c BAB 11 PUPUK

 

BAB 11

PUPUK

 

11.1.  PENDAHULUAN

 

Indonesia merupakan suatu Negara Agraris dimana sebagian besar penduduknya bekerja pada sektor pertanian. Beberapa tahun terakhir ini Indonesia mengalami permasalahan cukup serius berkaitan dengan penurunan ketersediaan pupuk nasional.

Pupuk merupakan suatu bahan yang dapat meningkatkan kesuburan lahan dan produksi tanaman. Ketersediaan pupuk nasional yang terbatas menyebabkan tingginya harga pupuk yang berdampak pada penurunan produktivitas lahan, penurunan pendapatan masyarakat dan terdapat lahan-lahan pertanian dibiarkan tanpa diberdayakan. Penyebab utama  terjadinya penurunan ketersediaan pupuk nasional adalah berkurangnya ketersediaan bahan baku.    

Langkah strategis dalam rangka mengatasi permasalahan ketersediaan pupuk nasional dan tingginya harga pupuk adalah mencari bahan baku alternatif yang dapat menghasilkan pupuk yang berkualitas dan harga terjangkau. Salah satu bahan baku alternatif yang perlu dipertimbangkan sebagai bahan baku produksi pupuk adalah TANAMAN. Indonesia memiliki berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku alternatif produksi pupuk, beberapa jenis tanaman yang dapat dipergunakan sebagai bahan baku adalah “Tanaman Muntingia C.L dan Helianthus A. L “  (Nama tanaman ini disamarkan berkaitan dengan HAKI)

Berdasarkan analisis laboratorium dan penelitian awal diketahui kedua jenis tanaman ini pada bagian daun dan ranting mengandung berbagai jenis ion seperti ion Nitrogen (N) : 2-5 %,  Phosphor (P) : 4-6 %, Kalium (K) : 20-25% dan Magnesium (Mg) : 10-15 %.  Ion-ion tersebut merupakan ion-ion unsur hara makro dalam pupuk sehingga kedua jenis tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.

Dalam rangka optimalisasi pemanfaatan daun dan ranting tanaman sebagai bahan baku alternatif produksi pupuk,  diperlukan pengembangan proses yang lebih baik. Salah satu pengembangan proses yang dapat mengoptimalkan daun dan ranting sebagai pupuk hijau adalah kombinasi proses EKSTRAKSI DAN FERMENTASI. Proses ekstraksi dan fermentasi dapat menghasilkan 2 jenis pupuk hijau yaitu pupuk hijau cair dan padat.

 

Tujuan khusus penelitian Kajian Produksi dan Kinerja Pupuk Hijau Cair dan Padat dari Tanaman Muntingia C.L dan Helianthus A.L adalah

  1. Mengkaji jenis tanaman yang dapat dipergunakan dan dikembangkan sebagai bahan baku alternatif untuk produksi pupuk
  2. Menghasilkan dua (2) jenis produk pupuk yaitu produk pupuk hijau cair dan padat
  3. Mengkaji jenis pelarut yang sesuai untuk produk pupuk hijau cair
  4. Mengkaji berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kualitas produk pupuk hijau cair dan padat yaitu : Rasio berat bahan padat (daun/ranting) terhadap volume pelarut, Waktu ekstraksi dan fermentasi dan Waktu kedaluwarsa pupuk cair.
  5. Mengkaji Kinerja kedua jenis pupuk hijau (cair dan padat) pada tanaman padi
  6. Menghasilkan rancangan prototipe industri pupuk hijau cair dan padat

Disamping itu hasil penelitian ini dapat dipergunakan sebagai acuan dalam mengembangkan industri pupuk hijau cair di Indonesia, membantu mengembangkan sektor pertanian dan menciptakan lapangan pekerjaan baru

 

Urgensi (Keutamaan) Penelitian

a.  Pemerintah sering melakukan impor pupuk, hal ini menunjukkan kebutuhan pupuk nasional cukup besar sedangkan produksi dalam negeri tidak mencukupi sehingga sering terjadi kelangkaan pupuk di pasaran yang mengakibatkan terganggunya sektor pertanian, salah satu penyebab produksi pupuk dalam negeri tidak mencukupi adalah keterbatasan ketersediaan bahan baku di Indonesia.

b.  Industri pupuk di Indonesia telah memperkenalkan berbagai jenis pupuk seperti pupuk Urea, KCl, TSP, ZA, KNO3, MgSO4 dan sebagainya. Pupuk-pupuk tersebut hanya mengandung satu unsur nutrient yang diperlukan oleh tanaman, sehingga pemakaian pupuk di pertanian dilakukan dengan mengkombinasikan pupuk-pupuk tersebut dan pada akhirnya biaya yang dikeluarkan semakin besar dan tidak efektif.

c.  Ketersediaan pupuk nasional yang terbatas menyebabkan tingginya harga pupuk yang berdampak pada penurunan produktivitas lahan, penurunan pendapatan masyarakat petani dan terdapat lahan-lahan pertanian dibiarkan tanpa diberdayakan. Dalam rangka mengatasi masalah ketersediaan pupuk dan menekan biaya operasional pertanian perlu dilakukan langkah strategis dalam mengatasi permasalahan tersebut, salah satu langkah strategis yang perlu dikaji adalah pemanfaatan TANAMAN sebagai bahan baku alternatif produksi pupuk.

d. Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, salah satu kekayaan sumber daya alam yang dimiliki adalah berbagai jenis tanaman yang dapat hidup dengan mudah di Indonesia. Berbagai jenis tanaman yang dimiliki perlu dilakukan pemberdayaan untuk menunjang kegiatan khususnya kegiatan sektor pertanian.

e.  Tanaman seperti tanaman Muntingia C.L dapat tumbuh di berbagai wilayah di Indonesia dan saat ini hanya`dipergunakan sebagai TANAMAN PENEDUH. Tanaman Helianthus A.L merupakan TANAMAN LIAR  yang dapat tumbuh subur di hutan dan dapat tumbuh deseluruh wilayah Indonesia. Ketersediaan tanaman Muntingia C.L dan Helianthus A.L di Indonesia cukup melimpah dan dapat dikembangkan menjadi tanaman PELIHARAAN yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai keperluan.

f.  Berdasarkan analisis laboratorium dan penelitian pendahuluan diketahui jenis tanaman Muntingia C.L dan Helianthus A. L mengandung berbagai jenis ion seperti : ion Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), Magnesium (Mg).   Konsentrasi ion-ion tersebut dalam setiap tanaman berbeda-beda. Tanaman Heliantus A.L biasanya mengandung ion Phosphor (P) yang tinggi dan dapat dimanfaatkan sebagai Pestisida Organik, sedangkan tanaman MCL mengandung ion Kalium (K) dan Magnesium (Mg) yang tinggi. Berdasarkan kandungan ion-ion tersebut maka kedua jenis tanaman tersebut dapat dikembangkan menjadi bahan baku pupuk yang bersifat organik.

g.   Produksi pupuk hijau yang mempergunakan bahan baku daun/ranting selama ini tidak diproses secara baik atau hanya menggunakan proses komposting, pada proses ini daun/ranting ditambahkan effectivated microorganism (EM). Proses ini membutuhkan waktu yang lama kurang lebih 2-3 bulan dan juga akan kehilangan sejumlah ion akibat terjadinya LEACHING (pencucian) karena hujan. Proses komposting perlu dilakukan pengembangan dalam rangka optimalisasi proses dan kualitas produk pupuk, salah satu pengembangan proses komposting adalah Proses EKSTRAKSI DAN FERMENTASI.  Proses ini dapat menghasilkan dua (2) jenis produk pupuk yaitu produk pupuk hijau cair dan padat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

11.2. PUSTAKA

 

a. Pupuk

      Pupuk merupakan suatu bahan yang mengandung berbagai jenis unsur baik unsur makro seperti Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca) dan Sulfur (S) dan unsur mikro : Besi (Fe), Mangan (Mn), dan Clorida (Cl) yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangan agar dapat berproduksi menghasilkan  produk yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.         

Berdasarkan bahan baku yang dipergunakan dalam produksi pupuk, terdapat 2 jenis pupuk yaitu PUPUK ORGANIK dan ANORGANIK. Pupuk organik merupakan pupuk dengan bahan baku organik seperti limbah dan sisa tanaman serta limbah atau kotoran hewan.  Pupuk anorganik merupakan pupuk dengan bahan baku anorganik seperti pupuk UREA, TSP, KCl, ZA dan DAP maupun NPK.

      Berdasarkan komposisi, pupuk dibagi menjadi pupuk TUNGGAL dan pupuk MAJEMUK. Pupuk tunggal yaitu pupuk yang hanya mengandung satu (1) unsur makro sedangkan pupuk majemuk mengandung lebih dari satu (1) unsur makro.

 

b. Kualitas Pupuk Organik

     Kualitas pupuk ditentukan oleh bahan baku dan kandungan serta konsetrasi unsur-unsur makro dalam pupuk, Kulitas pupuk organik padat dan cair yang berdar dipasaran saat ini seperti tercantum dalam tabel 11.1 dan tabel 11.2.

     Tabel 11.1. Kualitas Pupuk Organik Padat

No

Bahan Baku

Kandungan (%)

N

P2O5

K2O

1 Kotoran unggas

2,10

3,90

1,10

2 Kotoran sapi, serbuk gergaji, abu, kalsit

1,81

1,89

1,96

3 Kotoran ayam

4,10

6,10

2,30

4 Bahan organik, humus, & mikroba tanah

3,26

0,51

2,17

5 Campuran bahan organik

0,51

2,00

3,00

     

Berdasarkan tabel 11.1 diketahui bahwa kualitas pupuk organik padat yang beredar dipasaran saat ini mempunyai kualitas yang berbeda-beda dan dipengaruhi oleh bahan bakunya. Kualitas pupuk organik padat tersebut dipergunakan sebagai acuan dalam menentukan kualitas pupuk hijau padat yang akan dihasilkan dalam penelitian ini.

    

Tabel 11.2. Kualitas Pupuk Organik Cair

No

Merk Dagang

Kandungan (%)

N

P2O5

K2O

1 Alaska

5,00

2,00

2,00

2 Biomikro

1,20

0,10

0,14

3 Florest

2,20

0,20

3,00

4 Trisekar I

3,61

1,24

5,60

5 Pokon

5,00

12,00

4,00

Berdasarkan tabel 11.2 diketahui bahwa kualitas pupuk organik cair yang beredar dipasaran saat ini mempunyai kualitas yang berbeda-beda.  Kualitas pupuk organik cair tersebut dipergunakan sebagai acuan dalam menentukan kualitas pupuk hijau cair yang akan dihasilkan dalam penelitian ini.

c. Pupuk Hijau

    Pemberian nama pupuk HIJAU didasarkan atas bahan-bahan pembentuk pupuk itu sendiri yaitu tanaman atau bagian-bagian tanaman yang masih muda. Bagian-bagian tanaman ini dibenamkan dalam tanah dengan maksud agar dapat meningkatkan tersedianyan bahan-bahan organik dan unsur-unsur hara makro dan mikro bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

Secara umum ciri-ciri tanaman yang dapat dipergunakan sebagai pupuk hijau antara lain :

  1. Pertumbuhan tanaman sangat cepat
  2. Perakarannya dangkal, bagian atas lebat dan sekulen
  3. Tanaman tahan terhadap kekeringan dan mampu tumbuh baik di tanah miskin hara

Pengaplikasian pupuk hijau dengan cara pembenaman secara langsung harus dilakukan secara tepat agar tanah dan tanaman pokok tidak dirugikan karena banyaknya bahan yang belum mengalami pelapukan.

Perkembangan selanjutnya bagian-bagian tanaman dilakukan proses komposting terlebih dahulu sebelum dmanfaatkan sebagai pupuk, pupuk ini biasa disebut pupuk KOMPOS DAUN.  Pada proses komposting akan membutuhkan waktu yang cukup lama kurang lebih 2-3 bulan dan akan kehilangan berbagai jenis unsur hara akibat proses leaching oleh air atau air hujan.

Dalam rangka mengurangi waktu proses komposting dan menghindari hilangnya berbagai jenis unsur hara akibat leaching, perlu dikembangkan proses yang lebih efisien, proses yang lebih efisien yaitu proses EKSTRAKSI DAN FERMENTASI.

d. Kuantitas dan Kualitas tanaman Muntingia C.L dan Heliantus A.L

Indonesia memiliki sumber daya alam cukup melimpah yang perlu dikelola dengan baik untuk menghasilkan suatu produk yang bermanfaat bagi manusia. Salah satu sumber daya alam yang dimiliki Indonesia adalah berbagai Jenis Tanaman. Jenis tanaman Muntingia C. L merupakan jenis tanaman  PENEDUH yang dapat dijumpai diberbagai wilayah di Indonesia dan mudah untuk dikembangkan, hal ini menunjukkan ketersediaan bahan baku tanaman Muntingia C. L diperoleh dengan mudah.  Jenis tanaman Helianthus A.L  merupakan tanaman liar hutan, jenis tanaman ini dapat tumbuh dengan mudah di Indonesia dan dapat dikembangkan dibeberapa daerah, hal ini menunjukkan ketersediaan bahan baku tanaman Heliantus A.L dapat diperoleh dengan mudah.

Berdasarkan hasil analisa laboratorium dan penelitian pendahuluan diketahui kedua jenis tanaman ini baik tanaman Muntingia C.L dan Helianthus A.L mengandung berbagai jenis ion unsur hara seperti : ion Nitrogen (N), Phosphor (P), Kalium (K), Magnesium (Mg), Kalsium (Ca) dan Sulfur (S). Ion-ion unsur hara ini sangat dibutuhkan oleh berbagai jenis tanaman sehingga kedua tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pupuk.  Konsentrasi ion-ion unsur hara dan logam berat dalam setiap daun dan ranting perlu dilakukan pengkajian lebih mendalam untuk menghasilkan produk pupuk yang berkualitas dan tidak mencemari produk pertanian.

e. Proses Produksi Pupuk Hijau Cair dan Padat

Proses produksi pupuk hijau cair dan padat dari daun/ranting tanaman melalui berbagai tahapan operasi utama seperti operasi pencacahan daun dan ranting (size reduction), operasi ekstraksi dan fermentasi, operasi pemisahan padat-cair dan operasi pengeringan pupuk hijau padat.  Setiap tahapan operasi akan mempengaruhi kualitas produk, dengan demikian pada setiap tahapan operasi perlu dilakukan pengkajian untuk menghasilkan pupuk yang berkualitas.

Blok diagram penelitian produksi dan aplikasi pupuk hijau cair dan padat dengan kombinasi proses ekstraksi dan fermentasi seperti gambar 11.1.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.1. Blok Diagram Proses Produksi Pupuk Hijau Cair dan Padat

 

 

f. Faktor-faktor Yang Berpengaruh Terhadap Kualitas Produk Pupuk Hijau Cair dan Padat

Pada produksi pupuk hijau cair dan padat dengan kombinasi proses ekstraksi dan fermentasi melibatkan dua (2) proses utama yaitu proses ekstraksi dan fermentasi.

Proses EKSTRAKSI merupakan proses pemisahan unsur-unsur makro (Nitrogen, Phosphor, Kalium, Magnesium, Calsium dan Sulfur) dalam daun/ranting tanaman dengan mempergunakan pelarut (solven). Sedangkan proses FERMENTASI merupakan proses peruraian (pembusukan) bahan organik oleh mikroorganisme. Proses Fermentasi bertujuan untuk menurunkan ratio C/N pada pupuk hijau padat, hal ini terjadi karena pada proses fermentasi dengan mikroorganisme akan dihasilkan gas berupa gas CO2 sehingga konsentrasi ion C akan menurun mengakibatkan ratio C/N akan turun atau kualitas produk pupuk hijau padat akan meningkat.  Pada proses ini proses ekstraksi dan fermentasi berjalan bersamaan. Berdasarkan kajian proses produksi seperti terlihat dalam gambar 1, berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kualitas produk pupuk hijau cair maupun padat seperti : Ukuran daun/ranting, jenis pelarut (solven), waktu proses ekstraksi dan fermentasi, pengadukan dan temperatur pengeringan produk pupuk hijau padat.

1. Ukuran daun dan ranting

Ukuran daun dan ranting berpengaruh terhadap proses ekstraksi dan fermentasi, semakin kecil ukuran daun/ranting akan mempermudah keluarnya ion-ion (unsure-unsur) makro dalam daun/ranting masuk kedalam media cair,  Hal ini disebabkan semakin kecil ukuran daun/ranting luas permukaan semakin besar dan mempermudah keluarnya ion atau unsur makro dari daun/ranting. Semakin kecil ukuran daun/ranting waktu proses ekstraksi dan fermentasi semakin cepat.

2. Jenis pelarut (solven)

Proses ekstraksi dan fermentasi daun/ranting tanaman dipengaruhi oleh jenis pelarut, hal ini disebabkan ion/unsur makro dalam daun/ranting dapat larut dengan sempurna pada jenis pelarut tertentu, pemilihan jenis pelarut berpengaruh terhadap kualitas pupuk hijau cair mapun padat. Jenis pelarut juga dapat memberikan spesifikasi produk pupuk yang diproduksi, seperti produk pupuk hijau cair ASAM yang bermanfaat pada lahan pertanian basa atau pupuk hijau cair BASA yang bermanfaat bagi lahan pertanian asam.

Pada penelitian ini jenis solven yang dipilih mengandung ion phosphate, hal ini dilakukan karena berdasarkan kajian awal diketahui kualitas produk pupuk hijau cair dan padat konsentrasi ion phosphatenya masih kurang, diharapkan dengan jenis pelarut yang mengandung ion phosphate lebih meningkatkat kualitas produk.

Kualitas produk pupuk hijau cair dan padat juga ditentukan oleh rasio (perbandingan)  berat bahan daun/ranting terhadap volume pelarut. Semakin besar rasio berat bahan/volume pelarut kualitas produk pupuk hijau cair semakin tinggi tetapi jika terlalu besar kualitas produk akan tetap hal ini disebabkan rasio berat bahan/volume pelarut terlalu besar dapat menghambat proses ekstraksi. Dalam mengendalikan kualitas produk perlu mengkaji rasio berat bahan/volume pelarut yang optimal.

3. Waktu Proses Ekstraksi dan Fermentasi

Waktu ekstraksi dan fermentasi sangat mempengaruhi kualitas pupuk hijau cair dan padat, semakin lama waktu ekstraksi jumlah ion yang terakumulasi dalam pupuk cair semakin tinggi berarti kualitas pupuk cairnya semakin tinggi. Semakin lama waktu fermentasi dapat menurunkan konsentrasi ion nitrogen dalam pupuk hijau cairnya tetapi mempercepat proses pembusukan pupuk hijau padatnya.

Dalam rangka mengendalikan kualitas pupuk hijau cair dan padat diperlukan waktu ekstraksi dan fermentasi optimal.

 

4. Pengadukan

   Pengadukan diperlukan untuk mempercepat proses EKSTRAKSI, semakin cepat pengadukan proses ekstraksi berlangsung dengan cepat dan mempercepat waktu proses produksi pupuk.

5. Temperatur pengeringan produk pupuk hijau padat

Temperatur pengeringan mempengaruhi kualitas produk pupuk hijau padat, temperatur  pengeringan terlalu tinggi dapat menurunkan konsentrasi ion nitrogen dalam produk dan jika temperatur terlalu rendah produk masih mengandung air dan dapat mengakibatkan timbulnya jamur pada produk.

 

g. Kualitas Produk Pupuk Hijau Cair dan Padat

Berdasarkan hasil penelitian pendahuluan diketahui kualitas produk pupuk hijau cair dan padat dengan bahan baku daun/ranting tanaman tertentu seperti tercantum dalam tabel 11.3 dan tabel 11.4.

     Tabel 11.3. Kualitas pupuk hijau cair

No

Unsur Hara (Ion)

Konsentrasi ion

(% Berat)

1 Nitrogen (N)

2-3

2 Phosphor (P)

1-2

3 Kalium (K)

15-20

4 Magnesium (Mg)

8-12

     Tabel 11.4. Kualitas pupuk hijau padat

No

Unsur Hara (Ion)

Konsentrasi ion

(% Berat)

1 Nitrogen (N)

3-5

2 Phosphor (P)

0,5 – 1

3 Kalium (K)

10-15

4 Magnesium (Mg)

6-9

Berdasarkan penelitian pendahuluan diketahui kualitas produk pupuk hijau lebih baik dibanding dengan kualitas pupuk organik yang beredar di pasaran saat ini

h. Studi Pendahuluan

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan usulan penelitian diantaranya :

  1. Ketut Sumada, Susilawati, Mohamad Iskak (2007), ”Pembuatan pupuk cair dari daun dan buah kersen”, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pupuk cair. Dalam penelitian ini jenis pelarut yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah air. Berdasarkan hasil penelitian diketahui kualitas pupuk cair yang dihasilkan mengandung ion Nitrogen (2,7%), Phosphor (0,56%), Kalium (20%) dan Magnesium (11%) dan waktu ekstraksi dan fermentasi terbaik adalah 7 minggu.
  1. Ketut Sumada, Niinik K, Yudi Prasetya (2008), ” Kajian produksi pupuk cair dari batang pohon pisang”, penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pupuk organik cair dari limbah batang pohon pisang. Jenis pelarut yang dipergunakan dalam penelitian adalah air. Berdasarkan hasil penelitian diketahui batang pohon pisang mengandung berbagai jenis ion seperti Kalium (K), Phosphor (P) dan Kalsium (Ca). Kualitas produk pupuk organik cair : Ion Kalium (K) : 7-9 %, Phosphor (P) : 3-5% dan Kalsium (Ca) : 6-8% dan waktu ekstraksi dan fermentasi 6 minggu.
  1. Caecilia Pujiastuti, Ketut Sumada (2007), ”Kajian produksi dan Aplikasi biosolid Pada Tanaman Tembaku, Cabe dan Tomat”, Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan biosolid dari air limbah industri dan mengaplikasikan biosolid tersebut pada tanaman tembakau, cabe dan tomat. Hasil penelitian menunjukkan daun tembakau lebih kecil tetapi lebih tebal, jumlah daun panen lebih banyak dan dosis biosolid : 150 gram/pohon. Untuk tanaman cabe, kualitas cabe lebih tahan lama, produksi naik 10-15% dan dosis : 150 gram/pohon. Untuk tanaman tomat, hasil produksi rata-rata perpohon dapat mencapai 3-4 kg dengan dosis : 200 gram/pohon.

11.3. METODE PENELITIAN

 

Penelitian Kajian Produksi dan Kinerja Pupuk Hijau Cair dan Padat dari Tanaman Muntingia C.L dan Helianthus A.L bertujuan untuk produksi dan mengaplikasikan pupuk hijau cair dan padat pada tanaman padi dan jagung serta menghasilkan prototipe industri pupuk hijau cair dan padat.

Penelitian Tahun Pertama

Metode penelitian yang dipilih adalah penelitian laboratorium dan penelitian lapangan yang dilaksanakan dalam dua (2) tahun. Penelitian laboratorium bertujuan untuk menghasilkan produk pupuk cair dan  padat sedangkan penelitian lapangan untuk mengkaji aplikasi pupuk hijau cair dan padat pada tanaman. Blok diagram penelitian seperti gambar 11.2.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 11.2. Blok Diagram Proses Produksi dan Kinerja Pupuk Hijau Cair dan Padat pada tanaman padi dan jagung

 

 

 

 

 

 

Penelitian Tahun Kedua

Penelitian pada tahun kedua merupakan penelitian lapangan yang bertujuan mengkaji kinerja pupuk hijau cair dan padat pada tanaman. Jenis tanaman yang menjadi pengkajian adalah tanaman padi. Sebagai pembanding (kontrol) dipergunakan pupuk Urea, TSP dan NPK. Blok diagram penelitian tahun kedua seperti gambar 11.4.

 

 

 

 

 

Gambar 11.4. Blok Diagram Penelitian Tahun Kedua

1. Kajian Aplikasi Pupuk Hijau Cair dan Padat

Kajian aplikasi pupuk hijau cair dan padat dilakukan dengan memvariasi dosis pupuk hijau cair dan padat yang diberikan per luas lahan pada tanaman padi.  Variasi dosis pupuk hijau cair dan padat dilakukan 4 perlakuan dengan luas lahan kurang lebih 400 m2 per perlakuan. Disamping itu sebagai pembanding dipergunakan pupuk kombinasi antara Urea, TSP dan NPK.

Luas lahan yang diperlukan pada penelitian lapangan ini adalah 4 + 1 x 400 m2 = 2000 m2.

Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Kediri Jawa Timur.

Hasil yang diharapkan dalam kajian ini :

  • Data jumlah produksi gabah per dosis pupuk hijau per luas lahan
  • Dosis pupuk hijau cair dan padat yang optimal
  • Biaya operasional pemakaian pupuk hijau cair dan padat per berat produksi gabah.
  • Rekomendasi pemakaian pupuk hijau cair dan padat pada sektor pertanian

Penelitian ini membutuhkan waktu kurang lebih lima (5) bulan.

 

2. Prototipe.

Prototipe yang dimaksud adalah desain rancangan industri pupuk hijau cair dan padat, rancangan prototipe didasarkan pada kapasitas produksi pupuk hijau cair dan padat tertentu dan perhitungan dimensi peralatan berdasarkan data-data proses yang diperoleh pada penelitian tahun pertama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: