c BAB 6 STERILISASI

  

BAB 6

STERILISASI

6.1      PENDAHULUAN

 

Sterilisasi adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik yang ada  sehingga jika ditumbuhkan dalam suatu media tidak ada jasad renik yang dapat berkembang biak. Sterilisasi  harus dapat membunuh jasad renik yang paling tahan panas yaitu spora bakteri.

Sterilisasi sangat penting dalam penelitian=penelitian di bidang mikrobiologi, mengingat bahwa penelitian terhadap suatu spesies mikrobia harus selalu didasarkan atas penelitian terhadap sifat biakan murni spesies tersebut, sehingga untuk dapat memisahkan kegiatan mikrobia yang satu dengan mikrobia yang lain, atau untuk memelihara suatu mikrobia secara biakan murni, perlu digunakan alat-alat dan medium yang bebas mikroorganisme atau steril.

Sterilisasi Komersial adalah suatu proses untuk membunuh semua jasad renik penyebab kebusukan  makanan pada kondisi suhu penyimpanan yang ditetapkan. Makanan yang telah mengalami sterilisasi komersial mungkin masih mengandung sejumlah jasad renik yang tahan proses sterilisasi, tetapi tidak mampu berkembang biak pada suhu penyimpanan normal yang ditetapkan untuk makanan tersebut.

Disinfeksi adalah suatu proses untuk membunuh jasad renik yang bersifat patogenik dengan cara kimia atau fisika. Semua disinfektan efektif terhadap sel vegetatif tetapi tidak selalu efektif terhadap sporanya.

        Antiseptis  adalah suatu proses untuk menginaktifkan atau membunuh jasad renik dengan cara kimia. Bahan antiseptik mungkin bersifat membunuh bakteri dan fungi.

6.2                  MACAM-MACAM CARA STERILISASI

Sterilisasi dapat dilakukan dengan bermacam-macam cara :

  1. 1.  Secara Fisik ,dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu :

–  Pemanasan : Basah, dan kering.

–  Penyaringan (Filtrasi).

–  Radiasi (sinar U.V, sinar x, dll.).

2. Secara Chemis :

Dengan bahan-bahan kimia yang dapat membunuh mikroorganisme yang disebut ”Desinfektan” (Misal : alkohol, karbol, lysol, sublimat dll.)

Cara sterilisasi yang dipakai tergantung pada macamnya bahan dan sifat bahan yang disterilkan antara lain:

  1. Ketahanan terhadap panas.
  2. Bentuk bahan yang disterilkan : padat, cair/ gas.

 

6.3                  STERILISASI SECARA FISIK

Sterilisasi secara fisik dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu :

a.   Pembakaran diatas Lampu Spiritus

Sterilisasi secara fisik dipakai untuk sterilisasi jarum platina, ose dan sebagainya yang terbuat dari platina/ nikrom, dengan cara membakar alat-alat tersebut diatas api lampu spiritus sampai   pijar.

b.  Pemanasan Basah

Pemananasan basah dapat membunuh jasad renik karena panas basah dapat menyebabkan denaturasi protein (termasuk enzim-enzim di dalam sel) sehingga menyebabkan kematian jasad renik.

 

c.  Perebusan

Perebusan adalah pemanasan didalam air mendidih atau uap air pada suhu 100 oC selama beberapa menit, tetapi banyak spora bakteri tahan panas masih hidup.

d.  Pemanasan dengan Tekanan

Alat yang digunakan otoklaf (Autoclave) :

  • Terdiri dari suatu bejana tahan tekanan tinggi yang dilengkapi dengan manometer, termometer dan klep bahaya.
  • Merupakan alat sterilisasi yang paling baik.
  • Bahan / alat yang disterilkan :

Bahan / alat yang tidak rusak karena pemanasan dengan tekanan tinggi,

Misalnya : media utk pertumbuhan mikroba, Aquadest dsb.

  • Metode ini dapat membunuh spora yang paling tahan panas.
  • Dilakukan pada suhu 121 oC selama 15-30 menit dengan tekanan ± 2 atm

Daya membunuh dari uap air panas :

Disebabkan pada waktu kondensasi, pada bahan yang disterilkan dilepaskan sejumlah besar panas laten sehingga terjadi pengerutan, yang menyebabkan penyerapan uap air baru yang berarti lebih banyak panas yang diserap.

 

Sterilisasi Dengan Metode Ultra High  Temperatur (UHT) adalah  sterilisasi yang dilakukan pada suhu tinggi dalam waktu singkat (suhu  135-150oC selama 2-6 detik), dan umumnya untuk sterilisasi bahan cair (susu).

 

 

e.  Sterilisasi dengan cara Tindalisasi

  • Sterilisasi yang digunakan untuk sterilisasi bahan-bahan yang mengandung cairan yang tidak dapat disterilkan dengan autoclave (yang tidak tahan pada temperatur tinggi dan kering), misalnya untuk sterilisasi media yang mengandung telur, Untuk sterilisasi protein dan sebagainya.
  • Alat yang digunakan disebut ”ARNOLD STEAM STERILIZER

Cara :

  • Dilakukan dengan cara memanaskan medium/ larutan menggunakan uap (T= 100 oC) selama ½ – 1 jam setiap hari selama 3 hari berturut-turut.
  • Waktu inkubasi diantara 2 proses pemanasan bertujuan untuk membunuh spora yang dapat bergeminasi menjadi sel vegetatif.

Sterilisasi dengan cara ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut :

  • Bahan disterilkan dengan menggunakan suhu 100 oC selama 30 menit, dengan tujuan agar sel-sel vegetatif mikrobia terbunuh. Setelah itu bahan diinkubasi pada temperatur kamar selama 24 jam, agar spora yang masih ada pada bahan tersebut tumbuh menjadi sel-sel vegetatif.
  • Kemudian dilakukan sterilisasi tahap II pada suhu 100 oC selama 30 menit, setelah itu diinkubasi lagi pada temperatur kamar selama 24 jam
  • Selanjutnya dilakukan sterilisasi tahap III pada suhu 100 oC selama 30 menit dan diinkubasi lagi pada temperatur kamar selama 24 jam.
  • Sterilisasi dihentikan sampai tidak ada pertumbuhan sel vegetatif mikrobia.

f.  Pasteurisasi

Proses pemanasan pada suhu dan waktu tertentu dimana semua mikroba pathogen dapat terbunuh.

Misal : Bakteri TBC dan Brucellosis.

     Pasteurisasi dibagi dua, yaitu :

1. Pasteurisasi cepat  : dilakukan pada suhu 72 oC selama 15 detik.

2. Pasteurisasi lambat : dilakukan pada suhu 65 oC selama 30 menit.

  • § Spora dan bentuk vegetatif dari bakteri termofil tahan.
    • § Setelah pasteurisasi, produk harus didinginkan secepat mungkin untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang masih hidup.

g. Pemanasan Kering

  • Alat yang digunakan : Hot air oven (Hot air sterilizer).

–          Menggunakan suhu 160-180 oC selama 1,5 – 2 jam dengan  sistim udara statis.

–          Jika digunakan oven dengan sirkulasi udara panas, waktu lebih cepat, diperlukan waktu setengahnya karena aliran udara panas ke alat-alat gelas lebih efisien ( setengahnya).

  • Untuk sterilisasi alat-alat gelas (erlenmeyer, petridish dsb) juga untuk kapas, kain, kertas dan sebagainya.
  • Kurang efektif untuk membunuh jasad renik
  • Mekanisme kematian bakteri dengan metode ini :

         Pemanasan kering menyebabkan dehidrasi sel dan oksidasi komponen – komponen di dalam sel

h.   Radiasi (Penyinaran)

        Berbagai sinar radioaktif dapat mengakibatkan kematian sel-sel mikroorganisme.

 1. Sinar matahari

        Sinar matahari yang dipancarkan langsung pada sel vegetatif jasad renik dapat menyebabkan kematian sel tersebut, sedangkan sporanya biasanya lebih tahan. Aktivitas bakterisisidal dari sinar matahari tersebut disebabkan oleh bagian ultraviolet dari spektrum sinar.

2. Sinar Ultra violet dari lampu uap merkuri

Sering digunakan untuk sterilisasi ruangan inokulasi di laboratorium atau ruang pengolahan. Radiasi ultra violet  menyebabkan kesalahan dalam replikasi DNA dan mempunyai aktivitas mutagenik pada sel hidup.

Sinar ultra violet mempunyai panjang gelombang 15-390 nm, pada panjang gelombang 265 nm, sinar ini berefek bakterisidal kuat.

3. Radiasi Ionisasi

Adalah radiasi yang mengandung energi jauh lebih tinggi daripada sinar ultraviolet dan mempunyai daya desinfektan yang lebih kuat.

Contoh :

  • Sinar x memiliki daya penetrasi lebih besar dibanding sinar ultraviolet.
  • Sinar γ mempunyai daya penetrasi lebih besar dibanding sinar x, sehingga sering digunakan untuk mensterilkan benda yang tebal (misalnya bungkusan alat-alat kedokteran dan paket makanan).
  • Sinar katoda sering digunakan untuk menghapus hama pada suhu kamar terhadap barang-barang yang telah dibungkus.
  • Sinar  γ dari kobalt 60, digunakan secara komersial untuk sterilisasi alat-alat Kedokteran dan laboratorium.

Jika digunakan untuk mensterilkan makanan, radiasi ionisasi dapat mempengaruhi citarasa makanan. Jika digunakan untuk sterilisasi obat-obatan, hormon atau enzim mungkin dapat mempengaruhi potensi atau aktivitasnya.

Satuan internasional (SI) dalam radiasi :

  1. Unit penyerapan (absorbsi)
  2. Unit radioaktif

i.    Penyaringan (Filtrasi)

Sterilisasi secara mekanik dilakukan dengan cara menyaring bahan yang akan diterilkan. Cara ini digunakan bagi bahan-bahan cair yang tidak tahan panas, misalnya serum darah, vaksin, toksin atau medium yang mengandung zat tidak tahan terhadap pemanasan. Disamping itu cara ini digunakan pula bagi bahan-bahan yang mengandung zat-zat yang tidak stabil, misalnya larutan garam fisiologis, natrium bikarbonat dan lain-lain.

Bahan-bahan cair yang sangat peka terhadap pemanasan (serum, darah, toksin, dll.) atau yang tidak tahan pemanasan tinggi (medium yang mengandung senyawa gula) tidak dapat disterilkan dengan pemanasan, maka dipakai alat Filter bakteri (Penyaring bakteri).

 

Beberapa jenis Filter Bakteri :

  1. 1.   Berkefeld filter.

Elemen penyaring pada alat ini terbuat dari tanah diatonal, dengan tingkat porositas : kasar (viel = v), normal (N) dan halus (wenig = w). Yang biasa digunakan adalah porositas N dan W.

  1. 2.   Chamberland filter.

Elemen penyaring pada alat ini adalah porselin yang tidak dilapisi dengan email. Porositasnya bervariasi yakni : L1, L2, L3 dan seterusnya. Yang biasa digunakan untuk penyaring bakteri adalah L3.

  1. 3.   Seitz filter (Ent Keimung filter/ filter asbes).

Merupakan alat penyaring dari ”Stainless steel” yang dilengkapi dengan penyaring asbes-selulosa yang dapat diganti

  1. 4.   Sintered glass filter / ultra filter dll.

    Prinsip sterilisasi dengan penyaringan (Filtrasi) :

– Untuk penyaringan dengan filter bakteri diperlukan tekanan positif tertentu (20 – 30 mm  Hg) dengan menggunakan pompa vacum.

– Tekanan 20 – 30 mm Hg dapat mempercepat penyaringan tanpa menyebabkan buih.

6.4                  STERILISASI SECARA KIMIA

 

Desinfektan dan Antiseptik

        Adalah bahan kimia menimbulkan pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan  dengan perlakuan fisik seperti panas dan radiasi.

Dalam memilih desinfektan dan antiseptik perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut :

a. Sifat Mikrosidal (membunuh jasad renik)

  • Bentuk spora lebih tahan daripada bentuk vegetatif.
  • Beberapa desinfektan (halogen, merkurikhlorida, formalin dan etilen oksida) → efektif terhadap spora.
  • Mycobacteria merupakan bentuk vegetatif yang paling tahan dibandingkan sel vegetatif   bakteri lainnya. Untuk membunuh Mycobacteria digunakan alkohol dan fenol.
  • Virus lebih tahan daripada bentuk vegetatif dan dapat dibunuh dengan Halogen, oksidan dan formalin.
  • Komponen kimia yang bersifat membunuh jasad renik disebut mempunyai sifat bakterisidal (membunuh bakteri) atau fungisidal (membunuh fungi).
  1. b.   Sifat Mikrostatik (menghambat pertumbuhan jasad renik)

Beberapa komponen kimia pada konsentrasi rendah tidak dapat membunuh jasad renik, tetapi hanya menghambat pertumbuhannya, misalnya senyawa tertentu yang terdapat pada rempah-rempah. Komponen tersebut disebut mempunyai sifat bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) atau fungistatik (menghambat pertumbuhan fungi). Komponen kimia yang bersifat membunuh lebih baik daripada yang bersifat menghambat.

  1. c.    Kecepatan penghambatan.

Komponen kimia mempunyai kecepatan membunuh/menghambat yang berbeda-beda terhadap jasad renik yaitu :

1. Cepat

2. Hanya efektif setelah beberapa menit/ jam.

Sel yang sedang tumbuh/ berkembang biak lebih sensitif dan mudah dibunuh dibandingkan sel dalam keadaan istirahat.

d.Sifat lain :

    Pertimbangan untuk pemilihan desinfektan :

  • Harga tidak mahal.
  • Aktivitas tetap dalam waktu lama.
  • Larut dalam air dan stabil dalam larutan.
  • Tidak toksik dan tidak mengiritasi kulit.
  • Tidak meninggalkan warna.

Beberapa komponen organik dapat menghambat kerja disinfektan, misalnya halogen, garam merkuri dan detergen kationik dapat menghambat kerja desinfektan. Sedangkan sabun dan detergen anionik membantu penyerapan.

 

6.5      KOEFISIEN FENOL SUATU DESINFEKTAN

 

  • §Koefisien fenol suatu desinfektan adalah kemampuan suatu desinfektan dalam membunuh bakteri dibandingkan fenol.
  • §Jika suatu desinfektan mempunyai koefisien fenol 40, berarti daya membunuhnya 40 kali dibandingkan fenol.
  • §Untuk pengujian biasanya digunakan 2 jenis bakteri:

–    Bakteri gram negatif : Salmonella typhi.

–    Bakteri gram positif   : Staphylococcus aureus.

  • ·Cara pengujian :

Dengan mengencerkan suatu kultur cair bakteri sebanyak 1 : 10 dengan desinfektan yang akan diuji pada konsentrasi berbeda. Yang disebut titik akhir adalah konsentrasi terendah yang menghasilkan kultur steril setelah diinkubasikan selama 10 menit pada suhu 20 C.

 

STERIL

DESINFEKTAN A

 

 

 

STERIL

FENOL

Kultur steril : desinfektan A 6 % setara dengan fenol konsentrasi 8 %

Jadi koefisien fenol desinfektan A adalah 1,3

6.6                  MACAM- MACAM DESINFEKTAN

Desinfektan dapat dikelompokkan atas delapan grup sebagai berikut :

  1. 1.    Grup alkohol larut

Contoh           :  etanol, isopropil, alkohol.

Cara Kerja      :  Koagulasi protein dan melarutkan membran.

Konsentrasi    :  70 – 90 %

Keuntungan    :  Bakterisidal cepat, tuberkulosidal.

Kelemahan     :  tidak membunuh spora, menyebabkan korosi metal kecuali jika ditambahkan komponen pereduksi (2% Na-nitrit), mengeringkan kulit.

 

  1. 2.    Grup gas sterilisasi

Contoh           :  etilen oksida

Cara Kerja      :  substitusi grup alkil di dalam sel dengan atom hiodrogen yang labil.

Waktu            :  4 – 18  jam.

Keuntungan    :  tidak berbahaya untuk kebanyakan bahan, mensterilkan bahan, digunakan untuk bahan yang tidak tahan panas.

Kelemahan     :  membutuhkan peralatan khusus.

 

  1. 3.    Grup gas disinfektan

Contoh           :  formaldehida

Cara Kerja      :  seperti etilen oksida.

Konsentrasi    :  larutan jenuh atau dalam bentuk gas.

Keuntungan    :  Bakterisidal cepat, tuber kulosidal.

Kelemahan     :  membunuh spora, tidak korosif , digunakan untuk bahan yang tidak panas.

  1. 4.    Grup halogen

Contoh           :  khlorin, yodium.

Cara Kerja      :  oksidasi grup sulfhidril bebas.

Konsentrasi    :  hipokhlorit – konsentrasi tertinggi HclO (warexin) – larutan 1,5% yodium tinkur – konsentrasi tertinggi.

Keuntungan    :  khlorin  –  tuberkolosidal.

Yodium –  pencuci dan desinfektan, tidak meninggalkan warna, meniggalkan residu anti bakteri, yodium tinkur bersifat tuberkolosidal.

Kelemahan     : khlorin – memutihkan bahan, korosi logam, tidak stabil didalam air sadah, larutan harus segar.

Yodium – yodium tinktur menimbulkan warna dan iritasi kulit, iodofor tidak stabil, aktivitasnya hilang didalam air sadah, korosif terhadap logam, menyebabkan pengeringan kulit.

 

  1. 5.    Grup fenol

Contoh           :  kreosol, fenol semi-sintetis,lisol.

Cara Kerja      :  Koagulasi protein, menyebabkan kebocoran membran sel.

Konsentrasi    :  kreosol –  2%

Lisol – 1%

Keuntungan    :  aktivitasnya tidak hilang oleh bahan organik, sabun atau air sadah, meniggalkan efek residu jika mengering.

Kelemahan     :  kreosol harus digunakan di dalam air lunak.

 

  1. 6.    Grup detergen kationik (amonium quaternar)

Cara Kerja      :  pengerutan membran sel dan merusak permeabilitasnya.

Konsentrasi    :  larutan 1/1000 – 1/5000

Keuntungan    :  tidak berbau.

Kelemahan     :  tidak bersifat tuberkulosidal, aktivitas virisidal terbatas, harus dilarutkan kedalam air destilata, aktivitasnya hilang oleh protein, sabun dan serat selulosa, aktivitas bakterisidalnya lemah sehingga harus di kombinasi dengan grup fenol.

 

  1. 7.    Grup detergen Anionik (aditif sabun atau detergen)

Contoh           :  heksakhlorfen (G-11), tetrakhlorsalisil anilida.

Cara Kerja      :  heksakhlorfen  – septisol 2%, phisohex 3 %.

Keuntungan    :  aktivitas antar bakteri lama, baik digunakan sebagai pencuci.

Kelemahan     :  tidak bersifat sporisidal maupun tuberkulosidal, cara kerja lambat, beracun jika digunakan terus – menerus dan diserap di dalam tubuh.

  1. 8.    Desinfektan lain-lain.

Garam                       :  komponen merkuri organik seperti merkurokhrom dan tiomersal bersifat kurang beracun dibandingkan komponen merkuri lainnya, tetapi aktivitas bakterisidalnya lemah.

Alkali                         :  Larutan NaOH sering digunakan dalam kedokteran veteriner untuk disinfektan kandang.

Hidrogen peroksida     :  dalam konsentrasi 3% digunakan untuk mencuci dan mendisinfeksi luka.

Sabun                        :  Aktivitas bakterisidalnya lemah, tetapi efektif untuk mencuci/

Komponen

Biguanida                   :  Misalnya khloheksidin, bersifat bakterisidal tetapi tidak efektif terhadap virus, spora, dan mikrobakteri.

Biasanya   di campur   dengan    detergen

kationik.

Dialdehida                  :  spektrum aktivitasnya paling luas, yaitu bersifat bakterisidal, virisidal, fungisidal, dan sporosidal. Tersedia dalam bentuk asam yang harus diaktivasi dengan penambahan natrium karbonat (menaikkan pH) supaya aktivitasnya maksimum. Dalam keadaan aktiv tahan sampai 2 minggu. Kelemahannya adalah beracun terhadap kulit dan harganya mahal.

6.7      ZAT ANTIMIKROBA  

 

            Zat antimikrobia adalah zat yang merintangi pertumbuhan dan metabolisme mikroba (antiseptik, desinfektan, antibiotik dsb.).

Zat antimikrobia dikelompokkan menjadi dua ;

  1. Antibakteri (efektif terhadap bakteri)
  2. Antifungi    (efektif terhadap fungi)

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju hambatan atau kerusakan mikroorganisme oleh antimikroba:

  1. Konsentrasi, intensitas dan jenis mikroba.
  2. Jumlah mikroorganisme.

Untuk membunuh populasi mikroorganime yang lebih banyak perlu waktu.

  1. Suhu

Makin tinggi suhu, kerja desinfektan makin efektif.

  1. Species mikroorganisme

Bentuk vegetatif lebih mudah terbunuh dibandingkan bentuk spora.

  1. Adanya bahan organik yang dapat mengurangi efektifitas zat antimikroba dengan cara membuat tidak aktif lagi/ melindungi mikroorganisme dari serangan zat tersebut.

Mekanisme Kerja Zat Antimikroba

  1. 1.    Perusakan dinding sel

Susunan dinding sel dapat rusak dengan jalan merintangi pembentukan dinding sel atau menyebabkan perubahan pada dinding sel.

  1. 2.    Perubahan permeabilitas sel

Membran sitoplasma menahan bahan-bahan tertentu di dalam sel dan mengatur pemasukkan dan pengeluaran bahan-bahan lainnya, memelihara keseluruhan susunan sel.

Perusakan membran sitoplasma berakibat dapat merintangi pertumbuhan sel, sehingga dapat menyebabkan kematian sel.

  1. 3.    Perubahan molekul protein dan asam nukleinat (Denaturasi protein).

Kehidupan sel mikroba tergantung pada pemeliharaan molekul protein dn asam nukleinat.

Desinfektan dapat menyebabkan :

1. Koagulasi protein secara irreversibel

2. Denaturasi bahan-bahan sel penting

  1. 4.    Merintangi kerja enzim

Dengan merintangi kerja enzim sehingga sintesa protein dan asam nukleinat dihambat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: