a BAB 1 SPEKTROPHOTOMETER SERAPAN ATOM


BAB 1

SPEKTROPHOTOMETER SERAPAN ATOM

Pokok Bahasan :

Alat spektrophotometer yang secara khusus mengukur konsentrasi bahan kimia berupa atom bukan senyawa disebut spektrophotometer nyala (flame spectrofotometer) yang memakai obyek nyala api pembakar. Berdasarkan metodenya (emisi atau absorpsi), dikenal dua jenis spektrophotometer nyala yaitu Spektrophotometer Emisi Nyala disingkat SEN (Flame Emission Spektrophotometer, FES) dan Spektrophotometer Serapan Atom disingkat SSA (Atomic Absorbtion Spectroscopy, AAS).

Dewasa ini penggunaan AAS semakin diminati, sebab selain bertujuan untuk analisa kualitatif juga dapat digunakan untuk kuantitatif secara akurat. Bahkan dengan kecanggihan alat sekarang yang dapat dilengkapi dengan sistem komputer dalam suatu penelitian kinetika reaksi dengan menggunakan reaktor, alat AAS dapat dihubungkan langsung dengan reaktor tersebut sehingga pengamatan konsentrasi logam dalam campuran dapat dideteksi setiap saat.

Tujuan Instruksional :

  1. Pembaca diharapkan memahami pengertian tentang Proses Absorpsi dalam Spektrophotometer Serapan Atom.
  2. Pembaca diharapkan memahami pengertian tentang Prinsip Kerja Spektrophotometer Serapan Atom.
  3. Pembaca diharapkan memahami pengertian tentang Instrumentasi Spektrophotometer Serapan Atom.
  4. Pembaca diharapkan memahami contoh analisa Spektrophotometer Serapan Atom.

1.1      Pendahuluan

Salah satu metode analisis kimia, baik untuk analisis kuantitatif maupun untuk analisis kualitatif adalah analisis dengan menggunakan alat instrumentasi photometer. Pada garis besarnya alat ini dapat dibedakan menjadi alat kalorimeter dan spektrophotometer. Untuk jenis alat kalorimeter, mengukur serapan sinar diskontinyu melalui sampel larutan bahan / senyawa kimia yang berwarna atau dibuat berwarna, sedangkan pada alat spektrophotometer mengukur serapan sinar yang kontinyu melalui sampel bahan kimia baik berupa senyawa maupun berupa atom. Tergantung jenis sinar yang dideteksi, dikenal spektrophotometer sinar tunggal yang dipakai untuk kawasan spektrum ultraviolet dan cahaya tampak (uv-visibel), juga dikenal spektrophotometer sinar ganda yang dapat mendeteksi sampai kawasan spektrum inframerah.

Alat spektrophotometer yang secara khusus mengukur konsentrasi bahan kimia berupa atom bukan senyawa disebut spektrophotometer nyala (flame spectrofotometer) yang memakai obyek nyala api pembakar. Berdasarkan metodenya (emisi atau absorpsi), dikenal dua jenis spektrophotometer nyala yaitu Spektrophotometer Emisi Nyala disingkat SEN (Flame Emission Spektrophotometer, FES) dan Spektrophotometer Serapan Atom disingkat SSA (Atomic Absorbtion Spectroscopy, AAS). Perkembangan FES dimulai sejak tahun 1990, sedangkan AAS diperkenalkan sekitar tahun 1960. Kedua jenis spektrophotometer nyala ini beroperasi pada suhu nyala berkisar antara 1700 – 3200 0C.

Gambar 1.1       Alat Instrumentasi AAS Type Buck 210 VGP

1.2      Proses Absorpsi Pada Serapan Atom

Pada alat spektrophotometer secara umum, seberkas cahaya monokromatik dengan intensitas cahaya (Io) dilewatkan melalui kuvet dengan diameter (d) dan berisi larutan sampel dengan konsentrasi (C), maka setelah berkas tersebut menempuh jarak (x), intensitas cahaya akan turun menjadi I, seperti Gambar 1.1.

Melalui lapisan tipis dx intensitas cahaya turun sebesar dI, dan akan berbanding lurus dengan I dan jumlah mol C.dx, atau dapat dituliskan:

dI = -k.C.I.dx         …………………………………………………. (1.1)

dimana k adalah konstanta yang antara lain bergantung pada kemungkinan peralihan antara dua nivo energi potensial molekul dalam larutan. Integrasi persamaan diatas dengan batasan pada x=0 (I=Io) sampai x=x (I=I) sebagai berikut :

……………………………. (1.2)

Hasil integrasi persamaan di atas :

                       ln(I / Io) = -k.C.x    ……………….  (1.3)

atau

…………………………. (1.4)

Atau lebih lazim ditulis :

Di mana e disebut koefisien eksitasi dengan satuan lt/mol/cm

Transmisi total setebal kuvet (d) adalah :

                 T = It/Io = Id/Io =   ……………….. (1.5)

Gambar 1.2       Absorpsi sinar oleh larutan sampel dalam kuvet

Persamaan (1.5) ini disebut hukum Lambert-Beer, atau biasa dinyatakan dalam persen transmisi :

% T = T . 100 =   ……………………………………..  (1.6)

Jadi transmisi berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi sampel. Oleh karena penjabaran yang melibatkan fungsi eksponensial sangat rumit, maka digunakan pengertian Ekstingsi (E)  yang dapat dituliskan dalam transmisi (T):

E = – log T     …………………………………………..   (1.7)

Sedangkan hubungan E dengan konsentrasi C :

E = e .C.d   …………………………………………..    (1.8)

Berdasarkan persamaan ini ekstingsi itu berbanding lurus dengan konsentrasi zat yang menyerap cahaya.

Untuk T = 1 (atau 100%) maka ekstingsi E = 0, sebaliknya

Untuk T = 0 maka ekstingsi E = tak terhingga.

1.3      Prinsip Kerja Serapan Atom

Sampel berupa molekul akan didisosiasikan (terurai) menjadi atom-atom di dalam nyala api pada alat spektrophotometer serapan atom, atom menyerap energi sehingga elektron-elektronnya mengalami eksitasi. Energi eksitasi ini berasal dari pancaran sinar sebuah sumber cahaya lampu, dimana energi yang terserap sama dengan selisih energi antara dua nivo energi. Peralihan antara dua nivo energi yang melibatkan posisi dasar biasanya mempunyai intensitas pancaran dan serapan yang lebih kuat daripada kemungkinan peralihan yang lain. Peralihan dari posisi dasar ke posisi eksitasi yang pertama disebut garis resonansi. Garis resonansi ini sangat penting artinya pada atomaborpsi, sebab pada atom absorpsi ini tiap elemen dalam sampel akan menyerap sinar dengan jumlah jarak gelombang yang terbatas dalam kawasan spektrum yang sempit. Dari spektrum serapan ini akan dapat diperoleh data-data mengenai zat sampel. Nyala api gas pembakar molekul / atom yang ada dalam sebuah proses spektrophotometer serapan atom seolah-olah berfungsi sebagai kuvet pada spektrophotometer Ultra Violet – Visibel (UV-Vis).

Dalam prakteknya, kita diharuskan membuat kurva standar antara ekstingsi (serapan) dengan konsentrasi larutan sampel. Dari grafik standar ini kemudian dilarutkan sampel yang telah diukur serapannya, kemudian dapat ditentukan konsentrasinya secara interpolasi atau ekstrapolasi. Namun untuk spektrophotometer serapan atom moderen yang diperlengkapi dengan sistem komputer kalibrasi, standarisasi dan perhitungan semuanya secara otomatis dilaporkan dalam bentuk print out oleh alat tersebut.

Prinsip pengukuran spekterophotometer serapan atom  analog dengan prinsip pengukuran pada serapan molekuler spektrofotometer. Garis yang terpenting dalam spektrophotometer serapan atom adalah garis resonansi. Ukuran lebar alami garis resonansi ini terletak dalam kisaran 0,005 nm. Pada garis ini tidak akan muncul pelebaran garis akibat peralihan vibrasi dan rotasi, sebagaimana halnya pada molekuler spekterofotometer. Garis serapan yang sangat sempit ini merupakan penyebab langsung mengapa sumber cahaya normal yang kontinyu tidak dapat dipergunakan dalam absorpsi. Sebuah monokromator hanya dapat mengisolasikan seberkas sinar sumber cahaya dari suatu kawasan gelombang yang lebarnya sama dengan himpunan spektrum monokromator itu sendiri. Bagi sebuah spektrofotometer, lebar itu terletak pada ordo 0,5 nm. Selain itu sumber cahaya yang kontinyu hanya memancarkan energi yang kecil jumlahnya bagi tiap-tiap kawasan spektrum yang kecil.

Dengan demikian hampir seluruh sinar dalam batas-batas himpunan gelombang monokromator akan jatuh pada detektor, seandainya terjadi serapan maksimal oleh atom-atom dalam nyala api, yang diserapkan hanya sebesar 1% dari seluruh sinar dalam himpunan spektrum itu (kawasan spektrum selebar 0,005 nm dari himpunan yang lebarnya 0,5 nm). Pada alat spektrophotometer serapan atom ini, sinar lampu diarahkan dengan sebuah lensa kepada nyala api dan kemudian dilewatkan melalui sebuah monokromator. Mengingat bahwa lampu tersebut memancarkan beberapa garis karakteristik dari pada unsur, maka umumnya dipergunakan sebuah monokromator yang mengisolasikan garis resonansi yang terpenting, yaitu garis yang timbul akibat perubahan dari posisi teeksitasi dari garis dasar.

Untuk melakukan pengamatan dengan menggunakan alat spektrophotometer serapan atom terhadap unsur-unsur yang dalam nyala api sudah dapat mengemisikan sinar, maka dalam alat spektrophotometer serapan atom tersebut sering diperlengkapi dengan sebuah alat interuptor sinar cahaya (chopper). Alat ini dipasangkan antara lampu dengan nyala api sehingga kepada nyala api tersebut akan jatuh sinar lampu yang terputus-putus secara periodik. Sinar cahaya yang berperiodik ini bertepatan dengan sinar emisi dari nyala api ke detektor. Apabila detektor dihubungkan dengan aplifator arus bolak-balik yang frekwensinya sama dengan frekwensi interuptor, maka yang diregistrasikan hanya sinar yang berasal lampu bukan cahaya yang berasal dari nyala api.

Unsur atau atom yang diselidiki dengan spektrophotometer serapan atom ialah terutama unsur-unsur yang garis resonansinya berada di bawah 500 nm. Untuk unsur-unsur natrium, kalium dan kalsium dapat diukur dangan alat spektrophotometer serapan atom tanpa saling mengganggu terhadap garis-garis spektrumnya. Sedangkan unsur-unsur dalam Tabel 1.1 berikut harus diselidiki secara sendiri bila menggunakan alat spektrophotometer serapan atom. Kegunaan spektrophotometer serapan atom lebih berfokus pada analisis kuantitatif atom-atom logam, hingga saat ini sudah ada sekitar 70 jenis atom yang dapat dianalisis, diantaranya tercantum dalam Tabel 1.1.

Tabel 1.1      Panjang gelombang serapan maksimum berbagai atom logam

Atom

Garis Resonansi (nm)

Ag

328,1

Ar

193.7

Au

142.8

B

249.7

Be

234.9

Ca

422.7

Co

240.7

Cr

357.9

Cu

324.7

Fe

248.3

Hg

253.7

Mg

285.2

Na

589.0

Ni

232.0

Pb

283.3

Pt

265.9

Sb

217.5

Se

296.0

Ti

364.6

Tl

276.8

U

351.4

Zn

215.8

(Ewing G. W., 1975)

Konsentrasi larutan sampel sekecil mungkin, tidak lebih 5% dalam pelarut yang sesuai (biasanya dalam skala ppm bahkan ppb). Larutan sampel dikehendaki dalam kondisi asam, sehingga jika sampel logam harus dilebur dalam alkali maka kemudian harus diasamkan lagi. Hindari pemakaian pelarut aromatik atau halogenida, pelarut organik yang lazim dipakai adalah keton, ester, dan etil asetat dengan tingkat kemurnian yang tinggi atau pro analitis (p.a).

1.4      Instrumentasi Serapan Atom

Pada sistem instrumentasi spektrophotometer serapan atom dikenal dua jenis sistem optik yaitu berkas tunggal dan berkas ganda, namun yang banyak digunakan dalam spektrophotometer serapan atom modern adalah jenis berkas ganda, seperti Gambar 1.3.

Gambar 1.3     Skema instrumentasi spektrophotometer serapan atom berkas ganda

Beberapa komponen utama pada instrumentasi spektrophotometer serapan atom adalah sebagai berikut :

1.4.1   Sumber Cahaya

Sumber cahaya berupa lampu yang dapat memancarkan energi yang cukup. Ada jenis lampu yang dapat memancarkan spektrum kontinyu sebaliknya ada lampu yang dapat memancarkan spektrum garis. Untuk spektrofotometer tipe spektrophotometer serapan atom dipergunakan jenis lampu katoda dengan spektrum garis. Dalam hal ini diperlukan sinar dengan lebar berkas yang sangat sempit dimana garis emisinya harus sesuai dengan garis resonansi unsur atau atom yang diselidiki. Lampu katoda terdiri atas sebuah katoda berongga berbentuk tabung dan berhadapan dengan anoda dari kawat wolfram, keduanya terbungkus dengan bahan gelas. Lampu ini diisi dangan gas mulia seperti argon, neon, helium atau krypton sampai tekanan maksimal 1 cmHg. Pada anoda dan katoda dipasang tegangan sebesar kira-kira 300 V dan melalui katoda dialirkan arus sebesar 10 mA. Karenanya katoda menjadi pijar dan mengakibatkan penguapan atom logam yang elektron-elektronnya mengalami eksitasi dalam rongga katoda. Lampu ini akan memancarkan emisi spektrum yang khas untuk logam bahan penyusun katoda.

Kelemahan lampu katoda berongga ini adalah bahwa pada alat spektrophotometer serapan atom harus dipergunakan lampu dengan katoda yang dibuat dari elemen atau unsur yang sejenis dengan unsur yang dianalisis. Untuk itu menjadi perhatian bahwa jumlah unsur yang akan diteliti bergantung pada jumlah lampu yang sesuai dan tersedia, setiap unsur masing-masing memiliki lampu sendiri. Sebetulnya ada jenis lampu yang baru yang dapat dipergunakan untuk beberapa jenis unsur. Tetapi pada prinsipnya katoda lampu ini dibuat dari campuran beberapa logam, ada jenis lampu yang terdiri dari gabungan logam tembaga dan magnesium, ada lampu gabungan tembaga dan krom. Bahkan telah ada lampu gabungan dari enam unsur logam, yaitu logam tembaga, magnesium, krom, besi, nikel dan kobal.

1.4.2   Monokromator

Monokromator merupakan suatu alat yang diletakkan diantara nyala dan detektor pada suatu rangkaian instrumentasi spektrophotometer serapan atom. Ada dua jenis monokromator yang dipakai yaitu monokromator celah dan kisi difraksi.

1.4.3   Gas dan Alat Pembakar

Gas dan alat pembakar pada spektrophotometer serapan atom dikenal dua jenis gas pembakar yang bersifat oksidasi dan bahan bakar. Gas pengoksidasi misalnya udara (O2) atau campuran O2 dan N2O, sedangkan sebagai bahan bakar adalah gas alam, propane, butane, asetilen dan H2. Gas pembakar dapat pula berupa campuran udara dengan propane, udara dengan asetilen (terbanyak dipakai) dan N2O dengan asetilen. Alat pembakar untuk mendapatkan nyala api juga perlu diperhatikan. Ada kalanya dipakai teknik tanpa nyala yang dikembangkan pada spektrophotometer serapan atom modern. Baik teknik nyala api maupun teknik tanpa nyala api diharapkan memperoleh uap atom netral suatu unsur dalam sampel. Teknik dengan nyala api yang banyak terpakai, yang perlu dikembangkan adalah panjang atau lebar nyala api (sebab dianggap sebagai kuvet) sehingga dapat memenuhi hukum Lambert-Beer di atas.

1.4.4   Kuvet

Kuvet merupakan suatu tempat untuk nyala api dan atom-atom yang ada didalamnya, seolah-olah berfungsi sebagai kuvet.

1.4.5   Detektor

Detektor berfungsi sebagai alat penguat dari spektrum cahaya yang telah melewati sampel. Syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah detektor adalah memiliki respon yang linear terhadap energi sinar dalam kawasan spektrum yang bersangkutan. Pada spektrophotometer serapan atom detektor yang lazim dipakai adalah Detektor Tabung Pengadaan (Photon Multiplier Tube Detector, PMTD).

1.5      Prosedur Kerja Serapan Atom

Pada prakteknya, ada dua tahap utama yang perlu dilakukan dalam analisis logam menggunakan spektrophotometer serapan atom. Tahap pertama adalah pembuatan kurva standar dangan menggunakan larutan standar logam yang telah tersedia sesuai dengan jenis logam yang akan dianalisis (minimal tiga titik). Kurva standar di sini merupakan hubungan antara serapan sebagai fungsi konsentrasi (biasanya skala ppm atau ppb), sesuai hukum Lambert-Beer maka kurva ini diharapkan linear. Tahap kedua adalah tahap analisis yang sesungguhnya, yaitu dengan mengukur langsung serapan sampel larutan logam. Nilai serapan ini kemudian diplotkan pada kurva standar secara ekstrapolasi atau interpolasi sehingga konsentrasi sampel yang diukur dapat ditentukan.

Berikut ini prosedur pengoperasian alat AAS type BUCK 210 VGP

1.5.1   Prosedur Awal

  1.  1.  Pasang lampu hallow cathode lamppada soket lampu
    1. Buka katup gas dan atur hingga tekanan 50 psi untuk air/N2O dan 14 psi untuk asetilen
    2. Nyalakan scalar power yang berada di panel belakang alat
    3. Hidupkan sistem ventilasi atau blower udara
    4. Periksa loop dan pastikan telah berisi air
    5. Siapkan sampel, kalibrasi standar dan blank

1.5.2   Optimasi

  1. Tekan tombol <lib> untuk memasukan pustaka, tekan tombol <sel> untuk memilih lampu (posisi lampu paling atas adalah yang aktif). Gunakan panah <up/down> untuk memilih element. Untuk flame gunakan file fg format Xx-D2-wl dan untuk furnace gunakan format Xx-furn-wl, untuk emission format Xx-emiss-wl. Tekan <2> untuk masuk dan kemudian <enter> lalu <esc>
  2. Ulangi prosedur di atas untuk jenis lampu yang lain sesuai kebutuhan
  3. Arahkan ke element pertama yang diinginkan, untuk menetapkannya maka gunakan tombol <sel> kemudian tekan <esc>. Ikuti prosedur pada layer untuk mengatur panjang gelombang dan lampu untuk energi yang maksimum menggunakan tampilan bargraph atau angka. Jika pada skala off tekan tombol <align>, untuk membuat skala bargraph. Pastikan lebar selah slit di set pada posisi yang benar. Energi yang khas berada pada 2-4
  4. Tekan tombol <a/z> ketika telah selesai untuk masuk ke active analysis dan autozero.
  5. Jika background dalam posisi off maka hidupkan dengan tombol <bkgnd> kecuali jika tidak diperlukan, lalu tekan tombol <a/z> untuk membersihkan setiap ada pesan error

1.5.3   Kalibrasi

  1. Tekan tombol <cal> untuk memasuki layer kalibrasi
  2. Kolom pertama kiri harus berlabel 151, 152, 153, 154. Kolom kedua harus berlabel auotzero, std1, std2, std3. Tekan tombol <sel> pindahkan kursor ke sebelah kanan untuk kolom <conc> dan masukkan nilai standar anda. Jika ingin tambah standar lagi lanjutkan menambah #’s pada kolom pertama (mis: 155, 156) lalu ketik di konsentrasi
  3. Tekan tombol <cntls> dari menu kalibrasi dan anda dapat menentukan unit-unit yang dilaporkan pada nomor yang akan dijalankan dan derajat polynomial yang akan digunakan. Tekan tombol <esc> jika selesai.
  4. Tekan tombol <start> dari layer kalibrasi dan ikuti petunjuk di layer.
  5. Ketika selesai tekan tombol <cal> dan jika tidak ada pesan error tekan <yes> untuk perhitungan lalu <enter> untuk melihat grafik dan pastikan titiknya sesuai atau mendekati garis.
  6. Tekan tombol <esc> sampai kembali ke layar <active analysis> dan siap dijalankan.

1.5.4   Analisis

  1. Tekan <enter> untuk membuka display, aspiritkan  blank untuk memeriksa kalibrasi pada saat analisis, jika nilai kalibrasi menyimpang dari nol maka dapat direset dengan mengaspirasi blank dan menekan tombol <a/z> lalu standar tertinggi menekan <rslp>.
  2. AAS 210 dapat membaca continously dengan menekan <enter> untuk membuka display atau menggabungkan nilai display dengan tombol <read>. Jika <read key sampling> dalam kondisi ON, artinya AAS 210 akan menanyakan untuk suatu nomor yang akan dianalisis.
  3. 3.   Jika tombol <start> ditekan software akan memulai pada table <smpls> dan melanjutkan sampai akhir.

1.5.5   Shut-Down

  1. Aspiritkan blank selama 1-2 menit untuk mencuci nebulizer dan blok spray chamber
  2. Tutup asetilen lalu ketika flame dipadamkan tutup air
  3. Matikan scalar Power alat jika telah selesai
  4. Tutup regulator utama dari silinder gas atau buka tutup aliran jika menggunakan kompresor udara
  5. Hentikan atau simpan tiap solusi, jangan tinggalkan solusi asam di depan AAS
  6. Periksa tampungan air dalam botol dan kosongkan jika penuh
  7. Lindungi AAS 210 VGP dari debu atau kontaminasi menggunakan cover unit

1.6      Contoh Analisa

Diukur serapan larutan standar Pb dangan konsentrasi 0,5 ; 1 dan 2,5 ppm pada panjang gelombang optimumnya yaitu l = 283,3 nm diperoleh hasil pengukuran berupa serapan sebagai berikut:

Tabel 1.2. Data konsentrasi dan serapan

Konsentrasi (ppm)

Serapan

0,5

0,04

1

0,091

2,5

0,1789

Berdasarkan data hasil pengukuran larutan standar tersebut selanjutnya dibuat kurva standar sekaligus dengan persamaan linearnya, sebagai berikut:

 

Gambar 1.4       Kurva Standar Logam Pb

Jika misalnya pengukuran larutan contoh Pb memberikan serapan sebesar A=0,09, maka konsentrasi larutan contoh Pb tersebut dapat ditentukan dengan cara memplotkan nilai serapan tersebut pada grafik di atas atau dihitung menggunakan persaman regresi linear di atas, yaitu:

A= 0,0669C + 0,014

→ C = (A-0,014)/0,0699

= (0,09-0,014)/0,0699

= 1,0873 ppm

 

1.7      Latihan Soal

Berilah tanda silang pada huruf B jika pernyataan di bawah ini Benar dan huruf S jika pernyataan Salah

1). B – S       Salah satu metode analisis kimia, baik untuk analisis kuantitatif maupun kualitatif adalah menggunakan alat instrumentasi photometer.

2). B – S       Spektrophotometer Serapan Atom (SSA) dibedakan menjadi dua bagian yaitu alat kalorimeter dan spectrophotometer.

3). B – S       Alat spektrophotometer serapan atom dapat mengukur konsentrasi bahan kima berupa atom dan bukan senyawa dengan memakai obyek nyala api pembakar.

4). B – S       Spektrophotometer nyala terdiri dari dua yaitu Spektrophotometer Emisi Nyala disingkat SEN (Flame Emission Spektrophotometer, FES) dan Spektrophotometer Serapan Atom disingkat SSA (Atomic Absorbtion Spectroscopy, AAS).

5). B – S       Kedua jenis spektrophotometer nyala beroperasi pada suhu nyala berkisar antara 1700 – 3200 0C.

6). B – S       Hukum Lambert-Beer biasa dinyatakan dalam persen transmisi, dimana persen transmisi berkurang secara eksponensial dengan bertambahnya konsentrasi sampel.

7). B – S       Sampel berupa molekul akan didisosiasikan (terurai) menjadi atom-atom di dalam nyala api pada alat spektrophotometer serapan atom, atom menyerap energi sehingga elektron-elektronnya mengalami eksitasi.

8). B – S       Nyala api gas pembakar molekul / atom yang ada dalam sebuah proses spektrophotometer serapan atom seolah-olah berfungsi sebagai kuvet pada spektrophotometer Ultra Violet – Visibel (UV-Vis).

9). B – S       Unsur atau atom yang dianalisa dengan spektrophotometer serapan atom adalah unsur-unsur yang mempunyai garis resonansi di bawah 500 nm.

10). B – S     Dalam spektrophotometer serapan atom menghindari pemakaian pelarut aromatik (halogenida) dan pelarut organik , yang lazim dipakai adalah keton, ester, dan etil asetat dengan tingkat kemurnian yang tinggi atau pro analitis (p.a).

Lingkarilah a, b, c, d pada jawaban yang saudara anggap paling benar.

1).  Untuk spektrofotometer tipe spektrophotometer serapan atom dipergunakan jenis lampu: a. lampu katoda dengan spektrum garis, b. lampu anoda dengan spektrum garis, c. lampu katoda dengan spektrum gelombang, d. lampu anoda dengan spektrum gelombang.

2). Pada spektrophotometer serapan atom dikenal dua jenis gas pembakar yang bersifat oksidasi dan bahan bakar: a. H2 dan gas alam, b. N2O dan propane, c. butane dan asetilen, d. O2 dan  asetilen.

3). Syarat yang harus dipenuhi oleh sebuah detektor adalah memiliki respon terhadap energi sinar dalam kawasan spektrum yang bersangkutan, harus mempunyai bentuk garis: a. kwadrat, b. polinomial, c. linier, d. lurus.

4).   Jika misalnya pengukuran larutan contoh Pb memberikan serapan sebesar A=0,09 ; maka konsentrasi larutan contoh Pb tersebut dapat ditentukan dengan cara memplotkan nilai serapan tersebut menggunakan persaman regresi linear dengan persamaan A= 0,0669C + 0,014 ; maka besar konsentrasi larutan contoh Pb adalah: a. 1,0873; b. 1,0738, c. 1,0378, d. 1,0387.

5).   Ukuran lebar alami garis resonansi terletak dalam kisaran:  a. 0,004 nm, b. 0,005 nm, c. 0,006 nm, d. 0,007 nm


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: