lainnya. Diduga membran RE juga berfungsi sebagai saluran penghubung antara bagian permukaan dan bagian dalam sel.

g. Badan Golgi

Badan Golgi adalah kumpulan membran yang terdapat pada bagian-bagian tertentu sel eukariot dan mempunyai berbagai fungsi. Pada sel tanaman berperan dalam sintesis dinding sel, sedangkan pada sel hewan berfungsi untuk membungkus enzim yang akan dikeluarkan dari sel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: