a BAB 6 KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

BAB VI

KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI

 

Pokok Bahasan :

Dalam bab ini dibahas tentang alat HPLC kromatografi kolom karena dipakai fase diam yang diisikan atau terpacking didalam kolom. Tetapi bila ditinjau dari pemisahannya, HPLC termasuk kromatografi adsorpsi atau kromatografi partisi atau asas lainnya tergantung jenis kolom yang dipakai dan analit yang ditentukan. Jadi tergantung pada butiran-butiran fasa diam yang ada didalam kolom apakah sebagai fasa padat murni atau disebut cairan.

Teori dasar tentang HPLC, meliputi : Profil Kromatogram, Waktu Tambat, Faktor Kapasitas, Jumlah Plat Teori, Jarak Setara Pelat Teori, Persamaan Van Deemter, Resolusi, Faktor Simetri, Gerbang Suntik, Kolom HPLC. Dalam pelaksanaan analisis dengan HPLC perlu diperhatikan tentang hal-hal sebagai berikut: Pemilihan Pelarut Pengembang HPLC, Pemilihan Kolom, Penggunaan Kolom, Penyiapan Sampel, Metode Analisis HPLC, Gangguan pada HPLC dan cara Penanganannya.

Tujuan Instruksional :

  1. Pembaca diharapkan memahami pengertian tentang alat HPLC.
  1. Pembaca diharapkan memahami pengertian tentang teori HPLC
  2. Pembaca diharapkan memahami pengertian tentang pelaksanaan analisis dengan HPLC
  3. Pembaca diharapkan mampu menjalankan prosedur kerja HPLC.
  1. Pembaca diharapkan memahami contoh analisa HPLC.

 

 

6.1      Pendahuluan

HPLC singkatan dari ”High Perfomance Liquid Chromatography” atau ”High Pressure Liquid Chromatography”, kadang-kadang HPLC diistilahkan LC (Liquid Chromatography) atau di Indonesia diistilahkan KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi).

Dari sistem peralatannya, HPLC termasuk kromatografi kolom karena dipakai fase diam yang diisikan atau terpacking didalam kolom. Tetapi bila ditinjau dari pemisahannya, HPLC termasuk kromatografi adsorpsi atau kromatografi partisi atau asas lainnya tergantung jenis kolom yang dipakai dan analit yang ditentukan. Jadi tergantung pada butiran-butiran fasa diam yang ada didalam kolom apakah sebagai fasa padat murni atau disebut cairan.

Perkembangan HPLC berawal dari proses pemisahan yang berazaskan absorpsi dari partisi ke arah yang lebih luas yaitu proses pemisahan yang berazaskan afinitas, filtrasi gel dan ion yang berpasangan, akan tetapi proses pemisahannya tetap dilaksanakan didalam kolom disertai pemakaian pelarut pengembang dengan tekanan tinggi.

Gambar 6.1   Alat Instrumentasi HPLC

Maksud dan tujuan analisis dengan HPLC hanya ada dua hal yaitu : didapatkannya pemisahan yang baik dan proses analisis barlangsung dalam waktu relatif singkat. Untuk tercapainya maksud dan tujuan tersebut, maka diperlukan penataan yang betul-betul sudah dipersiapkan dan diperhitungkan antara lain:

  • Dipilih pelarut pengembang atau pengembang campuran yang sesuai untuk komponen yang dipisahkan.
  • Berkaitan dengan pemilihan pelarut pengembang fasa mobil maka kolom yang dipakai juga harus diperhatikan.
  • Detektor yang memadai
  • Pengetahuan dasar HPLC yang baik serta pengalaman dan keterampilan kerja yang baik.

Kalau analisa dengan HPLC dapat dilaksanakan dengan baik, maka dapat dikatakan derajatnya sama dengan GLC (Kromatografi Gas Cair) yang memakai kolom kapiler.

HPLC memiliki beberapa keuntungan seperti :

  • Dapat dilakukan pada suhu kamar.
  • Kolom dan pelarut pengembang dapat digunakan berkali-kali
  • Detector HPLC dapat divariasi dan banyak jenisnya
  • Waktu analisis pada umumnya singkat
  • Ketepatan dan ketelitiannya yang relatif tinggi
  • Mudah dioperasikan secara otomatis

Ruang lingkup Penggunaan HPLC sering tumpang tindih dengan penggunaan Kromatografi Gas. Secara umum, biaya yang digunakan untuk keperluan HPLC lebih besar dari pada kromatografi gas, sehingga seolah-olah kromatografi gas akan lebih banyak dari pada  HPLC. Biaya tersebut meliputi alat instrumentasi HPLC, kolom dan fasa geraknya, Namun masih banyak senyawa organik yang tidak stabil atau tidak dapat menguap bila dianalisa dengan kromatografi gas tanpa suatu modifikasi kimiawi sehingga HPLC merupakan pilihan pertama untuk senyawa organik yang tidak stabil atau tidak menguap seperti bahan-bahan farmasi, makanan/minuman, biokimia, kosmetik, serta bahan yang berhubungan dengan lingkungan akan lebih sesuai dipisahkan menggunakan HPLC.

6.2      Teori Dasar HPLC

6.2.1  Profil Kromatogram

Idealnya profil setiap kromatogram HPLC merupakan suatu garis tegak lurus bagi masing-masing analit (Gambar 6.2.a). Namun keadaan demikian tidak akan dijumpai pada pelaksanaan analisis dengan HPLC. Kromatogram HPLC merupakan hubungan antara waktu sebagai absis dan tanggap detektor sebagai ordinat pada sistem koordinat cartesian, dimana titik nol dinyatakan sebagai saat dimulainya injeksi sample. Molekul-molekul sampel yang diinjeksikan menuju kolom analisis tidak akan berkumpul pada satu titik secara serempek dalam waktu yang sama. Demikian pula tiap-tiap molekul analit akan mengalami hambatan fasa diam didalam kolom dengan waktu yang berbeda. Oleh karena itu semua molekul analit tidak serempak keluar dari kolom. Molekul analit akan keluar dari kolom tersebut secara cak dan demikian pula untuk respon detector terhadap analit keluar dari kolom tidak serempak terhadap semua molekul. Sebagai akibat kenyataan tersebut, maka profil kromatogram akan melebar secara ideal membentuk kurva Gauss (Gambar 6.2.b)

Parameter-parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu kromatogram, yaitu : waktu tambat, faktor kapasitas, jarak setara plat teori, resolusi dan faktor simetri.

Gambar 6.2   Profil kromatogram HPLC

            Setelah mengetahui profil kromatogram dari pemisahan suatu analit, maka harus dapat diketahui kualitas pemisahannya yaitu faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kualitas pemisahan dan variabel analitik yang digunakan untuk memperbaiki kualitas tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu ukuran yang analit tersebut telah terpisah satu sama lain secara sempurna.

Dalam bab ini akan dibahas mengenai parameter-parameter yang dapat dipergunakan untuk mengetahui kualitas suatu kromatogram, yaitu: waktu tambat, jarak setara pelat teori, faktor kapasitas dan resolusi.

6.2.2  Waktu Tambat

Pada Gambar 6.3. terdapat tiga macam puncak, dua buah puncak yang berukuran besar adalah puncak-puncak yang dihasilkan oleh analit yang tertahan pada fasa diamnya pada sistem kesetimbangan distribusi yang tegas (dinamis). Di samping itu terdapat puncak kecil yang dihasilkan oleh analit yang tidak tertahan oleh fasa diam, namun bersama fasa gerak keluarbdari kolom dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan fasa geraknya.

Gambar 6.3. Perhitungan waktu tambat kromatogram

Selang waktu yang diperlukan oleh analit mulai saat injeksi sampai keluar dari kolom dan sinyalnya secara maksimal ditangkap oleh detektor disebut sebagai waktu tambat atau waktu retensi (retention time). Waktu tambat analit yang tertahan pada fase diam dinyatakan sebagai tR. Sedangkan waktu tambat analit yang tidak tertahan pada fase diam atau sering disebut sebagai waktu tambat pelarut pengembang dinyatakan to atau tM. Harga to akan lebih kecil dari harga tR, karena yang akan mencapai ujung kolom lebih dahulu adalah pelarut pengembang atau pelarut pengembang campur. Waktu tambat analit dikurangi dengan dengan waktu tambat pelarut pengembang atau pelarut pengembang campur disebut waktu tambat terkoreksi (tR), yang dinyatakan sebagai tR’.

 

                                            ……………………………  (6.1)

Waktu tambat yang dinyatakan dalam satuan waktu (menit) memberi arti yang sangat penting dalam analisis kualitatif dengan HPLC.

Berikut ini akan dibahas hubungan antara tR’ , tM, dan Kd, telah diketahui bahwa :

Dimana Cs dan Cm masing-masing sebagai konsentrasi analit dalam fase diam dan fase bergerak. Kalau harga Kd kecil, maka analit akan lebih banyak di dalam fasa gerak (Cm > Cs) yang berarti analit akan lebih lama tinggal didalam fasa gerak.

Kesetimbangan analit didalam fasa gerak dan fasa diam merupakan suatu kesetimbangan yang dinamis, artinya fraksi waktu analit berada dalam fasa gerak setara terhadap fraksi jumlah analit yang berada di dalam fasa gerak, pernyataan tersebut dapat dinyatakan sebagai berikut :

                            ………………………….  (6.2)

Dimana Vm dan Vc adalah volume fase gerak dan volume fase diam.

Kalau jarak tempuh analit adalah d dan kecepatan fase gerak adalah m, maka : d = m.t

Jika panjang kolom adalah L, maka :

Dalam hal ini tM = L/m ,

                                         …………………..  (6.3)

Dari persamaan yang terakhir bahwa harga tM , Vs , Vm dapat diatur. Dengan demikian harga tR akan menjadi spesifik untuk tiap-tiap analit. Campuran zat yang diinjeksikan untuk dianalisis dengan HPLC tentu mempunyai harga tR yang berbeda karena tiap-tiap analit mempunyai Kd yang spesifik.

6.2.3  Faktor Kapasitas

Faktor kapasitas (k’) merupakan ciri khas suatu analit pada kondisi tertentu, yaitu pada komposisi fase gerak, suhu dan jenis kolom (panjang kolom, diameter kolom dan ketebalan lapisan film) tertentu. Meskipun suatu puncak kromatogram dapat diidentifikasi melalui waktu tambatnya, namun akan lebih baik bila diidentifikasi dengan menggunakan faktor kapasitas karena harga waktu tambat dapat berubah-ubah sesuai dengan panjang kolom dan kecepatan alir fasa geraknya.

Faktor kapasitas dapat memberikan gambaran dimana puncak-puncak analit terelusi secara relatif terhadap puncak fasa geraknya, faktor kapasitas (k’) dinyatakan sebagai berikut :

                                       ……………………………….  (6.4)

 adalah waktu tambat terkoreksi dan tO adalah waktu tambat fase gerak, harga faktor kapasitas (k’) yang baik berkisar antara 1 dan 10. Bila harga k’ kecil berarti puncak-puncak analit belum saling berhimpitan (overlapping) dengan puncak fasa geraknya. Sedangkan harga k’ yang besar menunjukkan bahwa waktu pemisahan yang dilakukan terlalu lama. Faktor kapasitas hanya menjamin pemisahan dua puncak kromatogram pada bagian atasnya saja.

6.2.4  Jumlah Plat Teori

Jumlah plat teori (N) adalah banyaknya distribisi keseimbangan dinamis yang terjadi didalam suatu kolom, digunakan untuk mengetahui efisiensi suatu kolom kromatografi, dimana harga N diperoleh melalui persamaan berikut :

                     ………………………  (6.5)

Dimana :

tR      = waktu tambat analit

W     = lebar pada dasar puncak

W1/2  = lebar pada setengah tinggi puncak

Dalam proses pemisahan diharapkan untuk menghasilkan harga N yang sebesar-besarnya. Pada umumnya efisiensi kolom HPLC meningkat dengan semakin kecilnya ukuran partikel yang ada didalam kolom. Kolom fasa terbalik (RP) yang menggunakan silika mempunyai 50000 pelat/meter bila dikemas dengan menggunakan partikel yang berukuran 5 mm. Jika dikemas dengan partikel yang berukuran 10 mm akan dihasilkan 25000 pelat/meter. Berapakah jumlah pelat yang dihasilkan oleh kolom fasa terbalik (RP) yang mempunyai panjang 12,5 cm dan dikemas dengan partikel yang berukuran 5 mm?.

6.2.5  Jarak Setara Pelat Teori (JSPT)

JSPT disebut juga TSPT (Tinggi Setara Plat Teori), secara internasional dikenal HETP (High Equvalent of Theoretical Plate) atau disingkat huruf H saja. JSPT adalah panjang kolom kromatografi (mm) yang diperlukan sampai terjadinya satu kali kesetimbangan distribusi dinamis molekul analit dalam fase gerak dan fase diam. Gambar 6.4. adalah ilustrasi yang memudahkan untuk memahami tentang JSPT dalam kromatografi.

Gambar 6.4. Ilustrasi tentang JSPT dalam kolom

Panjang kolom dirumuskan sebagai berikut :

H = L / n,     atau
H = L / N

Ada beberapa ilmuwan yang menghubungkan haega H sebagai pengukur efisiensi kolom yaitu sebagai berikut :

                                           1/H = N/L   ……………………………..  (6.6)

N/L adalah bilangan yang menunjukkan jumlah pelat teori efektif persatuan panjang kolom, misalnya 3000 pelat/meter untuk harga H = 0,33 mm. Makin besar harga N/L atau makin kecil harga H maka makin efisien kolom yang dipakai untuk pemisahan. Disamping panjang kolom ada dua parameter lainnya yang juga mempengaruhi efisiensi kolom.

6.2.6  Persamaan Van Deemter

Van Deemter mengemukakan suatu persamaan antara JSPT terhadap laju aliran fase gerak (m), persamaan Van Deemter ini berlaku juga untuk Kromatografi gas. Hubungan antara JSPT (H) terhadap laju alir fase gerak (m) digambarkan oleh Van Deemter sebagai grafik yang mendekati parabola atau elips, seperti terlihat pada Gambar 6.5.

Gambar 6.5  Kurva persaman Van Deemter

Pada kurva akan didapat laju alir fase gerak yang optimal dan harga JSPT yang minimal, secara umum persamaan Van Deemter sebagai berikut:

H = A + B / m + C. m ……………………………………………….  (6.7)

dimana :

A = difusi pusaran (Eddy diffusion)

B = difusi molekul fase gerak

C = tahanan alih massa

m = kecepatan alir fase gerak

 

  • Difusi Pusaran (Eddy Diffusion)

Difusi pusaran adalah suatu istilah untuk menggambarkan adanya perbedaan jalur aliran yang dilalui oleh molekul-molekul analit yang terjadi didalam kolom. Perbedaan jalur aliran ini terjadi karena partikel fasa diam mempunyai ukuran dan bentuk yang berbeda-beda. Selain itu juga disebabkan oleh pengemasan kolom yang tidak sempurna sehingga menimbulkan ruang kosong didalam kolom. Molekul-molekul analit akan menempuh jarak yang berbeda dalam waktu tertentu meskipun molekul-molekul tersebut melaju dengan kecepatan yang sama.

Gambar 6.6  Mekanisme difusi pusaran

Untuk mengurangi pengaruh difusi pusaran ini dapat dilakukan dengan jalan mengurangi perbedaan jalur aliran yang dilalui molekul analit dengan cara mengemas kolom dengan ukuran partikel seragam.

  • Tahanan Alih Massa

Efek ini timbul karena adanya molekul analit yang berinteraksi dengan molekul fasa diamnya. Molekul-molekul analit ini akan terikat terlebih dahulu pada molekul fasa diam selama beberapa saat sebelum berada di dalam fasa gerak untuk keluar dari kolom. Molekul analit yang berinteraksi ini akan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk keluar dari kolom apabila dibandingkan dengan molekul analit yang tidak berinteraksi dengan fasa diam.

 

Gambar 6.7    Mekanisme tahanan alih massa

Efek tahanan alih massa ini dapat dikurangi dengan menggunakan ukuran partikel yang kecil atau partikel yang mempunyai ukuran pori yang kecil. Disamping itu dapat juga digunakan fasa gerak yang mempunyai viskositas yang rendah.

  • Difusi Molekul Fasa Gerak

Efek ini timbul karena adanya molekul analit yang berada dalam fasa gerak mengalami difusi ke dalam kolom. Difusi ini akan terjadi lebih lama apabila molekul analit tersebut berada didalam kolom dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu untuk mengurangi pengaruh difusi ini diperlukan peningkatan kecepatan aliran fasa geraknya.

Gambar 6.8  Mekanisme difusi molekul fasa gerak kedalam kolom

 

Fasa gerak (G) akan menurun apabila kecepatan fasa gerak ditingkatkan, sedangkan difusi pusaran (A) dan tahanan alih massa (C) memerlukan kecepatan alir yang rendah untuk mengurangi timbulnya efek tersebut. Oleh karena itu Van Deemter membuat suatu kurva yang merupakan penjumlahan dari ketiga kurva yang telah ada. Hal ini dimaksukkan untuk mendapatkan kecepatan aliran fase gerak (m) yang optimal dan JSPT (H) yang minimal.

Untuk mendapatkan harga Hmin dan mopt, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan HPLC, yaitu:

  1. Suhu kolom diatur supaya tidak berubah
  2. Efek difusi diusahakan sekecil mungkin
  3. Laju aliran fasa gerak harus konstan
  4. Tidak ada faktor lain yang mengganggu keseimbangan adsorpsi

6.2.7 Resolusi

Apabila dilakukan campuran dua analit dengan metode HPLC maka akan didapat dua puncak yang mempunyai waktu tambat yang berbeda. Sedangkan tujuan utama dari analisis dengan metoda HPLC adalah didapatkannya pemisahan yang lebih baik. Oleh karena itu diperlukan parameter yang dapat menggambarkan pemisahan kromatogram analit tersebut. Parameter yang diperlukan tersebut adalah: resolusi (Rs) dan faktor pemisahan atau faktor selektivitas yang dinyatakan sebagai a. Faktor pemisahan (a) menggambarkan pemisahan antara dua puncak relatif terhadap satu sama lain, dan dinyatakan dengan persamaan berikut:

                                ……………………………….  (6.8)

Dimana a harus > 1.

Resoluasi (Rs) mengukur perbedaan waktu tambat (tR) dari duamacam analit  yang dibagi dengan lebar dasar puncaknya (w).

                                 ……………………………..  (6.9)

Jadi dapat dikatakan bahwa faktor pemisahan (a) hampir sama dengan resolusi (Rs), yang membedakan antara keduanya adalah pada resolusi melibatkan waktu tambat dan lebar dasar puncak, sedangkan faktor pemisahan hanya melibatkan waktu tambat saja (pemisahan bagian atas dari kromatogram).

Gambar 6.9   Pemisahan dua analit

Apabila dua puncak tidak dapat terpisah dengan sejati, maka penentuan lebar dari puncak dapat dilihat pada Gambar 6.10.

Gambar 6.10   Dua puncak yang tidak terpisah

Untuk mencapai resolusi yang optimal diperlukan persamaan sebagai berikut:

                           …………………  (6.10)

a = faktor pemisahan

k = rata-rata faktor kapasitas dari dua puncak

N = rata-rata jumlah pelat

Harga resolusi sangat bervariasi dari dua analit yang mempunyai harga Rs = 1-1,5 dapat dikatakan dua kromatogram dari dua puncak tersebut terpisah 98 – 99,7 %. Apabila dua puncak menghasilkan harga reslusi yang kecil atau bahkan <1, maka dua puncak tersebut saling berhimpitan (overlapping)

6.2.8 Faktor Simetri

Faktor simetri disebut juga tailing factor (TF) yaitu terjadinya pengekoran pada kromatogram sehingga bentuk kromatogram menjadi tidak simetris. Gambar dibawah ini menunjukkan bagaimana mengukur besarnya TF dinyatakan dengan angka nisbah :

TF = BC / AC = b/a

Gambar 6.11   Mengukur besarnya TF pada kromatogram

Untuk kromatogram yang memberikan harga TF = 1 berarti kromatogram tersebut betul-betul simetris. Harga TF > 1 berarti kromatogram tersebut mengekor (tailing), makin besar harga TF maka makin efisien kolom yang dipakai. Bila harga TF < 1 berarti kromatogram tersebut mengandung (fronting), dan dapat diatasi dengan mengurangi volume injeksi awal. Jadi harga TF dapat digunakan sebagai pedoman untuk melihat efisiensi kolom kromatografi. Hubungan efisiensi kolom dengan yang dicerminkan oleh harga N dengan TF atau AF (Asymetrycal) dirumuskan oleh Foley dan Dorsey sebagai berikut:

………………………..   (6.11)

Harga W0,1 adalah berat lebar celah kromatogram pada posisi 10 % dari dasar kromatogram tinggi puncak. Salah satu penyebab terjadinya pengekoran kromatogram adalah ketidakcocokan sampel dengan jenis yang dipakai.

6.3      Instrumentasi HPLC

Secara garis besar instrumentasi serta urutan letak HPLC tampak seperti pada gambar berikut:

Gambar 6.12   Susunan perangkat HPLC

            Keterangan gambar :

1. Botol-botol eluen

2. Pompa tekanan rendah

3. Pompa tekanan tinggi

4. Kolom pelindung

5. Gerbang suntik

6. Kolom analitik

7. Pembuangan

8. Detector

9. Penampung eluen

10. Integrator

11. Kromatogram

Selanjutnya pada bab ini secara terinci akan dibahas masing-masing unit peralatan HPLC yang memegang peranan penting.

6.3.1  Gerbang Suntik

Injeksi sampel untuk dianalisis dengan metoda HPLC merupakan tahap yang penting, karena meskipun kolom telah memadai, hasil kromatogram yang ditampilkan tidak akan memadai kalau injeksi sampel tidak dilakukan dengan tepat. Keadaan ini akan menjadi suatu keharusan apabila yang dituju analisis kuantitatif dengan HPLC. Oleh sebab itu perlu diketahui berbagai sistem injektor HPLC yang umum dipakai.

Ada tiga macam sistem injektor pada HPLC yaitu:

  1. Injektor dengan memakai diafragma (Septum injector)
  2. Injektor tanpa memakai diafragma (Septumless injection system)
  3. Injektor dengan pipa dosis (Loop valve)
  4. Sistem injeksi otomatis (Autoinjector)

 

Gambar 6.13   Sistem injeksi dengan diafragma (septum)

Keuntungan menggunakan injektor memakai diafragma adalah:

  1. Pengambilan volume sampel yang akan diinjeksikan dapat dipilih sesuai dengan keinginan
  2. Sederhana dan harganya murah
  3. Dapat diinjeksi dengan volume sampel yang sedikit
  4. Merupakan sistem injeksi yang paling banyak digunakan

Gambar 6.14    Sistem injeksi dengan diafragma (septum)

Keuntungan menggunakan siatem injeksi tanpa diafragma (Septumless injection system) adalah dapat mencegah tersumbatnya jarum injektor karena pengaruh dari partikel diafragma(septum) dimana hal ini akan dapat menyumbat kolom HPLC. Sistem injeksi dengan menggunakan pipa dosis pada saat ini merupakan pilihan yang sangat tepat pada HPLC, khususnya untuk analisis kuantitatif. Sebab ketetapan jumlah volume sampel yang diinjeksi akan sangat penting untuk analisis kuantitatif  dan keadaan ini hanya bisa didapatkan dengan injektor sistem pipa dosis (loop valve). Prinsip kerja pipa dosis adalah ”Load Inject”, dimana pada saat awal, sampel akan masuk memenuhi volume loop terlebih dahulu dan akhirnya segera masuk menuju kolom pemisahan dengan volume yang tidak berkurang sedikitpun.

Gambar 6.15   Pipa dosis

Pada Gambar 6.15 diatas terdapat 6 buah klep pengatur pada 6 posisi. Pada saat sampel diinjeksikan maka sampel tidak langsung masuk kedalam kolom, tetapi akan memenuhi pipa dosis (loop valve) terlebih dahulu. Pipa dosis ini mempunyai ukuran volume yang bermacam-macam dari 5mL – 2000mL. Volume sampel yang diinjeksikan sebaiknya lima kali dari volume pipa dosisnya. Bila pipa dosisnya berukuran 20mL maka volume sampel yang diinjeksikan adalah 100mL. Kelebihan sampel yang mengisi loop akan dikeluarkan ke penampung. Pada saat posisi inject maka rotor penggerak akan berputar sehingga injektor tidak lagi berhubungan dengan pipa dosis. Namun, pipa dosis yang terisi penuh oleh sampel yang berhubungan dengan kolom sehingga sampel akan menuju kolom dengan bantuan fase geraknya.

Gambar 6.16  Sistem injeksi otomatis (autoinjector)

Autoinjektor mempunyai cara kerja yang hampir sama dengan cara kerja sistem injeksi dengan menggunakan pipa dosis atau sistem injeksi tanpa diafragma. Keuntungan sistem ini adalah volume yang diinjeksikan tidak akan berkurang selama proses injeksi dan mampu memisahkan sampel-sampel dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat.

6.3.2  Kolom HPLC

Kolom pada HPLC merupakan bagian yang sangat penting, sebab pemisahan komponen-komponen sampel yang akan terjadi didalam kolomn. Oleh karena itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu

-       Pemilihan kolom yang sesuai

-       Pemeliharaan kolom

-       Uji terhadap spesifikasi kolom (walaupun kolom tersebut merupakan kolom yang siap dipakai).

Kolom HPLC yang merupakan kunci penentu keberhasilan  pemisahan komponen-komponen sampel serta hasil akhir analisis dibuat dalam bentuk lurus (tidak dibuat melingkar sebagaimana kolom paga kromatografi gas maupun bentuk U). Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi kolom, sehingga mendapatkan harga H minimal.

Gambar 6.17   Penampang kolom kovensional

Ditinjau dari ukurannya (panjang dan diameternya) kolom HPLC dibagi atas sebagaimana terlihat pada Tabel 6.1

Tabel 6.1. Macam-macam kolom HPLC

Jenis kolom

Panjang (cm)

Diameter (mm)

dp (mm)

Konvensional

10 -20

4,5

10

Microbore

10

2,4

5

High Speed

6

4,6

3

Keterangan:

dp = diameter rata-rata fasa diam

Keuntungan :

Kolom dibuat dengan diameter internal sangat kecil (kolom mikro) dengan tujuan agar:

-       Kepekaan menjadi lebih teliti

-       Menghambat larutan pengembang

-       Memperluas kemampuan detektor

-       Sampel yang dianalisis sedikit

Kolom dibuat pendek (high speed) agar:

-       Menghasilkan resolusi yang baik

-       Memperkecil harga diameter rata-rata partikel fasa diam

-       Waktu tR, TM singkat (mengurangi pengaruh dari bagian instrumentasi HPLC terhadap hasil pemisahan)

Kerugian :

Kolom mikro / high speed dengan dp = 5 dan dp = 3 harus diperhatikan lebih teliti dibandingkan dengan kolom konvensional dp = 10, sebab sela-sela partikel lebih mudah tertutup oleh kotoran. Jadi harus seringkali dicuci dan kemurnian larutan pengembang harus dijaga.

Gambar 6.18   Kolom mikro (microbore)

Gambar 6.19   Kolom hight speed

  • Fasa Diam Kolom

Dilihat dari jenis fasa diam dan fasa geraknya, maka kolom HPLC dibedakan atas :

Kolom Fasa Normal

Kromatografi dengan kolom konvensional mempunyai fasa diam normal yang bersifat polar, misalnya silika gel. Sedangkan fasa geraknya bersifat non polar, sehingga analit yang akan dipisahkan adalah analit yang bersifat non polar.

 

Gambar 6.20   Kolom fasa normal

 

Kolom Fasa Terbalik (Reversed Phase Column)

Kolom fasa terbalik adalah kolom yang fasa diamnya bersifat non polar, sedangkan fasa geraknya bersifat polar, kebalikan dari fasa normal. Kromatografi fasa terbalik sebenarnya sudah lama dipikirkan oleh Boscott (1947), tetapi baru pada tahun 1948 melalui suatu kolom yang berisi bahan karet (non polar) dan dielusi dengan bahan pengembang campur yang polar yaitu campuran air-metanol-aseton.

Untuk mendapatkan fasa yang non polar silika gel direaksikan dengan klorosilan Cl-Si(R)n. Fasa diam yang non polar yang banyak dipakai adalah jenis C18, C8 dan C2. Reaksi terbentuknya fasa diam non polar (terbalik) adalah sebagai berikut:

Gambar 6.21  Reaksi preparasi kolom fasa terbalik

 

  • Sikat Molekuler

Kolom kromatografi fasa terbalik dapat dimisalkan sebagai sikat molekuler dimana rantai-rantai hidrocarbon merupakan bulu-bulu dari sikat tersebut. Hanya saja yang merupakan prinsip dalam hal ini adalah proses adsorpsi yang merupakan dasar dari mekanisme pemisahannya. Gambaran mekanisme adsorpsi pada fasa terbalik adalah sebagai berikut:

Gambar 6.22   Mekanisme adsorpsi kolom fasa terbalik

Keterangan gambar:

  1. Permukaan silika
  2. Rantai C18
  3. Molekul sampel

Ada pendapat lain  yang mengatakan bahwa mekanisme pemisahan pada kolom fasa terbalik adalah partisi, Namun sebagian besar berpendapat bahwa proses pemisahan pada fasa kolom terbalik adalah adsorpsi.

Keuntungan kolom fasa terbalik:

-       Senyawa polar polar akan lebih baik pemisahannya pada kolom fasa terbalik.

-       Senyawa yang mudah terionkan (ionik) yang tidak terpisahkan pada fasa kolom normal akan dapat terpisahkan pada kolom fase terbalik

-       Dengan kolom fase terbalik air dapat digunakan sebagia salah satu komponen pada pelarut pengembang campur.

  • Oven Column

Kolom HPLC diletakkan didalam oven untuk menjaga suhu kolom supaya stabil (tetap sesuai dengan program). Hal ini adalah sangat penting untuk  memperoleh stabilitas dan keterandalan dalam analisis dengan metoda HPLC. Oven Column yang banyak dipakai adalah dengan sirkulasi udara panas yang bertekanan. Oven column dapat memuat kolom HPLC sampai 4 kolom sekaligus dengan suhu kerja sampai 99 oC.

  • Oven Column

Sistem elusi isokratik mempunyai kelemahan, yaitu:

-       Pada awal elusi menghasilkan resolusi yang kurang baik

-       Pada elusi yang lebih lanjut menghasilkan penambahan  lebar puncak dengan penurunan tinggi puncak

-       Membutuhkan waktu analisis yang lama.

Gambar 6.23   Kromatogram yang dihasilkan oleh sistem elusi isokratik

Penggunakan sistem elusi gradien memberikan beberapa kelebihan dibandingkan dengan sistem elusi isokratik, yaitu:

-       Memungkinkan untuk menghasilkan kromatogram yang ideal

-       Menghasilkan resolusi yang optimum antar puncak

-       Menghasilkan lebar puncak yang seragam untuk semua puncak

-       Membutuhkan waktu analisis yang lebih pendek.

Gambar 6.24   Kromatogram yang dihasilkan oleh sistem elusi gradien

 

Ada dua macam sistem elusi gradien, yaitu:

  1. Sistem elusi tekanan tinggi

Dalam sistem ini pencampuran larutan pengembang dilakukan  dengan memakai pompa-pompa bertekanan tinggi dari masing-masing botol, setelah itu langsung dielusikan ke dalam kolom.

  1. Sistem elusi tekanan rendah

Dalam sistem ini pencampuran larutan pengembang  dilakukan dengan memakai pompa-pompa bertekanan rendah dari masing-masing botol, kemudian setelah bercampur dielusikan dengan pompa bertekanan tinggi ke dalam kolom.

Gambar 6.25   Sistem elusi gradien tekanan tinggi

 

Gambar 6.26   Sistem elusi gradien tekanan rendah

Keuntungan pompa tekanan rendah dalam menuju kesalahan analisis metode HPLC adalah :

  1. Terjadi penurunan volume pulsa, bukan menimbulkan penurunan frekuensi pulsa
  2. Memberikan kecepatan alir fase mobil yang stabil
  3. Menyebabkan sistem inlet aktif
  4. Memberikan aliran gradien-geometrik yang terulangkan dan seketika.

Gambar 6.27 Pengaruh penurunan stroke volume

 

Gambar 6.28    Aliran gradien linier pompa tekanan rendah

Penampilan kromatogram dua dan tiga demensi

Penampilan kromatogram tiga demensi hanya mungkin dilakukan oleh HPLC yang memakai detertor Photodiode array. Keuntungan penampilan  kromatogram tiga demensi akan sangat membantu untuk menentukan kemurnian puncak kromatogram.

 

Gambar 6.29   Kromatogram tiga demensi dari hasil pemisahan campuran Parasetamol, Profifenason dan Koffein

Gambar 6.30    Kromatogram tiga demensi potongan melintang

6.4      Pelaksanaan Analisis Dengan HPLC

6.4.1  Pemilihan Pelarut Pengembang HPLC

Secara umum pelarut pengembang yang dipakai adalah metanol, acetonitril dan HTF (Tetrahidrofuran). Dalam memilih pelarut pengembang HPLC perlu diperhatikan : kekentalan (viskositas), daya mampat (kompresibilitas), indeks bias, UV cut-of, tekanan uap, titik bakar, nilai ambang batas, indeks kepolaran.

6.4.2  Pemilihan Kolom

Ada beberapa cara yang dapat digunakan yaitu :

  • Dengan trial and error  bila tersedia banyak pilihan.
  • Menyamakan kolom yang digunakan untuk analit lain yang serupa.
  • Mendapatkan informasi dari pustaka

Selain itu diperlukan parameter kolom seperti : kecepatan, kapasitas, daya pisah, panjang kolom, tekanan kolom, parameter pendukung, struktur molekul analit, padatan pendukung dan lapisan film.

6.4.3  Penggunaan Kolom

Sebelum digunakan sebaiknya kolom dialiri dengan pelarut pengembang yang kuat (metanol, eter, heksana), apabila sedang tidak digunakan kolom direndam dalam pelarut inert yang tidak mudah menguap (metanol, metanol-air, air suling).

6.4.4  Penyiapan Sampel

Sample diusahakan untuk dilarutkan dalam pelarut yang komposisinya sama dengan komposisi fase gerak yang dipakai.

Gambar 6.31 Kromatogram hasil pengukuran sample yang dilarutkan dalam komposis yang sama antara pelarut dan fase gerak.

Gambar 6.32 Kromatogram hasil pengukuran sample yang dilarutkan dalam komposisi yang berbeda antara pelarut dan fase gerak.

6.5      Metode Analisis HPLC

HPLC dapat digunakan untuk analisis kualitatif dan kuantitatif terhadap sampel yang diamati.

6.5.1  Analisis Kualitatif

Mengacu pada :

  • Waktu tambat puncak kromatogram analit yang dianalisis
  • Pemurnian zat yang dianalisis dan melanjutkan dengan teknis yang lain
  • Perbandingan dengan library yang ada perangkat lunak komputernya

Kendala yang dihadapi :

  • Pemakaian waktu tambat
  • Analisis kualitatif pasca kolom
  • Analisis dengan detector Photodiode array
  • Analisis dengan teknik terpadu.

6.5.2  Analisis Kuantitatif

Dapat dilakukan secara sepihak, artinya tanpa mengacu pada zat standar acuan, atau dapat pula dilakukan perbandingan dengan zat standar acuan sebagai standar internal dan eksternal. Ada dua cara perhitungan kuantitas analit : dengan mengukur tinggi puncak dan menentukan area puncak kromatogram.

Mengukur dengan tinggi puncak kromatogram dapat dilakukan lebih sederhana dan cepat akan tetapi puncak-puncak kromatogram yang besar banyak informasi kadar yang tidak terdeteksi. Untuk area puncak kromatogram ada empat cara yaitu : normalisasi area, normalisasi area : normalisasi area dengan faktor respons detektor, standarisasi dengan standar eksternal dan penambahan standar internal.

6.6     Gangguan Pada HPLC Dan Cara Penanganannya

Gangguan yang terjadi dibedakan menjadi dua yaitu : gangguan sistem garis dasar dan gangguan bentuk puncak. Gangguan sistem garis dasar (baseline) yang mungkin timbul antara lain : noise (derau), drift (melayang), spiking (berpaku), wander (menyimpang) dan shift (bergeser).

Gambar 6.33   Gangguan Sistem Garis Dasar

 

Sedangkan gangguan bentuk puncak (peak shape) yang mungkin timbul yaitu :Puncak lebih kecil dari yang diharapkan, Tailing (puncak), Fronting (puncak mengandung), Puncak berubah bentuk (cigar top, round top, flat top), Puncak membelah (split), Puncak negatif.

Gambar 6.34   Gangguan bentuk puncak

Gambar 6.35   Puncak-puncak hantu (ghost peaks)

6.7      Contoh Analisa

Menghitung kadar cafein dalam kratingdeng

  • Area sampel dan area standar didapat dari hasil Running komputer, area cafein = 587,7 dan area kratingdeng = 639,6
    • Membuat cafein standar : 100 ppm cafein dalam 10 ml aquabides,  100 ppm/10 ml = (100 mg/l)/10 ml = (100 mg/1000 ml)/10 ml = 1 mg,    ditimbang 1 mg cafein standar dilarutkan dalam 100 ml aquabides,   kons. cafein standar = 1 mg/100 ml = 10 mg/l = 10 ppm
    • Sampel (kratingdeng) yang diambil 10 ml kemudian diencerkan dalam 100 ml aquabides, sehingga volume total = 100 ml

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Atau dengan cara :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika dilakukan injeksi 5 sampel, jika tidak memenuhi kedekatan hasil (r)

maka dilakukan injeksi ulang pada sampel daerah yang tidak memenuhi r. r maksimum = 0,999 atau r minimum = 0,8 menunjukkan kwalitas kolom

Regresi linier standar

Gambar 6.36    Gambar kurva kalibrasi

Dari regresi linier standar diperoleh persamaan garis linear dan  r,

Area sampel dimasukkan dalam persamaan linear yang diperoleh dari regresi linier standar, sehingga diperoleh konsentrasi sampel.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6.8      Latihan Soal

Berilah tanda silang pada huruf B jika pernyataan di bawah ini Benar dan huruf S jika pernyataan Salah

1). B – S  Perkembangan HPLC berawal dari proses pemisahan yang berazaskan absorpsi dari partisi ke arah yang lebih luas yaitu proses pemisahan yang berazaskan afinitas, filtrasi gel dan ion yang berpasangan, akan tetapi proses pemisahannya tetap dilaksanakan didalam kolom disertai pemakaian pelarut pengembang dengan tekanan tinggi.

2). B – S       Ruang lingkup Penggunaan HPLC sering tumpang tindih dengan penggunaan Kromatografi Gas. Secara umum, biaya yang digunakan untuk keperluan HPLC lebih kecil dari pada kromatografi gas, sehingga seolah-olah kromatografi gas akan lebih banyak dari pada  HPLC.

3). B – S       Parameter-parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu kromatogram, yaitu : waktu tambat, faktor kapasitas, jarak setara plat teori, resolusi dan faktor simetri.

4). B – S       JSPT adalah panjang kolom kromatografi (mm) yang diperlukan sampai terjadinya satu kali kesetimbangan distribusi dinamis molekul analit dalam fase gerak saja.

5). B – S       Dalam sistem ini pencampuran larutan pengembang  dilakukan dengan memakai pompa-pompa bertekanan rendah dari masing-masing botol, kemudian setelah bercampur dielusikan dengan pompa bertekanan tinggi ke dalam kolom.

6). B – S       Oven Column yang banyak dipakai adalah dengan sirkulasi udara panas yang bertekanan, Oven column dapat memuat kolom HPLC sampai 4 kolom sekaligus dengan suhu kerja sampai 100 oC.

7). B – S       Injeksi sampel untuk dianalisis dengan metoda HPLC merupakan tahap yang penting, karena meskipun kolom telah memadai, hasil kromatogram yang ditampilkan tidak akan memadai kalau injeksi sampel tidak dilakukan dengan tepat, keadaan ini akan menjadi suatu keharusan apabila yang dituju analisis kuantitatif dengan HPLC

8). B – S       Untuk mendapatkan fasa yang non polar silika gel direaksikan dengan klorosilan Cl-Si(R)n, fasa diam yang polar yang banyak dipakai adalah jenis C18, C8 dan C2.

9). B – S       Pada umumnya efisiensi kolom HPLC meningkat dengan semakin kecilnya ukuran partikel yang ada didalam kolom, kolom fasa terbalik (RP) yang menggunakan silika mempunyai 50000 pelat/meter bila dikemas dengan menggunakan partikel yang berukuran 5 mm.

10). B – S     Kesetimbangan analit didalam fasa gerak dan fasa diam merupakan suatu kesetimbangan yang dinamis, artinya fraksi waktu analit berada dalam fasa gerak setara terhadap fraksi jumlah analit yang berada di dalam fasa diam.

Lingkarilah a, b, c, d pada jawaban yang saudara anggap paling benar.

1).  Kromatografi dengan kolom konvensional mempunyai fasa diam normal yang bersifat polar, misalnya silika gel. Sedangkan fasa geraknya bersifat non polar, sehingga analit yang akan dipisahkan adalah analit yang bersifat non polar: a. non polar, b. polar, c. bi-polar, d. mono-polar.

2).  Untuk mendapatkan harga Hmin dan mopt, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan selama pelaksanaan HPLC, yaitu: a. Suhu kolom diatur supaya berubah,  b. Efek difusi diusahakan sekecil mungkin, c. Laju aliran fasa diam harus konstan, d. faktor lain yang mengganggu keseimbangan desorpsi.

3). Injeksi sampel untuk dianalisis dengan metoda HPLC merupakan tahap yang penting, karena meskipun kolom telah memadai, hasil kromatogram yang ditampilkan tidak akan memadai kalau injeksi sampel tidak dilakukan dengan tepat, oleh sebab itu perlu diketahui berbagai sistem injektor HPLC yang umum dipakai, ada tiga macam sistem injektor pada HPLC yaitu: a. Injektor dengan memakai multi-fragma, injektor dengan pipa dosis, sistem injeksi otomatis, b. Injektor dengan memakai diafragma, injektor dengan pipa dosis, sistem injeksi non-otomatis, c. Injektor dengan memakai diafragma, injektor dengan pipa dosis, sistem injeksi otomatis d. Injektor dengan memakai diafragma, injektor dengan pipa dosis, sistem injeksi non-otomatis.

4). Keuntungan kolom fasa terbalik adalah: a. Dengan kolom fase terbalik acetonitril dapat digunakan sebagia salah satu komponen pada pelarut pengembang campur; b. Senyawa non-polar akan lebih baik pemisahannya pada kolom fasa terbalik, c. Senyawa yang mudah terionkan (ionik) yang tidak terpisahkan pada fasa kolom tidak normal akan dapat terpisahkan pada kolom fase terbalik, d. Dengan kolom fase terbalik air dapat digunakan sebagia salah satu komponen pada pelarut pengembang campur.

5). Kalau analisa dengan HPLC dapat dilaksanakan dengan baik, maka dapat dikatakan derajatnya sama dengan GLC (Kromatografi Gas Cair) yang memakai kolom kapiler, HPLC memiliki beberapa keuntungan seperti: a. Dapat dilakukan pada suhu kamar, b. Bahan dan pelarut pengembang dapat digunakan berkali-kali, c. Detector HPLC tidak dapat divariasi dan sedikit jenisnya, d. Waktu analisis pada umumnya lama.

             

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 Ahuja, S. Trace and Ultratrace Analysis by HPLC, John Wiley &Sons Inc., New York, 1996.

Adamovics, J. A. Regulatory Consideration for Chromatografer, In : Adamovics, J. A. (ed) Chromatographic analysis of Pharmaceuticals, Marcel Dekker 1990, pp. 3-21.

Brink, O.G., and Flink, R.J., 1979, ”Algemene Instrumentekennis”, edisi terjemahan Indonesia oleh Sacri, S., 1984, ”Dasar-Dasar Ilmu Instrumentasi”,pp.183-223, Binacipta IKAPI.

Bulcks, A. R., Dolg, M.V., Jeal, S.C., Land, G.S.,McDowall, R.D., Journal of Pharmaceutical Biomedical Analysis 1990, 8: 629-637.

Burrow, J.L. & Watson, K,V., Journal of Pharmaceutical Biomedical Analysis 1990, 12: 523-531.

Carr, G.P., Wahllch, J.C., Journal of Pharmaceutical Biomedical Analysis 1990, 8: 612-618.

CATS, Camag TLC soft ware version 3.15, 1993; and 3.16, 1994, 3.17 (1995), Basel, Swiss.

ChromStar, Chromatography data and control system, Bruker Analytik GMBH, 1994.

Cheng H and R.R. Gadde, Absorbance Ratio Plot HPLC, Some Soft ware Problems and Remedies, J. Chrom., 23, 1985, 227-230.

Dranen, A. and L. Huber, Application of UV-Vis Spectral Libraries in HPLC, Hewlett-Packard, Amsterdam, 1987.

Ewing, G.W., 1975, ”Instrumental Methodes of Chemical Analysis”, 4th ed.,pp.148-162, McGraw-Hill Kogakhusya, Ltd.

Fessenden, R and Fesenden J., 1990, ”Organic Chemistry”, thirth edition, edisi terjemahan Indonesia oleh Hadiyana., 1994, ”Kimia Organik”, jilid I ed 3., pp.310-323,Erlangga, Jakarta.

Muhammad Mulja, dan Kosasih Setia darma, Raslin Rasyid, “Analisis Perbandingan Testosteron dan Estradianol dengan metoda Densitometri di dalam plasma dan urine, Disertasi, ITB, 1990.

Mulja, M. dan Suharman, 1995, “Analisis Instrumental”, ed.1, Airlangga University Press, Surabaya.

Operator’s Manual Ver 3.74, BUCK SCIENTIFIC 210VGP Atomic Absorption Spectrophotometer.

Yuwono M., Validierta Fluorldbestimmung in verschledenen Matrizes mittlels lonensensitiver Elektroden (ISE) and Gas Chromatographie (GC), Dissertation Wurzburg Germany, 1998.

TENTANG PENULIS

 

Ni Ketut Sari, kini menjadi dosen tetap (Lektor Kepala) di Jurusan Teknik Kimia Kemudian   menyelesaikan   Program Sarjana (S1)  dengan gelar Sarjana Teknik (Insinyur) Kimia di Universitas Pembangunan  Nasional  “Veteran”  Jawa  Timur    pada tahun  1990. Kemudian   menyelesaikan   Program Pascasarjana (S2) Program Studi Teknik Kimia dengan gelar Magister Teknik (MT) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada tahun 2001.

Kemudian   menyelesaikan   Program Doktor (S3) Program Studi Teknik Kimia dengan gelar Doktor Teknik Kimia (Dr) di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya pada tahun 2007.

Sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) Departemen Pertahanan Republik Indonesia sejak tahun 1992 hingga sekarang. Pernah menjabat sebagai Kasie Laboratorium Instrumentasi Teknik Kimia pada tahun 2001 sampai tahun 2009.

Buku yang pernah ditulis adalah “Simulasi Sistem Biner Etanol-Air, Aseton-n-Butanol, Aseton-Etanol, Etanol-n-Butanol Dengan Distilasi Batch Sederhana “, Penerbit Mitra Alam Sejati, ISBN:979-3455-87-X, Surabaya, Tahun 2006. “Simulasi Pemisahan Multi Komponen Yng Berpotensi Membentuk Campuran Azeotrop Heterogen (Butanol-Air) Dengan Berbagai Harga Refluk Ratio”, Penerbit Mitra Alam Sejati, ISBN:979-3455-68-X, Surabaya, Tahun 2006. “Simulasi Sistem Terner Aseton-n-Butanol-Etanol Dengan Distilasi Batch Sederhana”, Penerbit Mitra Alam Sejati, ISBN:979-3455-88-8, Surabaya, Tahun 2007. “Penentuan Peta Kurva Residu Sistem Terner Aseton-n-Butanol-Etanol Dengan Distilasi Batch Sederhana”, Penerbit Mitra Alam Sejati, ISBN:979-3455-89-6, Surabaya, Tahun 2007. “Simulasi Pengaruh Tekanan Terhadap Kinerja Kolom Distilasi Pada Pemisahan CampuranAseton-Etanol-Air-n-Butanol”, Penerbit ASRI press, ISBN:978-979-1483-30-8, Sidoarjo, Jawa Timur, Tahun 2009.

Selain buku-buku tersebut diatas, penulis pernah mendapatkan  dana  penelitian Hibah Bersaing tahun 2009 dan tahun 2010 dari Direktorat Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DP2M) Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Selain karya tulis ilmiah yang berupa hasil penelitian, penulis juga menulis makalah ilmiah yang disajikan dalam forum ilmiah secara Nasional dan Internasional, Jurnal ilmiah maupun dalam Jurnal Terakreditasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: